• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Hakikat Disiplin dalam Pendidikan

Christopher Bjork, orang Amerika yang meneliti pendidikan di Indonesia, begitu tercengang menyaksikan upacara pelantikan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sebuah SMP. Dengan langkah berbaris rapi dan membentuk huruf U, pengurus OSIS yang baru menghadap Kepala Sekolah yang tengah berdiri di atas podium upacara, disaksikan oleh dewan guru dan siswa-siswi. Pengurus OSIS lama kemudian menyusul, membentuk hurup U juga, persis di belakang yang pertama. Pengambilan sumpah, dan penandatanganan dokumen kepengurusan, dilakukan dengan penuh hati-hati dan teratur. Semua berdiri tegak, diam dan khidmat mengikuti upacara tersebut.

Selain upacara pelantikan OSIS, Bjork juga mengamati upacara bendera tiap Senin. Menurut pengamatannya, hampir semua guru hadir pada upacara Senin itu, termasuk mereka yang sering absen mengajar. Di luar upacara resmi yang khidmat itu, Bjork juga mengamati bagaimana guru-guru mengajar di kelas. Di sini, Bjork menemukan fakta yang merisaukan hatinya. Ternyata guru-guru itu umumnya tidak menyiapkan bahan pelajaran dengan baik, datang terlambat dan tidak menggunakan media pembelajaran yang memadai. “Yang lebih mengejutkan lagi bagi saya adalah penerimaan yang luas terhadap perilaku semacam ini. Para siswa, orangtua, guru dan tata usaha, semua tetap tak terganggu dengan apa yang menurut saya adalah kurangnya perhatian pada proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah itu,” kata Bjork (2005: xiv).

Apa yang dicatat oleh Bjork, saya kira, cukup akrab dengan kita, meskipun mungkin kita tak mau peduli atau malah menerimanya dengan senang hati. Hal serupa sebenarnya juga terjadi di tempat-tempat kerja. Ketika saya mengikuti Prajabatan di Rindam IV Tanjung Pura, seorang komandan berpidato bahwa ia sangat tidak suka dengan Batalion 705. Ternyata yang dia maksud adalah, tentara biasanya apel jam 7 pagi, kemudian masuk kantor. Nanti sore mau pulang, apel lagi jam 5. Dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, boleh dikata tak ada yang dikerjakan. Maka jadilah Batalion 705! Coba Anda perhatikan perilaku serupa di kantor-kantor pemerintah. Waktu apel pagi, mereka berduyun-duyun datang. Tapi setelah masuk, tidak sedikit orang yang kerjanya hanya membaca koran, menggosip atau nonton TV. Kalau di kantor itu ada tenaga honorer, maka dialah yang sering jadi korban. Semua pekerjaan, kalau bisa, diserahkan kepada si honorer. Sementara mereka yang sudah PNS, yang gajinya jauh lebih besar, justru ongkang-ongkang kaki saja.

Rupanya, apa yang dilakukan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah dewasa itu, dilakukan pula oleh anak-anak siswa dan mahasiswa, tetapi dalam bentuk lain. Siswa atau mahasiswa senior dengan bersemangat melaksanakan kegiatan ‘Orientasi’ untuk siswa-siswi atau mahasiswa-mahasiswi baru. Orang-orang baru ini mereka perintahkan supaya datang tepat waktu, harus membawa barang-barang yang sulit dicari, dan berpakaian aneh-aneh. Jika semua perintah ini tidak ditaati, mereka akan dihukum. Ada yang dibentak-bentak dan dihina. Bahkan ada yang dipukul dan ditendang. Hampir tiap tahun media memberitakan adanya korban jiwa dalam kegiatan orientasi itu, baik di tingkat sekolah ataupun perguruan tinggi. Anehnya, praktik semacam ini masih saja dibiarkan.

Beberapa contoh yang saya kemukakan di atas hanyalah sebagian kecil dari kenyataan di masyarakat kita. Boleh dikata, semua contoh itu, disadari atau tidak, berhubungan dengan apa yang disebut dengan ‘disiplin’. Mari kita bertanya: Apakah disiplin berarti berbaris rapi dalam setiap upacara bendera? Mengapa kedisiplinan dalam upacara bendera lebih utama daripada mengajar dengan sungguh-sungguh? Mengapa ikut apel pagi dan sore lebih penting daripada mengerjakan tugas-tugas kantor? Mengapa dalam masa Orientasi anak-anak baru itu diperintahkan berpakaian aneh-aneh dan membawa barang-barang yang sulit dicari? Apakah itu akan menumbuhkan disiplin? Apakah dengan hukuman pukul dan tendang, disiplin akan tertanam pada diri seseorang? Apa sebenarnya arti disiplin? Mengapa disiplin itu perlu? Bagaimana menegakkan disiplin?

Makna Disiplin

Kata disiplin diambil dari bahasa Inggris, discipline. Menurut Longman Dictionary of English Languange and Culture (1992: 362) kata discipline memiliki empat makna, yaitu: 1. a method of training to produce obidience and self-control (satu metode pelatihan untuk menghasilkan ketaatan dan pengendalian diri); 2. a state of order and control gained as a result of this training (suatu keadaan teratur dan terkendali yang diperoleh sebagai hasil dari pelatihan ini); 3. punishment that is intended to produce obidience (hukuman yang bertujuan untuk menghasilkan ketaatan); 4. a branch of learning studied at a university (satu cabang ilmu yang dipelajari di universitas).

Dari berbagai pengertian di atas, dapatlah kiranya kita simpulkan bahwa dalam Bahasa Inggris, kata disiplin berarti metode atau cara pelatihan untuk melahirkan ketaatan dan pengendalian diri. Cara itu kadangkala berbentuk hukuman. Tetapi hasil dari penerapan metode pelatihan tersebut juga disebut disiplin. Dengan demikian, makna kata discipline adalah cara sekaligus hasil. Lalu mengapa satu cabang ilmu juga disebut ‘disiplin’? Karena ilmu (science) dikembangkan berdasarkan tata aturan tertentu yang secara sederhana disebut ‘metode ilmiah’. Setiap ilmuwan harus mengikuti metode ini dengan cermat dan konsisten, atau dengan kata lain, dengan penuh disiplin. Hasil dari kerja yang cermat dan konsisten dalam menjalankan metode ilmiah itu kemudian melahirkan temuan di bidang satu disiplin ilmu. Maka dalam hal ini, disiplin adalah metode sekaligus hasil.

Dalam Bahasa Arab modern (Wehr 1974: 10), kita menemukan kata ta’dîb yang berari pendisiplinan; qadhiyyah ta’dîbiyyah berarti tindakan pendisiplinan. Kamus Bahasa Arab al-Mu’jam al-Wasîth (1972: 10) menyebutkan, kata ta’dîb berarti al-tahdzîb atau al-mujâzât (penghalusan sesuatu atau pemberian hukuman). Disebutkan pula bahwa dalam tradisi orang Arab, ada yang disebut majlis al-ta’dîb yang berarti ‘Majelis Pendisiplinan’, mungkin mirip dengan ‘Majelis Kehormatan’ di DPR kita. Tujuan dari adanya majelis ini adalah menegakkan kemaslahan umum (mashlahah ‘âmmah).

Tetapi yang terpenting dari istilah ta’dîb sebenarnya adalah akar katanya, yaitu adab. Menurut  al-Mu’jam al-Wasîth (1972: 9), kata adab berarti (1) riyâdhat al-nafs bi al-ta’lîm wa al-tahdzîb ‘alâ mâ yanbaghi (Pelatihan diri melalui pengajaran dan penghalusan berkenaan dengan apa yang seharusnya dilakukan seseorang; (2) wa jumlatu mâ yanbaghî lidzî al-shinâ’ah aw al-fann, an yatamassaka bih, ka adab al-Qâdhî (segala hal yang seharusnya diikuti oleh seorang profesional di bidang pekerjaan atau keilmuwan seperti adab hakim). Dalam istilah kita, ‘adab’ di sini sama dengan ‘kode etik’. Al-Jurjâni dalam bukunya al-Ta’rîfat (1988: 15) mendefinisikan kata adab dengan ‘ibâratun ‘an ma’rifati mâ yahtarizu bih ‘an jamî’i anwâ’i al-khatha’ (suatu istilah yang menunjukkan suatu pengenalan terhadap hal-hal yang dapat memelihara seseorang dari aneka kesalahan).

Dengan demikian, kata adab dan ta’dîb dalam Bahasa Arab memiliki makna yang luas. Ia bisa berarti suatu pelatihan dalam rangka menghaluskan perilaku seseorang. Ia bisa pula berarti pemberian hukuman. Tetapi ta’dîb tidak selalu berarti ketundukan dan ketaatan karena tujuannya adalah menanamkan adab, yaitu hal-hal yang seharusnya diikuti, atau secara negatif, agar seseorang terpelihara dari berbagai kesalahan. Karena itulah, seorang pakar pendidikan Islam, Muhammad Naquib al-Attas (1984) berpendapat, istilah yang tepat untuk ‘pendidikan Islam’ bukanlah tarbiyyah, melainkan ta’dîb karena yang pertama bermakna memelihara dan menumbuhkembangkan, sedangkan yang kedua berarti menanamkan adab pada seseorang.

Dalam tradisi Islam klasik, istilah adab memang sangat banyak dikemukakan oleh para pemikir, terutama ketika membicarakan masalah-masalah etika. Hal ini antara lain karena adanya hadis Nabi saw yang terkenal: addabanî rabbî fa ahsana ta’dîbî (Aku dididik oleh Tuhanku sehingga Dia membuat pendidikanku itu amat baik). Saya menerjemah kata ta’dîb di hadis ini dengan ‘mendidik’, mengikuti pendapat al-Attas di atas. Maksud dari hadis ini adalah bahwa hidup Nabi Muhammad yang penuh lika-liku dan perjuangan—ia lahir sebagai yatim, kemudian piatu, hidup bersama kakek, kemudian bersama paman, lalu kawin dengan Khadijah, tetapi kemudian isteri tersayang ini meninggal, dan akhirnya ia terpaksa hijrah ke Madinah karena mau dibunuh oleh kaumnya—semua peristiwa ini adalah ta’dîb, pendidikan atau pendisiplinan dari Tuhan.

Demikianlah, para ulama klasik akhirnya lebih suka menggunakan istilah adab dalam menggambarkan pendidikan dalam Islam. Seorang pemikir Islam al-Mâwardi (w.450 H.) misalnya, menulis buku berjudul Adab al-Dunyâ wa al-Dîn (adab dunia dan agama). Dalam mukaddimah buku ini (al-Mâwardi 1992: 7), ia antara lain mengatakan: “Masalah yang paling penting dan besar, dan yang paling banyak manfaatnya adalah apa yang membuat agama dan dunia tegak, dan dengannya kebaikan dunia dan akhirat terjalin. Sebab dengan tegaknya agama, ibadah akan absah, dan dengan kesejahteraan dunia, kebahagian akan tercapai.” Untuk mencapai tegaknya agama dan urusan dunia sekaligus sehingga tercapai kebahagiaan hidup, al-Mâwardi kemudian memaparkan perlunya mengikuti berbagai norma yang disebutnya adab-adab (âdâb).

Tujuan dan Metode Disiplin

Sekilas dalam membahas makna disiplin di atas, kita sudah menyentuh mengapa disiplin itu perlu. Misalnya, makna disiplin dalam Bahasa Inggris menunjukkan bahwa tujuan dari disiplin adalah melahirkan ketaatan pada aturan dan pengendalian diri. Dalam pengertian Bahasa Arab, disiplin juga diperlukan untuk menegakkan kemaslahatan umum. Selain itu, tujuan disiplin juga adalah menjaga diri seseorang agar tidak jatun berbagai kesalahan, atau lebih luas lagi, agar seseorang bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam pengertian terakhir ini, kata ta’dîb identik dengan pendidikan.

Dengan demikian, tujuan dari disiplin, jika kita melihatnya dalam pengertian yang luas, adalah tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu diperlukan metode-mdetode tertentu. Tidak ada ketentuan yang baku dalam hal metode ini kecuali dua hal: (1) metode tidak boleh bertentangan dengan tujuan; (2) metode yang baik adalah metode yang paling efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.

Metode tidak boleh bertentangan dengan tujuan. Ini prinsip yang amat penting. Tujuan yang baik, yang dicapai melalui cara-cara yang salah, akan merusak tercapainya tujuan tersebut. Kalau saya mencuri dengan tujuan bersedekah kepada fakir miskin, tindakan saya itu tetap haram, dan sedekah saya tidak berpahala. Kalau saya ingin agar anak saya menjadi seorang yang baik, tetapi saya membiarkan dia bergaul dengan orang-orang yang nakal dan jahat, maka saya sudah melakukan cara yang bertentangan dengan tujuan.

Tetapi Anda mungkin akan berkata, kalau persoalan jelas hitam-putih seperti contoh-contoh di atas, maka takkan ada masalah. Yang jadi masalah adalah ketika cara-cara tertentu oleh sebagian orang dianggap wajar, sebagian lagi menganggapnya tidak wajar bahkan melanggar hukum. Misalnya, bisakah orangtua atau guru menempeleng anak didiknya yang melakukan kesalahan besar dengan tujuan agar anak itu jera? Di zaman sekarang, pemukulan pada anak bisa dijerat hukum karena dianggap melakukan tindak kekerasan pada anak.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya berpendapat bahwa perubahan sosial budaya masyarakat akan menentukan cara-cara apa saja yang dapat diterima dalam mendidik anak. Barangkali, di zaman dulu pukul dan tempeleng itu dianggap wajar dan biasa. Budaya masyakarat kita pada saat itu lebih bersifat paternalistik (tunduk pada figur ayah atau guru) dan komunal (kepentingan kelompok lebih diutamakan daripada kepentingan indvidu). Sekarang zaman berubah. Anak-anak kita semakin berpendidikan, dan budaya kita semakin individualis dalam arti orang dihargai lebih sebagai diri pribadi ketimbang sebagai anggota dari satu kelompok. Perubahan sosial ini membuat apa yang dulu wajar, sekarang malah dianggap melanggar hukum.

Apakah perubahan ini patut disyukuri atau disesali? Saya kira kita tak perlu bersyukur atau menyesal karena yang penting adalah prinsip kedua dalam menerapkan metode, yaitu sejauhmana sebuah metode efektif mencapai tujuan yang diinginkan. Kalau di zaman dulu anak-anak menjadi disiplin karena takut pada guru atau orangtua yang kalau marah bisa saja memukulnya, sekarang kalau dipukul barangkali mereka tidak akan bertambah disiplin, melainkan bertambah nakal. Jika demikian halnya, maka cara yang diterapkan harus diubah, yakni dengan cara-cara persuasif dan kasih sayang. Selain itu, karakter masing-masing anak dan latar belakang sosial keluarganya, seringkali berpengaruh pula terhadap metode apa yang efektif untuk anak tersebut. Maka dalam hal ini, seorang pendidik harus jeli dan bisa memahami karakter masing-masing anak didiknya. Anak miskin dari keluarga tidak terpelajar, yang tiap hari diomelin di rumah, mungkin akan berbeda cara penanganannya dengan anak orang berduit dari keluarga terpelajar. Singkat kata, tidak ada metode yang benar-benar universal.

Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah metode tanpa suara, tetapi amat berpengaruh, yaitu contoh teladan. Semua kita tahu akan hal ini, yakni bahwa contoh lebih fasih daripada kata-kata indah. Tetapi dalam praktik, hal ini tidaklah mudah. Bagaimana guru dapat menanamkan disiplin kalau dia sendiri sering terlambat dan sering tidak masuk? Bagaimana orangtua dapat menyuruh anaknya rajin shalat kalau dia sendiri seringkali meningalkan shalat?

Mengapa Manusia Perlu Disiplin?

Tetapi mengapa manusia perlu dilatih dan dididik dengan disiplin? Karena manusia adalah makhluk yang belum selesai. Sejak lahir, dia harus diasuh dan ditumbuhkembangkan, baik kehidupan fisik, psikis ataupun sosialnya. Manusia tidak seperti binatang yang tidak lama setelah lahir sudah bisa mengikuti pola hidup orangtuanya. Tetapi berbeda dengan binatang, manusia dapat terus maju dan berkembang. Ia dapat mewariskan kepandaiannya kepada generasi muda, yang akan mengembangkannya lagi sampai batas yang tak pernah diketahui. Manusia adalah makhluk yang terus-menerus menjadi.

Dalam proses menjadi itu, manusia harus menjalaninya melalui berbagai latihan dan pengajaran. Disiplin merupakan bagian dari latihan itu. Dalam Bahasa Arab disebut riyâdhah. Dengan latihan dan pembiasaan, manusia diharapkan akan terbiasa pada perbuatan baik, dan meninggalkan perbuatan jahat. Proses pembiasaan inilah yang sebenarnya dilakukan dalam menerapkan beragam metode di atas. Ini sebabnya, al-Ghazali (1995:57) mengatakan, al-khuluq adalah sisi batin dari perilaku, sedangkan al-khalq adalah sisi lahirnya. Pelatihan diperlukan untuk menanamkan pada batin seseorang kebiasaan akan suatu perbuatan. Jika suatu perbuatan itu sudah terbiasa sehingga ia mudah mengerjakannya tanpa hambatan batin lagi, maka perbuatan itu bisa disebut al-khuluq dan jamaknya al-akhlâq. Jika perbuatan itu baik, maka disebuat al-akhlâq al-karîmah, dan jika buruk disebut al-akhlâd al-sayyiah.

Akhirnya, perlu kiranya juga disinggung di sini bahwa dalam tradisi Islam, pendidikan itu bertujuan melahirkan keseimbangan. Karena itu dalam agama ada perintah untuk berbuat baik, ada larangan berbuat jahat. Ada ajaran tentang cinta kasih, adapula ajaran tentang keadilan. Menurut Cak Nur, kalau agama Yahudi menekankan keketatan hukum dan Kristen menekankan cinta kasih, maka Islam berada di tengah-tengah. Yahudi itu sangat ketat hukumnya karena ia adalah agama untuk orang-orang yang pernah diperbudak. Budak biasanya tidak taat kecuali diancam dengan hukum. Selanjutnya datang Nabi Isa untuk melonggarkan keketatan itu dengan ajaran cinta kasih. Akhirnya Muhammad menyempurnakannya dengan menggabungkan keadilan hukum dan cinta atau rahmat.

Dalam tradisi tasawuf, Tuhan itu juga memiliki dua jenis sifat yaitu sifat-sifat jamâl yang indah seperti penyayang, pengampun dan penerima taubat, dan sifat-sifat jalâl yang menakutkan seperti memaksa dan menyiksa. Gabungan antara kedua jenis sifat ini kemudian melahirkan kamâl atau kesempurnaan. Seorang Muslim diharapkan bersikap seimbang pula dalam hidupnya. Ia tak boleh begitu takut pada Tuhan sehingga putus asa, atau begitu berharap akan rahmat Tuhan sehingga berbuat dosa seenaknya. Manusia harus berada di tengah-tengah antara takut dan harap. Begitu pula dalam hal pendidikan. Anak yang hanya diberi kasih sayang tetapi tak pernah ditegur, mungkin akan menjadi anak yang manja. Sebaliknya, anak yang terus-menerus dimarahi mungkin akan menjadi tidak percaya diri. Disiplin adalah upaya menciptakan keseimbangan, dan keseimbangan itu memang tidak mudah.

Penutup

Kita sudah membahas makna disiplin, metode-metode penanaman disiplin dan tujuan disiplin itu sendiri. Tetapi ada satu hal penting yang belum kita analisis, yaitu kasus-kasus yang dipaparkan pada bagian awal tulisan ini. Mengapa semua itu dapat terjadi? Saya kira sebab utamanya adalah karena kita cenderung melihat disiplin secara formal tanpa memperdulikan substansinya. Kita memahami disiplin hanya pada kulitnya, bukan pada isinya. Kita ribut kalau murid lupa memakai kaos kaki seragam, dan lalu menghukunya, tetapi kita tak peduli kalau guru seringkali bolos atau mengajar asal-asalan. Kita juga melihat disiplin hanya sebagai kepatuhan mutlak tanpa melihat tujuan sesungguhnya dari penehakan disiplin itu sendiri. Apa yang dilakukan siswa dan mahasiswa pada program Orientasi adalah cermin dari kesalahan ini. Mari kita tinggalkan semua bentuk formalitas dan pemahaman yang dangkal terhadap disiplin itu.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Muhammad Naquib. 1984. Konsep Pendidikan dalam Islam. Bandung: Mizan.

Al-Ghazâlî, Muhammad bin Muhammad. 1995. Ihya’ ‘Ulûm al-Dîn jilid 3. Beirut: Dâr al-Fikr.

Al-Jurjânî, Ali bin Muhammad. 1988. Kitâb al-Ta’rîfât. Beirut: Dar la-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Mâwardi, Ali bin Muhammad. 1992. Adab al-Dunyâ wa al-Dîn. Beirut: Dar al-Fikr.

Bjork, Christopher. 2005. Indonesian education, Teachers, Schools and Central Bureaucracy. London: Routledge.

Longman, Dictionary of English Languange and Culture. 1992. Harlow: Longman

Mustafa, Ibrâhîm dkk. 1972. al-Mu’jam al-Wasîth. Istanbul : al-Maktabah al-Islamiyyah.

Wehr, Hans. 1974. A Dictionary of Modern Written Arabic. Beirut: Librarie du Liban.


disalain dari: DR. Mujiburrahman, MA. Makalah disampaikan dalam Seminar Pendidikan 1 dengan tema “Disiplin Tanpa teriakan” yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia Kota Banjarbaru, 5 Juni 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: