• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Hakikat Manusia

Hakekat konsep penciptaan manusia dalam Islam juga dapat iambil dari Q.S. AI-Mu’minun (23): 12-14. Menurut ayat itu, manusia diciptakan Allah dari saripati tanah yang dijadikan sperma (nuthfah) dan disimpan di tempat yang kokoh. Kemudian nuthfah itu dijadikan segumpal darah. Segumpal darah itu dijadikan segumpal daging. Lalu segumpal daging dijadikan tulang. Tulang dibalut dengan daging yang kemudian dijadikan Allah sebagai makhluk.

Dalam Q.S. As-Sajadah (32): 7-9 ditegaskan pula bahwa setelah kejadian manusia dalam kandungan mengambil bentuk, ditiupkan oleh Allah roh ke dalam tubuhnya, dan dijadikannya pendengaran, penglihatan dan perasaan.

Kedua ayat di atas, jelas menegaskan bahwa manusia tersusun dari dua unsur: materi dan lmmateri, jasmani dan rohani. Unsur materi (tubuh) manusia berasal dari tanah dan roh manusia berasal dari substansi immateri. Tubuh mempunyai daya-daya fisik jasmani, yaitu mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium, dan daya gerak. Roh mempunyai dua daya, yakni daya berpikir yang disebut akal yang berpusat di kepala, dan daya rasa yang berpusat di hati.[1]

Unsur-unsur immateri yang lain yang ada pada manusia itu terdiri dari roh, qalbu, aqal, dan nafsu.[2] Berikut akan diuraikan ke empat unsur immateri tersebut:

1. Roh

Dalam AI-Quran, istilah roh sering disebutkan, tetapi mempunyai makna yang berbeda. Adakalanya roh diartikan sebagai pemberian hidup dari Allah kepada manusia (Q.S. AI­-Hijr (15): 29, As-Sajadah (32): 9) adakalanya dimaksudkan sebagai penciptaan kepada Nabi Isa (Q.S. Maryam (19): 17, AI-Anbiya (21): 91). Roh juga menunjukkan istilah AI-Quran, (Q.S. Asy-Syuura (42): 52). Roh juga menunjukkan wahyu dan malaikat Jibril yang membawanya (Q.S. An-Nahl (16): 2).’

Setinggi apapun ilmu seseorang tidak mungkin menemukan hakikat roh, karena roh merupakan bagian dari rahasia Ilahi dan manusia tidak mempunyai pengetahuan penuh untuk memahaminya. Beberapa ulama mencoba memahami roh dengan  berpijak pada disiplin ilmunya masing-masing, antara lain AI­-Ghazali, ia membagi roh itu dalam dua pengertian, yaitu:

  • Roh yang bersifat jasmani. Roh merupakan bagian dari jasmani manusia, yaitu zat yang amat halus, bersumber dari ruangan hati (jantung), yang menjadi pusat urat (pembuluh darah), yang mampu menjadikan manusia hidup dan bergerak, serta merupakan berbagai rasa. Roh dapat diumpamakan sebagai lampu yang mampu menerangi setiap sudut organ, inilah yang sering disebut nafs (jiwa).
  • Roh yang bersifat rohani. Roh merupakan bagian dari rohani manusia yang mempunyai ciri halus dan qalb. Dengan roh ini manusia dapat mengenal dirinya sendiri, mengenal Tuhannya, dan mampu mencapai ilmu yang bermacam-macam. Di samping itu roh juga dapat menyebabkan manusia berperikemanusian, berakhlak yang baik dan berbeda dengan binatang.

Roh ini mendapat perintah dan larangan dari Allah. Bertanggung jawab atas segala gerak-geriknya dan memegang komando atas segala kehidupan manusia. Roh bukan jism (jasad) dan bukan pula arodh (tubuh). Keberadaannya tidak melekat pada sesuatu. Ia adalah jauhar (subtansi) yaitu sesuatu yang berwujud dan berdiri sendiri. Roh bagian ini mempunyai kesadaran diri dan telah ada sejak awal, karena telah diadakan oleh Allah. Hakikat roh tidak dapat diketahui. oleh manusia, serta tidak dapat diukur dan dianalisis. Roh tetap hidup walaupun tubuh sudah hancur.[3]

Ibnu Qayyim menyatakan, roh adalah jism yang berlainan hakikatnya dari jism yang dapat diraba. Roh merupakan jism nurani yang ringan dan tinggi, hidup dan selalu bergerak, yang menembus anggota, dan menjalar ke dalam anggota tubuh. Jism ini berjalin dan memberi bekas-­bekas seperti gerak, masa, dan berkehendak. Jika anggota-­anggota tersebut sakit dan rusak serta tidak menerima bekas­-bekas tersebut, roh akan bercerai dan pergi ke alam arwah. Roh yang mati dan hilang bernama nafs.[4]

Dari berbagai pendapat di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa roh merupakan substansi dari badan manusia, bukan materi, dan ia adalah hal yang halus dan qalb.

2. Hati ( Qalb)

Qalb atau hati termasuk rahasia manusia, yang merupakan anugerah Allah. Dengan qalb ini, manusia mampu beraktivitas sesuai dengan hal-hal yang dititahkan oleh Allah. Qalb berperan sebagai sentral kebaikan dan kejahatan manusia, walaupun pada hakikatnya cenderung pada kebaikan. Sentral aktivitas manusia bukan ditentukan oleh badan yang sehat sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan para ahli biologis. Nabi Muhammad SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim: Sesungguhnya di dalam jasad manusia ada terdapat segumpal daging, apabila baik, maka baiklah semua anggota tubuh, dan jika rusak, maka rusaklah semua anggota tubuh, ketahuilah ia itu adalah Qlbu

Menurut AI-Gazali, qalb memiliki dua arti, yaitu arti fisik dan metafisik. Arti fisik, yaitu jantung, berupa segumpal daging yang berbentuk bulat memanjang yang terletak di pinggir dada sebelah kiri. Qalb bertugas mengatur peredaran darah pada seluruh tubuh, yang di dalamnya terdapat rongga-rongga yang mengandung darah hitam, sebagai sumber roh. Qalb dalam arti jantung tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi juga dimiliki oleh semua hewan. Bahkan dimiliki oleh orang yang sudah mati. Qalb di sini mempunyai arti jasmaniah yang dapat ditangkap oleh indera manusia.

Sedangkan arti metafisik, yaitu batin sebagai tempat pikiran yang sangat rahasia dan murni, yang merupakan hal yang lathif (yang halus) yang ada pada diri manusia. Qalb ini bertanggung jawab kepada Allah, ditegur, dimarahi, serta di hukum. Qalb menjadi bahagia apabila selalu ada di sisi Allah dan berusaha melepaskan dari belenggu selain Allah. Sebaliknya, manakala menyalah gunakan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah, qalb ini akan mendapat celaka. Dengan Qalb, manusia dapat menangkap rasa, mengetahui dan mengenal sesuatu, dan pada akhirnya memperoleh ilmu mukasyafah (ilmu yang diperoleh melalui ilham Allah). [5]

Qalb dapat dikategorikan sebagai intuisi atau pandangan yang dalam, yang mempunyai rasa keindahan, membawa manusia kepada kebenaran, dan sebagai alat untuk mengenal kebenaran ketika penginderaan tidak memainkan peranannya.

Qalb dapat mengetahui hakikat dari segala yang ada. Jika Tuhan telah melimpahkan cahaya-Nya kepada qalb, manusia dapat mengetahui segala sesuatu yang gaib. Dengan qalb, manusia juga dapat mengenal sifat-sifat Allah, yang nantinya ditransfer dan diinternalisasikan pada kehidupan manusia sehari-hari.

3. Akal

Manusia memiliki sesuatu yang tidak ternilai harganya, anugerah yang sangat besar dari Tuhan, yakni akal. Sekiranya manusia tidak diberi akal, niscaya keadaan dan perbuatannya akan sama dengan hewan. Dengan adanya akal, segala anggota manusia, gerak atau diamnya berarti atau berharga. Akal digunakan untuk berpikir dan memperhatikan barang yang ada di alam ini, sehingga benda-benda dan barang-barang yang halus serta tersembunyi, dapat dipikirkan kegunaan dan manfaatnya. Jika akal digunakan dengan semestinya, niscaya tidak ada benda-benda atau barang-barang di dunia ini yang sia-sia bagi manusia.

Dengan akal, manusia dapat menghubungkan sebab dan akibat dan dapat mengerti lambang-lambang bahasa. Dengan akal, manusia melahirkan kebudayaan, mengubah benda-benda yang bersifat alami menjadi benda-benda yang sesuai dengan kehendak dan kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, Allah menyuruh manusia berpikir atau menggunakan akalnya supaya cerdas dan membuahkan manfaat yang baik dan berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat umum. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir, niscaya mudah rusak dan tidak berguna apa-apa.

Sebagai makhluk yang berakal, manusia dapat mengamati sesuatu. Hasil pengamatan itu diolah menjadi ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan itu dirumuskan ilmu baru yang akan digunakannya dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan menjangkau jauh ke luar kemampuan fisiknya. Demikian banyak hasil ilmu pengetahuan tersebut, membuat manusia dapat hidup menguasai alam ini.

Dalam pandangan Al-Ghazali, akal mempunyai empat pengertian, yaitu:

  • Sebutan yang membedakan manusia dengan hewan.
  • Ilmu yang lahir di saat anak mencapai usia akil balig, sehingga dapat mengetahui perbuatan baik dan buruk.
  • Ilmu-ilmu yang di dapat dari pengalaman sehingga dapat dikatakan “siapa yang banyak pengalaman, maka ia orang yang berakal”.
  • Kekuatan yang dapat menghentikan dorongan naluriyah untuk menerawang jauh ke angkasa, mengekang, dan menundukan syahwat yang selalu menginginkan kenikmatan.

Walaupun akal memiliki keterbatasan-keterbatasan, namun manusia dituntut mempergunakan akal sebaik­baiknya, karena itu merupakan anugerah dari Allah SWT.

4. Nafsu

Nafsu dalam istilah psikologi lebih dikenal dengan sebutan konasi atau daya karsa, konasi dalam bentuk bereaksi, berbuat, berusaha, berkemauan atau berkehendak. Aspek konasi ini ditandai dengan tingkah laku yang bertujuan dan dorongan untuk berbuat.

Nafsu dibagi dua kelompok, yaitu gadhab dan syahwat:

1. Gadhab, mempunyai dua macam:

  • Lawwamah, memiliki kecendrungan loba dan tamak, serakah dan suka makan banyak dan enak, sedangkan pengaruh yang ditimbulkan adalah kikir, tidak jujur, malas, dan mengejar kenikmatan.
  • Ammarah, nafsu ini digolongkan dengan dua macam, yaitu: pertama, pada manusia, nafsu ini memiliki kecendrungan untuk berkelahi, meniru, membantu, berteman. Pengaruh yang ditimbulkan adalah berani, kejam, persatuan dan gotong royong. Kedua, Pada seseorang, nafsu ini memiliki kecenderungan murka, keras kepala, suka mencela, suka melawan, dan suka berkelahi. Memelihara diri sendiri, dengan melepaskan diri, mencari perlindungan, benci, dan membangun. Pengaruh yang ditimbulkan adalah tolong-menolong, marah, bergaul, dengki, cemburu, berontak, takut, takwa .

2. Syahwat, dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Supiah, ia memiliki kecenderungan insting ibu-bapak, kesukaan diri ingin tahu, suka campur tangan, rendah diri, berketuhanan. Pengaruh yang ditimbulkan adalah memberi makan anak, sombong, gemar menyelidiki, mengomel, hidup mewah, ingin kuasa, penghambaan dan tawakkal.
  • Muthmainnah, ia memiliki kecenderungan berkemanusiaan, kebijakan (etika), kesusilaan (moral), kecintaan, keadilan, dan keindahan (estetika). Pengaruh yang ditimbulkan adalah budi luhur, jiwa yang suci, tata susila, sabar, pengorbanan, ridha, dan menciptakan keindahan.

Pada prinsipnya nafsu selalu cenderung pada hal yang sifatnya keburukan, kecuali nafsu tersebut dapat dikendalikan dengan dorongan-dorongan yang lain, seperti dorongan intelek (akal), dorongan hati nurani (qalb) yang selalu mengacu pada petunjuk-Nya. Tanpa kendali akal dan hati, nafsu akan mendominasi kehidupan manusia, yang bertahta sebagai tuhannya.

Demikianlah gambaran tentang manusia yang memiliki unsur materi dan immateri. Semua itu merupakan karunia yang luar biasa yang dianugerahkan oleh sang Pencipta. Hal ini merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya yaitu menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan.


[1] Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur`an dan Al-Hadits, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996

[2] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Tasawuf, Surabaya, Bina Ilmu, 1976, h. 121

[3] Qamarul Hadi AS, Membangun Insan Seutuhnya; Sebuah Tinjauan Antropologi, Bandung, Al-Ma`arif, 1981, h. 135

[4] Ibid, h. 136

[5] Dawam Raharjo, Insan Kamil, Konsep Manusia Menurut Islam, Jakarta, Tempret, 1987, h. 7

Iklan

Satu Tanggapan

  1. […] seni kaligrafi, kiranya dapat dipahami dengan pemikiran yang lebih umum tentang kebudayaan Islam. Teori tentang kebudayaan Islam secara umum juga dapat disebut dengan teori evolusi. Secara […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: