• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Insan Kamil

Insan Kamil berasal dari bahasa Arab yang secara harpiah mempunyai pengertian manusia yang sempurna[1].  Istilah ini muncul pada mulanya di kalangan orang-orang tasawuf dan kemudian beredar secara luas pada segenap lapisan masyarakat Islam. la dipahami pada umumnya sebagai sebutan untuk manusia tertentu, yakni untuk mereka yang memiliki keutamaan jiwa yang sempurna. Para nabi atau rasul disepakati memiliki keutamaan jiwa paling sempurna, dan karena itu dipandang paling layak disebut Insan Kamil. Oleh kaum Syi’ah Imamiyah, para imam mereka dimasukkan ke dalam kategori Insan Kamil; demikian juga oleh orang-orang tasawuf, para wali atau Sufi dimasukkan ke dalam kategori tersebut[2].

Hanya para nabi atau rasul saja yang memiliki keutamaan jiwa yang paling sem­purna, tanpa melalui latihan atau pembinaan yang keras. Mereka lahir dengan potensi istimewa, sehingga mereka secara alamiah saja dapat tumbuh menjadi Insan Kamil. Jiwa mereka penuh dengan sifat­sifat terpuji atau akhlak ketuhanan, dan bersih dari sifat-sifat tercela[3]. Manusia bukan nabi atau rasul tidak demikian; mereka, menurut orang-orang tasawuf, haruslah berjuang keras mengikuti latihan-latihan dalam rangka mengosongkan jiwa mereka dari sifat-sifat tercela dan berhias dengan sifat atau akhlak terpuji. Mereka yang berjuang keras untuk mencapai derajat atau maqam makrifat (mengenal Tuhan secara langsung melalui mata hati nurani) pada hakikatnya berjuang untuk mencapai derajat Insan Kamil, kendati mereka tetap berada di bawah derajat para nabi atau rasul Tuhan[4].

Sebutan Insan Kamil agaknya dimunculkan pertama kali oleh Ibnu Arabi (w.1240/638 H), pendiri paham wahdat al­wujud (kesatuan wujud). la mengikuti paham al-Hallaj, yang menyatakan bahwa makhluk pertama yang diciptakan Tuhan adalah Nur Muhammad atau Ruh Muhammad[5]; Nur atau Ruh Muhammad inilah yang selanjutnya disebut juga oleh Ibnu Arabi dengan sejumlah nama, seperti Hakikat Muhammadiyah. Akal Pertama. Hakikat Insaniyah dan Insan Kamil. Dengan demikian Ibnu Arabi telah mengacukan sebutan Insan Kamil bukan saja kepada manusia tertentu dari turunan Adam, tapi juga kepada Nur Muhammad yang kadim dan bersifat imateri, ciptaan pertama dari Tuhan. Insan Kamil dengan pengertian yang mengacu kepada ciptaan pertama itu, diuraikan lebih luas oleh Abdul Karim al-Jilil dalam bukunya, al-Insan al-kamil fi Ma`rifat al-Awakhir wa al-Awail, dan para pengikut paham kesatuan wujud Iainnya[6]

Insan Kamil yang mengacu kepada makhluk pertama, merupakan hakikat yang menghimpun segala Hakikat dari keanekaragaman yang terdapat dalam alam empiris. la juga merupakan wadah tajalli, pancaran, atau manifestasi segenap nama dan sifat yang memancar dari Wujud Mutlak (Tuhan). Sebagai makhluk pertama, Insan Kamil merupakan Akal Pertama atau Wujud Ilmi, yang memancar dari Wujud Mutlak. la merupakan sumber segala ilmu[7]. la sumber ilmu bagi para nabi atau rasul, para Sufi, atau para wali. Penyebutan para nabi atau rasul, para sufi, atau para wali dengan sebutan Insan Kamil, tidak lain adalah karena merekalah orang-orang yang merasakan sungguh-sungguh kehadiran Insan Kamil (makhluk pertama itu) dalam jiwa mereka, dan menerima limpahan ilmu darinya. Mereka tidak mungkin menerima kehadiran atau pancaran Insan Kamil itu, bila hati atau jiwa mereka tidak suci[8].

Manusia-manusia turunan Adam, yang termasuk kategori Insan Kamil, merupakan wadah yang paling sempurna dalam dunia empires, untuk menerima tajalli (penampakan secara tidak langsung segenap sifat dan nama Tuhan). Dengan kata lain merekalah yang mampu dengan sempurna mencerminkan atau membayangkan keberadaan Tuhan dengue segala nama dan sifat-Nya. Manusia lain yang bukan Insan Kamil, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda empiris lainnya, kendati juga berfungsi sebagai wadah tajalli Tuhan, tidaklah dapat dengan sempurna mencerminkan atau membayangkan keberadaan Tuhan dengan segala nama dan sifat-Nya.


[1] Ahmad Warson Munawir, Kamus Arab-Indonesia Al-Munawir

[2] Harun Nasution, “Enseklopedi Islam”

[3] Sirajuddin Abbas, ” 40 Masalah Agama Jilid I.

[4] Prof. Rivai Siregar “Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme” hal. 211

[5] Lihat Futuhatil Makiyah Vol. IV : 13

[6] Al-Jilli, “Insan Kamil” Alih Bahasa Misbah Al-Majid, Jakarta, PMP, 2005

[7] Prof. Saiq Aqil Siraj “Manusia Sempurna dalam Pandangan Sufiunisme, 2000, Makalah

[8] Ibid, hal. 9

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: