• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kebiasaan Haji Orang Banjar

kabah

A.  PENDAHULUAN

Bangsa Banjar ialah penduduk asli sebagian wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kota Baru.[1] Bangsa Banjar sering diidentikkan dengan Islam, sehingga pada kasus orang dayak yang memeluk agama Islam dikatakan sebagai “menjadi orang Banjar”.[2]

Dalam kenyataannya memang boleh dikatakan “semua” orang Banjar menganut agama Islam, dan mereka relatif taat menjalankan agamanya,[3] termasuk menjalankan Rukun Islam yang kelima yaitu Haji. Kegairahan orang Banjar untuk menunaikan ibadah haji tinggi sekali. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah orang yang naik Haji di daerah Kalimantan Selatan yang sebagain besar penduduknya adalah orang Banjar.

Penghormatan orang Banjar kepada mereka yang naik Haji sangat tinggi pula, dan  relatif tidak berkurang seiring dengan banyaknya orang yang naik haji. Pergi haji bagi masyarakat Banjar merupakan hal yang sangat diidam-idamkan, dengan adanya keinginan itu mereka rajin menabung untuk biaya berangkat haji.

Orang banjar yang akan naik haji akan dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula ketika kembali, begitu juga keberangkatan haji kedua atau ketiga kalinya tetap diupacarakan seperti halnya ketika pergi pertama kali.

B. GAIRAH NAIK HAJI ORANG BANJAR

Kegairahan orang Banjar untuk menunaikan ibadah haji tinggi sekali. Intensitas orang pergi haji mencapai angka 125 orang per 100.000 penduduk, dan urutan ke empat tertinggi dibandingkan dengan residentie-residentie lainnya. Insentitas tetap tinggi pada tahun 1975 sampai tahun 1980, yaitu berturut-turut 123, 42, 57, 203, 126, dan 225 orang per 100.000 penduduk Kal-Sel.[4]. Pada tahun 2007 ini pun jemaah Haji Kalimantan Selatan tetap tinggi, kalau saja Kuato tidak di batasi.

Untuk musim haji tahun 2007, Kalsel mendapat jatah (kuota) haji 3.641 orang. Prof Fahmi Arief Kakanwil Depag kalsel, mengatakan, jumlah yang masuk dalam daftar tunggu mencapai 16.500 orang. “Jumlah itu baru habis pada 2011.[5]

Meskipun jumlah para haji meningkat akhir-akhir ini. Tetapi penghormatan kepada mereka relatif tidak berkurang, pergi haji bagi masyarakat Banjar merupakan hal yang sangat diidam-idamkan, dengan adanya keinginan itu mereka rajin menabung untuk biaya berngkat haji. Orang yang sudah bergelar haji akan mendapat penghormatan yang lebih dari yang tidak, gelar haji sepertinya ada pengaruh tersendiri bagi masyarakat Banjar. Jika mereka memang alim sebelumnya, penghormatan orang kepadanya lebih meningkat sekembalinya dari Makkah. Jika mereka sudah agak berumur, mereka biasa dipanggil sebagai tuan (pa tuan, untuk pria dan ma tuan, untuk wanita) atau haji (pa haji atau ma haji). Ketika mereka akan pergi ke Mekkah, mereka akan dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula ketika kembali.[6]

Kegairahan untuk melakukan ibadah haji untuk kedua kalinya tetap besar, keberangkatan haji kedua atau ketiga kalinya tetap diupacarakan seperti halnya ketika pergi pertama kali. Bagi orang-orang Banjar mempunyai seorang kerabat yang bermukim di Makkah, apapun juga pekerjaannya, merupakan kebanggaan tersendiri. Bayangan orang selalulah bermukim di Makkah berarti mengaji, dan mereka yang kembali biasanya mendapat penghormatan sebagai ulama, meskipun lama kelamaan mungkin penghormatan itu merosot. Namun kenyataannya mereka pernah bermukim di Makkah tetap menyebabkan mereka dianggap lebih dari orang lainnya.[7]

C. RITUAL HAJI ORANG BANJAR

Ketika akan pergi ke Mekkah, Orang Banjar yang akan menunaikan ibadah Haji akan dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula ketika kembali. Mereka melakukan berbagai kegiatan sunnat yang dianjurkan ketika bepergian, seperti sholat sunnat dua rakaat menjelang berangkat, membaca do’a ketika berada diatas kendaraan yang dianjurkan dalam kagiatan bepergian apapun dan tidak terbatas pada perjalanan haji dan umrah saja. Perjalanan haji dianggap kegiatan yang penuh resiko, dan kegiatan-kegiatan sunnat yang dianjurkan dianggap antara lain berfungsi untuk menghindarkan resiko tersebut. Resiko yang dimaksud konon bahaya yang dihadapi selama dalam perjalanan dan godaan-godaan syaitan yang dapat menyebabkan ibadah yang dilakukan berkurang atau hilang nilainya.[8]

Pergi merantau untuk menunaikan ibadah haji dan saat itu utamanya pergi haji, biasanya dilepas dengan berbagai upacara, yang berkelanjutan sampai yang bersangkutan kembali. Maksud dari upacara-upacara ini ialah untuk keselamatan yang bepergian selama dalam perjalanan sampai kembali, jaminan bahwa ia akan bertemu kembali dengan anggota kerabat dekat yang melepasnya bepergian. Peramalan dan harapan agar dihormati orang selama dirantau, dan pemberian restu saat berangkat dan saat tiba kembali.[9]

Berikut ini akan digambarkan berturut-turut kegiatan upacara yang dilakukan menjelang kepergian seorang warga untuk menunaikan ibadah haji. Upacara pelepasan pada saat berangkat, selamtan-selamatan selama masih dirantau yang dilaksanakan oleh kerabat dekat yang tinggal dan upacara penerimaan kembali anggota kerabat yang kembali dari tanah suci.

  1. 1. Ritual Menjelang Keberangkatan

Pada malam menjelang berangkat diadakan selamatan dengan mengundang tetangga-tetangga dekat, kerabat dekat, dan seorang atau beberapa orang alim di kampung itu, yang akan memimpin acara berdo’a dan bacaan-bacaan yang dibaca secara bersama-sama. Di antarannya:

1.   Membaca Surah Yasiin,[10]

2.   Sholawat Kamilah[11] sebanyak 27 kali,

3.   Fatihah empat[12] tiga kali,

4.   Ayat Kursi,[13] dan diakhiri dengan

5.   membaca Surah Fatihah

Ada pula yang diisi dengan:

  1. Qasidah burdah,
  2. surah Yasiin,
  3. Fatihah empat, dan
  4. salawat Munjiah[14]

Ritual sebagaimana tersebut di atas diakhiri dengan do’a Halarat dan makan bersama. Saji-saji yang harus disediakan adalah:

  1. Nasi ketan dengan inti sekurang-kurangnya satu gantang,[15]
  2. Cucur[16],
  3. Tapai Ketan, dan
  4. Ketupat Bangsul,[17]

Saji-saji ini biasanya harus dibawa ditengah majlis sebelum dibacakan do’a halarat, yang sebenarnya dihidangkan untuk tamu-tamu ialah biasanya nasi dengan lauk pauknya ditambah dengan hidangan dari saji-saji tadi. [18]

Di Rangas dan Anduhum selamatan ini juga dilakukan sesudah sembahyang isya menjelang yang bersangkutan meninggalkan rumahnya siang berikutnya. Acaranya hanyalah membaca surah yasiin bersama dan do’a selamat, dan diakhiri dengan makan bersama, tanpa ada hidangan berupa saji seperti halnya di Dalam Pagar.

Selain daripada itu, di Dalam Pagar dan Martapura umumnya ada kebiasaan memintakan restu berupa sembahyang hajat untuk keselamatan yang berangkat kepada tokoh-tokoh ulama tertentu, baik yang berada di kampung sendiri ataupun yang agak jauh rumahnya. Besok paginya, beberapa saat sebelum meninggalkan rumah, juga diadakan selamatan, yang akan berangkat haji duduk dekat tawing halat,[19] dan di Dalam Pagar biasanya di atas lapik.[20] Acara dimulai dengan membaca: surah Yasiin bersama, kemudian do’a selamat atau
do,a halarat, kadang sebelum do’a dibaca pula sholawat kamilah bersama.

Di Dalam Pagar hidangan yang pokok ialah nasi ketan (dengan inti). Sedangkan di Rangas konon tidak ada hidangan wajib yang spesifik; disini sering dihidangkan kue-kue yang dibeli dari pasar. Di Dalam Pagar acara dilanjutkan dengan menepung tawari[21] yang akan berangkat oleh kerabat dekatnya yang akan tinggal dan para hadirin tertentu, lalu kemudian dihidangkan kepadanya saji berupa minyak kelapa, gula pasir, kacang hijau (mentah), garam dan air putih, masing-masing dalam sebuah tempat sendiri-sendiri dan sebuah piring berisi sebuah kelapa (sekerat), gula merah dan garam, kesemua saji ini biasanya diletakkan di dalam sebuah talam, yang bersangkutan diminta untuk memakan (dalam bahasa setempat dikatakan sebagai mengutup, menggigit dengan gigi seri) sedikit daripada yang dihidangkan dalam piring, dan apa yang lebih dahulu diambilnya konon meramalkan, atau mungkin lebih baik merupakan do’a dan harapan tentang perlakuan yang akan diterimanya selama dirantau.

Jika ia mengambil garam untuk dicicipinya, maka segala perkataannya akan diperhatikan orang dan ia akan memperoleh penghargaan di sana. Bila kelapa yang diambilnya konon segala perkataannya akan terasa enak didengar orang, dan bila yang diambilnya gula merah, segala yang dikatakannya atau diperbuatnya dirasakan manis atau sedap oleh orang, sebaliknya bila ia tidak mengambil salah satunya, konon pertanda segala perlakuan yang telah disebutkan tadi tidak akan diperolehnya dinegeri orang.[22]

Di Rangas dan Anduhum tidak diketahui adanya acara menepung tawari adanya saji berupa lambang kemakmuran, dan acara mengutup saji. Seperti yang terjadi di Dalam Pagar. Di sana acara langsung dilanjutkan dengan mengucapkan kalimat syahadat, yang dilakukan oleh si calon haji dan salah seorang kerabat dekatnya (orang tua, anak, saudara, suami, istri), yang akan ditinggalkan. Kerabat yang akan ditinggal mengucap kalimat syahadat yang diiringi oleh yang akan pergi dengan mengucapkan kalimat kedua. Konon karena kedua kalimat syahadat melambangkan Allah (kalimat pertama) dan Muhammad (kalimat kedua), yang adalah tidak akan terpisah selama-lamanya, maka yang berangkat (dilambangkan sebagai Muhammad) tidak akan meninggal dunia sebelum bertemu kembalidengan yang ditinggalkan (dilambangkan sebagai Allah).

Di Rangas segera, setelah membaca dua kalimat syahadat dibacakan adzan, lalu yang bersangkutan membaca do’a dan langsung berdiri dan keluar dari rumahnya, diiringi oleh orang banyak. Pada saat meninggalkan pintu salah seorang yang alim membacakan sholawat dan menghamburkan beras kuning yang di sahuti berasmai ramai. Tatkala duduk di atas kendaraan yang bersangkutan membaca do’a pula. Do’a yang di baca ketika akan turun dari rumah bsrisi penyerahan diri pada tuhan tentang kejadian kejadian yang akan dating, dan yang dibaca ketika dalam kendaraan pada pokoknya berisi pujian kepada Tuhan yang memungkinkan manusia menggunakan fasilitas angkutan yang mereka gunakan.[23]

2. Ritual Selama Masih Dirantau.

Sejak saat berangkat setiap malam Jum`at kerabat yang tinggal menyelenggarakan selamatan untuk keselamatan yang pergi. Di Rangas acaranya di mulai sejak senja, yaitu sembahyang magrib bersama, sembahyang hajat bersama, membaca surah Yasin bersama, do’a, sembahyang isya bersama, dan di akhiri dengan makan malam bersama. Di Dalam Pagar demikian juga adanya, hanya acara sembahyang hajat diganti dengan membaca sholawat kamilah atau sholawat munjiah bersama, sebagian ada yang memulainya sesudah sembahyang Isya atau pada siang hari Jum`at setelah kembali dari mesjid. Khusus pada malam hari Arafah (malam tanggal 9 Dzulhijjah), diadakan pula kegiatan selamatan yang sering dimulai sesudah sembahyang isya. Kali ini undangannya lebih banyak dari biasanya, sedang acaranya sering sama saja seperti selamatan pada malam sebelum berangkat.

Di Dalam Pagar konon selamatan ini penting sekali, karena saji-saji dan bacaan-bacaan akan dirasakan akibatnya oleh kerabatnya di Makkah, yaitu mengurangi panasnya terik matahari di sana.

3. Ritual  Penyambutan

Seperti halnya pada waktu berangkat, pada waktu penjemputan juga ramai. Beberapa orang tetangga dan kerabat dekat sengaja menjemput kelapangan terbang dan kemudian bersama-sama menuju rumah. Di rumah diadakan persiapan-persiapan, yaitu membuat pintu gerbang (lawang sakiping)[24] yang dihiasi dengan rumbai-rumbai (biasanya) daun kelapa muda, dan memasang langit-langit dari kain putih mulai dari pintu rumah ke pintu gerbang. Orang haji yang baru tiba harus melalui pintu gerbang dan lewat di bawah langit-langit itu ketika menuju rumahnya. Di Rangas, orang pulang haji tidak langsung menuju rumah, melainkan pergi ziarah terlebih dahulu ke kuburan orang tua atau kerabat dekat lainnya, ada juga dalam kesempatan itu singgah dahulu kekuburan keramat tertentu. Di kuburan itu ia membaca surah yasiin. Di Dalam Pagar acara ziarah biasanya dilakukan setelah beberapa hari kemudian. Pada saat menaiki anak tangga atau memasuki pintu di bacakan sholawat dan dihamburkan beras kuning, seperti halnya ketika berangkat. Setelah menyalami hadirin, kadang-kadang disertai pelukan hangat, ia segera mengambil tempat duduk di atas lapik yang telah disiapkan di dekat tawing halat, lalu ada acara mengembalikan bacaan syahadat atau menyatukan kembali dua kalimat syahadat.

Di Rangas acaranya segera berakhir dengan do’a dan hidangan makanan kecil. Di Dalam pagar sebelum menyatukan kembali dua kalimat syahadat, kerabat yang ditinggalkan menepung tawari kerabatnya yang baru tiba, baru kemudian acara mempersatukan dua kalimat syahadat, lalu diakhiri dengan pembacaan do’a. hidangan yang teradat di kampung terakhir ini adalah nasi ketan dengan inti, kadang-kadang ditambah dengan hidangan lain. Berkenaan dengan pelukan hangat bagi atau dari seorang haji baru tampaknya mempunyai nilai tersendiri, berkat yang diperoleh sang saji biasanya memerlukan sekali menggunakan harum-haruman yang sengaja dibawanya dari negeri yang jauh itu. Pelukan-pelukan hangat ini juga diberikannya kepada tetangga-tetangganya di mesjid pada minggu-minggu pertama ia mengikuti sembahyang Jum`at.[25]

D.  ANALSIS

1. Terlalu Mementingkan  Ibadah Sunnat

Ibadah haji diwajibkan hanya sekali dalam seumur hidup, seterusnya adalah sunnat. Ada orang yang menunaikan ibadah haji berkali-kali, dan ia berniat bahwa haji yang ia tunaikan itu bukan kali yang terakhir. Artinya orang itu berupaya menegakkan yang sunnat, padahal banyak sekali kewajiban lain yang perlu ditegakkan seperti menggangkat sanak familinya dari lembah kebodohan dan Lumpur kemaksiatan.

Sekali berhaji diperlukan dana tidak kurang dari 30 juta rupiah[26]. dimana dana itu dapat digunakan untuk membiayai sekolah seorang anak terlantar barangkali dari TK sampai SMU, atau digunakan untuk mencetak buku-buku agama untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat muslim yang tertinggal di daerh-daerah terasing, atau membantu saudara kita umat islam lainnya yang berurai air mata di lembah kemiskinan dan kefakiran. Nabi Saw memperingatkan ; Kaadal faqru ayya-kuuna kufran; hampir-hampir kefakiran itu mengakibatkan kekufuran”.

Oleh karenanya mengangkat saudara kita muslim dari kancah penderitaan adalah suatu kewajiban yang harus kita laksanakan dalam hidup bermasyarakat. Nabi Saw bersabda : “Man qadhaa li akhikhil muslim haajatan kaana lahu minal ajri Kaman hajja wa’tamara; artinya : “Barangsiapa (orang muslim) yang menyelesaikan hajat / keperluan seseorang muslim lainnya, ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah”.

Terlalu mementingkan hal yang sunnat bisa dikatakankan menurutkan hawa nafsu yang tercela, karena hawa nafsu bukan saja pada hal-hal yang berakibat kem
aksiatan, tetapi juga pada hal-hal yang kita perkirakan “kebaikan”. Ibnu Atha’illah al-Askandari berkata : “tanda seseorang dikategorikan menuruti hawa nafsu ialah bersegeranya melaksanakan ketaatan bersifat sunnat, tetapi melalaikan kewajiban fardhu”.[27]

2. Haji Sebagai Lambang Kehormatan

Orang yang sudah bergelar haji akan mendapat penghormatan yang lebih dari yang tidak, gelar haji sepertinya ada pengaruh tersendiri bagi masyarakat Banjar. Jika mereka memang alim sebelumnya, penghormatan orang kepadanya lebih meningkat sekembalinya dari Makkah. Jika mereka sudah agak berumur, mereka biasa dipanggil sebagai tuan (pa tuan, untuk pria dan ma tuan, untuk wanita) atau haji (pa haji atau ma haji). Bagi orang-orang Banjar mempunyai seorang kerabat yang bermukim di Makkah, apapun juga pekerjaannya, merupakan kebanggaan tersendiri. Bayangan orang selalulah bermukim di Makkah berarti mengaji, dan mereka yang kembali biasanya mendapat penghormatan sebagai ulama, meskipun lama kelamaan mungkin penghormatan itu merosot. Namun kenyataannya mereka pernah bermukim di Makkah tetap menyebabkan mereka dianggap lebih dari orang lain.

Hal ini sudah melenceng dari konsep Islam yang memandang  seseorang dari taqwanya bukan dari kedudukannya, juga akan mengubah kegairahan menunaikan ibadah haji yang dilandasi niat suci, bisa berubah menjadi ingin dihormati, ingin di katakana orang kaya, dan ingin dikatakan sebagai orang yang sudah tidak berdosa.

3. Ritual Haji Menjadi Wajib

Ritual haji sangat berpengaruh positif,  terhadap orang yang menunaikan ibadah haji maupun bagi sanak kerabat  yang ditinggalkan. Bagi orang yang pergi haji, meninggalkan kampung halaman dalam waktu lama, akan merasa terhibur dengan pelepasan yang  meriah dan sangat ritual serta penyambutan yang lebih meriah ketika kembali ke kampung halaman.

Begitu juga dengan sanak kerabat yang ditinggalkan, terlebih  lagi ketika yang menunaikan ibadah haji masih berada di Mekkah. Mereka meyakini orang yang menunaikan haji senantiasa dilindungi oleh Allah ketika berangkat sampai kembali  dengan ritual-ritual yang mereka jalankan di kampung halaman. Karena tujuan ritual yang mereka lakukan adalah untuk memohon keselamatan bagi yang pergi selama dalam perjalanan sampai kembali, dan dipertemukan kembali dengan anggota keluarganya, serta ketika dalam melaksanakan ibadah haji tidak ada gangguan-gangguan yang menghambat perjalanan ibadah mereka.

Sisi negatifnya adalah, ritual-ritual yang mereka laksanakan di yakini menjadi sebuah kewajiban yang kalau ditinggalkan akan berdosa. Hal ini bisa di artikan menambah syariat Islam yang sudah sempurna.

E.  KESIMPULAN

Pergi haji bagi masyarakat Banjar adalah ibadah yang sangat didambakan, oleh karena itu ketika ada kesempatan, ongkos yang mencukupi, mereka tidak akan menyia-nyiakannya, berbagai ibadah sunat mereka mereka kerjakan demi menambah nilai pahala ritualitas ibadah haji. Ketika mereka berangkat, mereka dilepas dengan berbagai upacara, yang berkelanjutan sampai mereka tiba kembali ke Tanah Air.

Walaupun ibadah haji hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup, namun kegairahan masyarakat Banjar untuk melaksanakannya lagi tetap tinggi. Padahal seandainya mereka pergunakan uangnya untuk keperluan membantu keluarga ataupun masyarakat lainnya yang kurang mampu, umpamanya membiayai anak-anak untuk terus bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi, sehingga akan menjadi generasi yang handal.

Orang yang sudah bergelar haji akan mendapat penghormatan yang lebih dari yang tidak. Bagi orang-orang Banjar mempunyai seorang kerabat yang bermukim di Makkah, apapun juga pekerjaannya, merupakan kebanggaan tersendiri. Bayangan orang selalulah bermukim di Makkah berarti mengaji.

Banyak pengaruh positif yang di hasilkan dalam ritual haji, namun di balik semua itu ada juga pengaruh negatif yang mengancam keimanan dan harus di benahi.

DAFTAR PUSTAKA

Banjarmasinpost, Daftar Haji Didata Ulang, http://www.banjarmasinpost.co.id /content/ view/ 9385/ 288/

Daud, Alfani. Islam dan Masyarakat Banjar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997

Nafarin, Husin. Fikrah. Refleksi Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan. Jakarta: El-Kahfi, 2004

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ………………………………………………………….          i

DAFTAR ISI  …………………………………………………………………..         ii

HAJI DAN MASYARAKAT BANJAR

A.  PENDAHULUAN   ………………….…………………………………….         1

B. GAIRAH NAIK HAJI ORANG BANJAR ……………………………….         2

C. RITUAL HAJI ORANG BANJAR ……………………………………….         3

  1. Ritual Menjelang Keberangkatan    …………………………………….         4
  2. Ritual Selama Masih Dirantau. …………………………………………         8
  3. Ritual  Penyambutan   …………………………………………………..         9

D.  ANALSIS   …………………………………………………………………       10

1. Terlalu Mementingkan  Ibadah Sunnat   …………………………………       10

2. Haji Sebagai Lambang Kehormatan …………………………………….       11

3. Ritual Haji Menjadi Wajib    ……………………………………………..       12

E.   KESIMPULAN    …………………………………………………………..       13

DAFTAR PUSTAKA     ……………………………………………………….       14


[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997) . Cet. 1, h. 1-4

[2] Ibid, h. 5

[3] Ibid, h. 143-173

[4] Ibid, h. 173

[5] Banjarmasinpost, Daftar Haji Didata Ulang, http://www.banjarmasinpost.co.id /content/ view/ 9385/ 288/

[6]Alfani Daud, Op.cit, h. 173

[7] ibid., h. 188.

[8]ibid, h.  223.

[9] Ibid, h. 475

[10] Surah ke 36 dari Al-Qur`an

[11]Shalawat Kamilah adalah Salawat yang sempurna, yang dipercayai akan memperluas rezki orang yang mengamalkannya

[12] Istilah untuk membaca empat surah pendek yaitu Surah Al-Fatihah, As-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

[13] Ayat kuris juga sering disebut dengan  ayat Allahula, yaitu ayat 225 dari  Al-Qur`an Surah Al-Baqarh.

[14] salawat yang menyelamatkan, dipercayai akan melindungi orang yang mengamalkannya dari malapetaka yang akan menimpa

[15] Gantang adalah takaran yang biasanya digunakan oleh masyarakat Banjar untuk menakar beras, satu Gantang kurang leibh 4 liter.

[16] Nama kue yang terbuat dari tepung beras berbentuk lempeng

[17] salah satu bentuk ketupat ini dimasak dengan santan Penghidangan ketupat bangsul merupakan harapan yang akan pergi haji tetap bangsul/kembali
[18] Alfani Daud, Op. cit, h. 173

[19] Tawing halat yaitu dinding rumah yang terletak di ruang tengah, dipercayai sebagai penghalat dari segala kejahatan orang-orang halus.

[20] Lapik, merupakan susunan dari tapih/sarung yang disusun sedemikian rupa.

[21] Memercikkan air dicampur minyak likat baboreh dengan menggunakan anyaman daun kelapa yang disebut tepung tawar

[22] Alfani Daud, Op. cit., 475-477.

[23] Ibid

[24] Terbuat dari papan/ triplek yang dibentuk, berupa mesjid didirikan dimuka jalan , pada jalan yang akan dilewati oleh orang yang dating haji.

[25] Ibid., h.478-479.

[26] ONH Tahun 2006 Rp 27.000.000,- dan Tahun 2007 sekitar Rp. 28.500.000,-

[27] Husin Nafarin, Fikrah. Refleksi Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan (Jakarta Selatan : el-Kahfi, 2004), h. 8-9.

Satu Tanggapan

  1. lang nda minta makalahnya,,,,,gasan tugas dead line…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s