• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

ORANG BANJAR MENAMATKAN AL-QUR’AN

TAMAT aLQUR`AN

Agama Islam yang mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan berisi ajaran yang membimbing umat manusia menuju kebahagiaan dan kesejahteraan, dapat diketahui dasar-dasar dan undang-undangnya melalui Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran Islam.

Oleh karena itu membaca kitab suci Al-Qur’an sangat dianjurkan bagi setiap umat Islam di seluruh penjuru dunia. Dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an kita dapat mengetahui pokok-pokok ajaran Islam. Rasulullah saw. telah menganjurkan umatnya untuk membiasakan membaca Al-Qur’an sebagaimana sabda beliau:

عن ابي امامة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صل الله عليه وسلم يقول: إقرؤوا القرأن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصهحابه. )رواه مسلم(.[1]

Dari Abi Umamah ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. mengatakan: “Bacalah Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan dating pada hari kiamat sebagai syafaat bagi pembacanya”. (riwayat Muslim).

B. Tradisi Menamatkan Al-Qur’an

Dikampung seorang anak mulai mengaji pada umur 6 sampai 7 tahun, dan kebiasaan anak sudah menamatkan Al-Qur’an pada usia sekitar 9 sampai 12 tahun. Mereka malu apabila peristiwa itu terjadi pada umur yang lebih tua[2]. Pada berbagai tingkat kemajuan tertentu sering diadakan upacara kecil-kecilan sebelum meningkat lebih lanjut, biasanya hanya disaksikan oleh guru mengaji, teman-teman mengaji si anak dan orang tua si anak yang ingin menyaksikan kemajuan anaknya.

Menurut kebiasaan, setiap anak yang belajar mengaji dan berhasil menamatkan bacaannya 30 juz, maka diadakan upacara betamat Qur’an (khatamul Qur’an). Biasanya dirayakan dengan meriah dan dilaksanakan bersama-sana dengan teman mengaji. Didalam pagar dan kampung melayu anak-anak betamat pada umur sekitar 9 tahun sampai 12 tahun. Tetapi meskipun sudah pernah upacara betamat Qur’an, namun ketika ia kawin biasanya dilakukan pula upacara betamat Qur’an yang merupakan sisipan dalam upacara perkawinan. Upacara betamat al-Qur’an anak-anak biasanya didahului dengan arak-arakkan yang diikuti oleh mereka yang betamat. Ketika turun dibacakan shalawat dan dihamburkan beras kuning. Biasanya upacara betamat ini dilakukan pada bulan rabi’ul awal[3]. Mereka yang betamat duduk menghadap kitab suci Al-Qur’an masing-masing. Al-Qur’an tersebut ditaruh diatas rehal atau bantal dan didepan mereka ditaruh pula balai-balai berisi kue-kue tradisional yang mereka bawa sendiri. Ada juga nasi ketan satu gantang atau lebih yang dibentuk dengan cara tertentu. Di Martapura, nasi ketan dibentuk sehingga berwujud seperti gunung dan diberi hiasan inti dan telur rebus bisa juga ditambah dengan aneka warna bendera atau kambang sarai[4].

Peralatan yang digunakan dalam upacara ini adalah payung kembang bertingkat tiga yang dirangkai dengan bunga-bunga seperti bunga kenanga, cempaka, melati, mawar dan bunga kaca piring. Payung kembang tersebut dihiasi pula dengan kertas-kertas berwarna. Payung ini dipegang oleh seseorang yang khusus ditugasi untuk memayungi mereka yang betamat. Siapa yang kena giliran membaca, payung harus berada diatas kepalanya.  Peralalatan upacara yang digunakan selain payung kembang, rehal, juga talam untuk menaruh kendi berisi air dan gelas.

Senantiasa dalam upacara ini ada seseorang tertentu yang bertugas mendengarkan bacaan dengan khidmat dan membetulkannya jika terdapat kesalahan (menjagai atau menyimak), biasanya dimintakan kepada guru mengaji si anak untuk memulai acara dengan membacakan surah al-Fatihah oleh semua hadirin, lalu anak-anak itu bergantian disuruh membaca dari surah ad-Dhuha sampai surah al-Lahab, yang selalu diiringi koor oleh hadirin setiap kali seorang anak menyelesaikan gilirannya.

Suatu hal yang unik dalam trdisi betamat al-Qur’an ini adalah apabila bacaan al-Qur’an itu sampai pada surah al-Fiil, maka telur rebus yang ditaruh dalam balai-balai diperebutkan oleh hadirin. Bagi yang berhasil mendapatkannya dan memakan telur rebus itu sampai habis, berarti ia cekatan dalam menuntut ilmu agama dan orang tersebut sangat mudah mencerna pelajaran agama yang diberikan kepadanya[5]. Setelah selesai membacakan semua surah, guru mengaji atau seorang ulama kemudian memimpin membaca do’a khatamul Qur’an. Sementara do’a dibacakan, gunungan nasi ketan dibawa keruang belakang untuk diiris-iris guna disajikan kepada hadirin. Sementara hidangan diedarkan, lapik dan payung kambang disingkirkan, adakalanya payung kambang tersebut disimpan saja disudut rumah atau jika ada hajat besoknya dibawa kesebuah kuburan keramat dan ditinggalkan disana[6].

Sedangkan betamat Al-Qur’an yang dilaksanakan pada saat perkawinan, bisa dilaksanakan siang hari dan terkadang pada malam hari. Apabila dilaksanakan pada siang hari, waktunya pagi hari sebelum mempelai bersanding. Ada pula yang melaksanakan malam, yaitu sehari sebelum hari perkawinan.

Pakaian yang digunakan pada upacara betamat Qur’an ini untuk putranya kebanyakan memakai baju teluk balanga, sedangkan perempuannya memakai baju kurung basisit pada lampiran bawah baju kurung basisit dipakai rok panjang. Dan bisa juga menggunakan pakaian haji bagi wanitanya.

C.  Analisa

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa masyarakat banjar masih sangat kental memegang tradisi bahari. Suatu kebiasaan yang kalau ditinggalkan akan menimbulkan perasaan ‘ada yang kurang’ didalam hati (ada kekurang sempurnaan). masyarakat banjar akan berusaha melaksanakan tradisi-tradisi bahari tersebut agar tradisi-tradisi tersebut tidak punah sepenuhnya dan dapat kita lestarikan untuk anak cucu kita dengan sedikit merubah cara pelaksanaannya agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Karena kebudayaan-kebudayaan tersebut sudah ada sebelum islam masuk kekalimantan. Setelah Islam masuk ke Banjarmasin, tradisi-tradisi dahulu tidak langsung dibuang oleh Islam, tetapi dengan sedikit melakukan perubahan didalam pelaksanaan upacara atau tradisi tersebut.

Kapan muncul tradisi khataman Qur’an?

Sejarah tidak menemukan kapan pertama kali munculnya, kemungkinan ada kebiasaan-kebiasaan raja-raja dahulu (tradisi dahulu) yang dirubah setelah islam datang dan diganti dengan betamat Al-Qur’an[7]. Perubahan tradisi tersebut terjadi karena faktor modernitas yang semakin maju.

Budaya betamat Al Qur’an baik dilakukan, untuk melestarikan kebudayaan suatu daerah, disamping itu juga sebagai tanda cinta  terhadap Al Qur’an itu sendiri, dengan mengadakan perayaan-perayaan seperti khataman Qur’an atau pada perayaan Nujulul Qur’an, dengan maksud memuliakan Al Qur’an itu sendiri, artinya bukan hanya acara tertentu yang perlu diperingati, tetapi menamatkan Al Qur’an pun perlu diperingati, sebagai tanda penghormatan terhadap sesuatu yang sangat mulia dalam Islam, akan tetapi hendaklah pada pelaksanaan acara tersebut jangan terlalu berlebihan menyalahi isi dari pada Al Qur’an tersebut.

Dari uraian di atas disebutkan bahwa pada acara itu didahului dengan pengarakan anak yang akan menjalani  acara betamat dan pengahamburan beras kuning pada waktu turun.

Kata penghamburan dalam kamus bahasa Indonesia berarti memboroskan dengan sia-sia, padahal dalam Al Qur’an jelas-jelas melarang hal-hal yang bersifat seperti itu, yaitu membuang sesuatu yang masih dapat diambil manfaat, beras kuning itu seandainya di berikan kepada orang yang membutuhkan akan lebih banyak manfaatnya, disamping itu perayaan tersebut akan mendapatkan nilai positif di linkungan masyarakat, bukan hanya sekedar perayaan tapi juga sebagai media bakti sosial, tolong-menolong, berbagi kebahagian terhadap mereka yang membutuhkan dan tentunya juga sebagai pengamalan dari pada isi Al Qur’an itu sendiri.

Dalam acara tamatan biasanya di letakan balai-balai atau tempat yang berisi kue-kue tradisional, yang biasanya juga dilakukan pada acara pembacaan manakib orang-orang soleh, dengan tujuan mengambil berkah dari Al Qur’an itu sendiri ataupun orang-orang soleh, kebiasaan ini bagus dilaksanakan, akan tetapi dapat menimbulkan dampak negatif  yang tidak diinginkan. Bagi orang-orang yang masih kurang pengetahuannya, mereka beranggapan acara tersebut tidaklah terlaksana apabila tidak ada kue-kue tersebut. Akhirnya mereka yang tidak memiliki kemampuan tidak dapat melaksanakan acara tersebut, padahal tamatan tersebut dapat terlaksana walaupun tanpa kue-kue, ataupun acara yang meriah, yang lebih anehnya lagi mereka mnganggap kue-kue yang banyak disediakan itu adalah makanan para waliullah atau pun orang yang yang dibacakan manakibnya, bahkan penulis pun pernah mendengar langsung pada acara tersebut, guru yang membacakan manakib tersebut  mengatakan seperti itu, padahal jika kita mau berpikir, apakah mungkin para waliullah yang mereka banyak ingat kepada Allah suka pada hal-hal yang berlimpah ruah, bahkan sebaliknya mereka meninggalkan yang halal, memperbanyak puasa, meninggalkan hal-hal yang bersifat keduniaan.

Balai-balai yang disediakan dalam acara betamat biasanya dihiasi dengan telur-telur yang sudah direbus yang nantinya akan dibagikan. Hal yang baru penulis  ketahui yaitu telur tersebut mulai diperebutkan pada waktu pembacaan Al Qur’an sampai di surah Al Fiil, yang dikehendaki  pada waktu itu mereka mendapatkan kemenangan, kecerdasan, kecekatan dalam menuntut ilmu dan sebagainya, sebagaimana sejarah yang tersirat dalam surah tersebut. Padahal pada surah-surah lain pun banyak terdapat kelebihan-kelebihan tersendiri, dari sini terlihat ada seperti meanak tirikan surah-surah lain, akibatnya sebagian orang hanya membaca sebagian  surah-surah Al Qur’an  yang memiliki kelebihan, meninggalkan sebagian surah-surah Al Qu’an lainnya, hal ini terbukti banyak ditemukan di pondok pesantren, sebagian kecil santri-santrinya hanya sering membaca surah Yasiin, Al Waqiah, dan Al Mulk, karena mereka mengetahui dari guru-guru mereka bahwa surah-surah tersebut memiliki kelebihan yang bermanfaat bagi mereka,  dan pada akhirnya tradisi menamatkan Al Qur’an tersebut hanya tinggal nama, bukan tamat yang sebenarnya.

Disamping itu dari segi kesehatan kegiatan itu dapat merugikan, apabila yang menurut cerita memakannya harus sekali suap, yang mengakibatkan  orang yang memakannya terbatuk-batuk.

Kebiasaan masyarakat payung hias yang digunakan dalam acara betamat Al Qur’an, setelah selesai acara tersebut diletakan dikuburan keramat. Hal tersebut baik dilakukan, karena berdasarkan hadis yang ada bahwasannya bunga yang masih belum kering apabila diletakan di kuburan akan mendoakan bagi pnghuni kubur tersebut sampai bunga itu mongering. Tetapi sebagian masyarakat kita menyalah gunakan hal terebut, mereka mengambil kesempatan meminta-minta kepada kuburan, yang padahal dilaranag dalam agama dan sebagian mereka lagi menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai ajang mencari rezeki.

D.  Penutup

Masyarakat banjar adalah masyarakat yang sangat religius dan sangat memegang tradisi bahari. Jadi seseorang yang berhasil menamatkan al-Qur’an dianggap sangat luar biasa karena sudah berhasil menyelesaikan sesuatu yang sangat agung dan mulia.

Betamat ini merupakan pembuktian kepada masyarakat kalau yang bersangkutan adalah orang yang taat beribadah kepada Allah SWT. Dengan kebiasaan melaksanakan upacara betamat Al-Qu’an ini sekaligus mengingatkan kepada orang tua agar selalu memperhatikan dan menyuruh anaknya membaca Al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA

Daud, Alfani, Islam dan Budaya Banjar. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 1997.

Imam Ibi Zakaria Yahya Ibn Syarif An Nawawi Ad Damisyqi, Riyadu As Shalihin, (Beirut:Darul Fikri 1994)

Tim penyusu materi muatan lokal, kurikulum sekolah dasar daerah tingkat I Kalimantan selatan. Materi muatan lokal sekolah dasar. Pemerintah tingkat I Kalimantan selatan.

Thabathaba’i, Sayyid Muhammad Husain, Memahami Esensi Al-Qur’an. Jakarta: Lentera, 2003.

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyusun makalah mata kuliah Islam dan Budaya Banjar sebagai salah satu kajian bidang studi Fakultas Tarbiyah.

Shalawat dan salam tak lupa penulis hanturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw yang telah berjasa menghantarkan umatnya kepintu  gerbang rahmat kehidupan yang lebih mulia dan beradab.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh dosen pembimbing Bapak Rusydi S.Fil M.Ag sekaligus menambah pengetahuan penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Dalam pembuatan makalah ini penulis sangat menyadari masih banyak sekali terdapat kesalahan baik dari segi kata, tulisan ataupun penyajian masalahnya. Untuk itu segala macam kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.

Akhirnya dengan ridho illahi semoga makalah ini ada manfaatnya dan berguna bagi penulis dan pembaca.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ……………………………………………………….

KATA PENGANTAR   ……………………………………………………..              i

DAFTAR ISI   …………………………………………………………………………………….             ii

  1. Pendahuluan   …………………………………………………………………………..             1
  2. Tradisi menamatkan Al-Qur’an   …………………………………………………             2
  3. Analisa ……………………………………………………………………………………             4
  4. Penutup    …………………………………………………………………………………             8

DAFTAR PUSTAKA   ………………………………………………………………………..             9


[1] Imam Ibi Zakaria Yahya Ibn Syarif An Nawawi Ad Damisyqi, Riyadu As Shalihin, (Beirut:

Darul Fikri 1994), h. 199.

[2] Alfani daud. Islam & Masyarakat Banjar. 1997. hal. 248

[3] Bulan yang dianggap bagus oleh masyarakat untuk mengadakan suatu acara

[4] Bilah bambu dengan hiasan dari kertas

[5] Hal ini dikaitkan dengan keberadaan surah al-Fiil yang diturunkan ketika kaum muslimin dalam menghadapi serangan bala tentara abrahah yang ingin menghancurkan ka’bah, namun berkat bantuan Allah SWT kemenangan berpihak kepada kaum muslimin.

[6] Umpamanya, pernah diucapkan kaul apabila si anak yang bersangkutan menamatkan al-Qur’an, ia akan dibawa ziarah ke kubah tertentu. Untuk menunaikan kaul ini, payung kembang sisa upacara dibawa ke kubah dan ditinggalkan disana ketika ziarah.

[7] Wawancara dengan M. Rusydi,S.Fil. M.Ag. Rabu 2 januari 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: