• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ontologi dan Aksiologi Muhasabah

Tasawuf selalu berkaitan dengan disiplin mo­ral, ketekunan beribadah, ketahanan mental dari berbagai macam godaan duniawi, konsisten dalam latihan spiritual (mujahadah), dan komitmen yang tidak terbatas untuk dapat sampai kepada Allah Tuhan Yang Benar (AI-Wu­jud al-Haq). Meskipun demikian tidaklah berarti setiap orang yang berbudi luhur itu mesti Sufi, sebagaimana tidak semua orang yang tekun beribadah (bersembah­yang, berpuasa, banyak dzikir dan hidup fakir) itu selalu disebut sebagai Sufi, demikian juga orang yang zuhud, yang menolak kemewahan duniawi belum dapat begitu raja dinamakan Sufi. Ibnu Sina pernah memberi komen­tar : “Bahwa orang yang menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi dan keindahannya, disebut zahid. Orang yang tekun melakukan ibadah (sembahyang, puasa, dzikir dan lain-lain) disebut abid. Dan orang yang berusaha melang­kah dengan segenap fikiran, dan perasaan hati nuraninya menuju kepada Allah Yang Maha Suci (qudsi al-Jabarut), dan berupaya terus-menerus mendapatkan cahaya kebe­naran Ilahiyah dalam hatinya, disebut sebagai `arif atau Sufi. Seorang zahid boleh jadi dia juga `abid, sebaliknya Seorang `abid boleh jadi dia juga zahid, dan paduan antara ibadah dan kezuhudan itu belum otomatis menjadi dia itu `arif. Tetapi orang sufi pasti dia abid dan zahid.

Dalam rangkan mencapai Zahid seorang abid (ahli ibadah) haruslah senantiasa melakukan perhitungan amal perbuatan (intrupeksi diri) dalam bahasa sufi disebut muhasabah, menurut KH. Tolhah Hasan dalam berbagai ceramahnya muhasabah merupakan pintu utama bagi seorang hamba untuk merenungkan dan menyusun kembali agenda kehidupan dalam rangkan untuk mencapai derajat manusia yang sempurna, sebagaimana yang digambarkan oleh beliau:

  1. Manusia yang sempurna adalah yang mempunyai keimanan yang kokoh dan dekat dengan Tuhannya.
  2. Manusia yang beramal shaleh yang senantiasa bermuhasabah dan bermanfaat bagi sesama manusia dan alam semesta.

Ontologi dan Epistimologi Muhasabah

Muhasabah adalah kata yang berasal dari bahasa arab yaitu al-Muhasabah. Menurut kamus al-Munawir, pengertiannya adalah amalu al-hisab yakni melakukan perhitungan. [1]

Tokoh sufi yang dipandang sebagai orang yang suka menghitung-hitung dirinya adalah al-Muhasibi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah al-Haris bin Asad al-Basri al-Muhasibi. Lahir di Basrah tahun 165 H dan wafat di Bagdad tahun 243 H. dinamakan al-Muhasibi adalah karena ia termasuk orang yang sangat menyukai perhitungan atas dirinya, takut terjatuh ke arah perbuatan yang melanggar hokum walau sekecil-kecilnya. Ia juga adalah guru Junaid al-Bagdadi penghulu para ahli sufi. [2]

Kemudian pengertian secara terminologis dapat dilihat dari pendapat beberapa tokoh sufi berikut:

Abu Abdullah al-Harits bin Asad al-Bashri al-Muhasabi ( 165 H/781 M- 243 H/856 M ) pernah ditanya orang tentang pengertian nuhasabah, lalu beliau mengatakan: Muhasabah adalah membangkitkan akal untuk menjaga nafsu dari penghianatannya, agar kelebihannya dapat berperan daripada kekurangannya. Selanjutnya kata al-Muhasibi, engkau mengkaji setiap pekerjaan yang dikerjakan, engkau tinggal melakukannya. Jika bukan karena Allah, seyogianya engkau menghindarinya dan mencela diri sendiri karena kecendrungan jiwa terhadap nafsu dan akibat buruk. Kemudian kamu mengakui kebodohan dan munculnya rasa malu pada akal. Maka engkau akan mengetahui bahwa hal itu adalah musuh, yaitu perbuatan yang buruk dan sejolak yang timbul karena mengajak menjauhkan diri dari Tuhan yang telah menciptakannya.[3]

Imam al-Ghazali ( 450-505 H/1059 – 1111 M ) berpendapat bahwa Muhasabah maknanya adalah selalu memikirkan dan memperhatikan apa-apa yang telah diperbuat dan juga apa yang akan diperbuatnya. Muhasabah adalah setiap pandangan, baik banyak maupun sedikit dalam rangka mengetahui bertambah dan berkurangnya sesuatu yang dihiting. ( Al-Ghazali, 383 ) Muhasabah tak ubahnya seperti seorang pengusaha yang memandang modal, untung dan rugi, supaya terlihat jelas kelebihan dan kekurangan. Jikalau ada dari kelebihan yang dihasilkan, niscaya dicukupkannya dan disyukurinya. Jikalau ada kerugian, niscaya dituntutnya kongsiannya itu untuk menanggungnya dan ditugasi mencari kembali terhadap kerugian itu pada masa mendatang.[4]

Kewajiban melakukan muhasabah ini, didasarkan pada perintah Allah di dalam Al-Qur’an yang antara lain pada surah al-Hasyr ayat 18:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[5]

Ayat itu menjelaskan bahwa orang beriman tanpa kecuali dijadikan sebagai orang yang dituju dan diajak bicara.jadi barang siapa beriman kapada adanya perhitungan amal perbuatan di dunia. Maka dia harus menghitung-hitung diri mengenai segala yang telah diperbuatnya masa lalu. “ hitung-hitunglah dirinu sebelum mereka menghitungmu kelak.” Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ra. Maksud dari perkataan ini adalah bahwa semua kan dihisab atau diperhitungkan. Oleh karena itu, orang beriman harus yakin benar bahwa Allah Swt. Akan berlaku adil dalam menghisab, menimbang amal perbuatan di dunia ini pada hari pembalasan. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan dan menghitung-hitung diri sendiri. [6]

Selain perintah Al-Qur’an seperti disebutkan tadi, muhasabah juga didasarkan pada hadits-hadits yang antara lain diriwayatkan oleh al-Bazar sebagai berikut:

?????? ?????? ???????? ???????? ???? ???????? ????????

Artinya :

Berbahagialah orang yang karena sibuk memperhatikan cacat dirinya telah melalaikannya memperhatikan cacat orang lain.” ( H.R. al-Bazar ).

Hadits diatas secara tidak langsung mendorong setiap orang untuk memperhatikan, mengoreksi atau menilai diri sendiri termasuk mencari cacat dan kelemahan yang dimiliki guna diperbaiki, dan tidak mau atau tidak berkesempatan memperhatikan diri orng lain.

Secara tegas Muhasabah ini diperintahkan oleh Umar bin Khattab ra. dalam sebuah ucapannya yang cukup popular:

?????????? ???????????? ?????? ???? ???????????? ???????????? ?????? ???? ?????? ???? ???????????

Artinya:

“Adakah perhitungan terhadap dirimu sendiri sebelum diadakan perhitungan kepadamu, dan timbanglah amalmu, sebelum diadakan penimbangan kepadamu”. [7]

Dari uiraian di atas tampaklah bahwa muhasabah adalah ajaran tasawuf yang diperintahkan oleh Allah Swt. Dan rasulullah serta sahabat-sahabat beliau. Karena itulah maka al-Ghazali telah mengingatkan agar orng jangan merasa aman oleh kerasnya hatiyang disebabkan karena dosa-dosa. Lalu beliau memerintahkan agar kita merenungkan sambil menghitung-hitung diri. Jika merasa berdosa hendaklah bertobat, tapi jika tidak banyak dosa bersyukuirlah kepada Allah sambil memperbanyak ibadah.[8]

Seorang sufi akan selalu menghitung atau mengoreksi apa yang tersembunyi didalam dirinya dari berbagai cacat dan kekurangannya. Hal ini menurut Ibnu ‘Athaillah di dalam al-Hikam adalah lebih baik dari pencari cacat dan kekurangan orang lain. Orang yang selalu berfikir mengenai kekurangan dirinya, mengontrol segala kesalahannya dan mengawasi segala gerak-geriknya menandakan hati dan pikirannya masih jernih dan normal. Bahkan rasulullah Saw. Menggolongkan orng tersebut sebagai orang yang pandai atau cerdas karena selalu mengoreksi kesalahannya sendiri. Sebagaiman sabda beliau:

?????????? ???? ????? ???????? ???????? ????? ?????? ????????? ???????????? ???? ???????? ???????? ???????? ?????????? ????? ???????

Artinya:

“orang yang pintar ialah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati, dan orng yang lemah ialah orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya,. Dan berangan-angan terhadap Allah.” ( H.R. Turmuzi ) .[9]

Orang yang tidak pernah melakukan perhitungan terhadap dirinya, maka penyebabnya ialah dia tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu:

Pertam   : orang ini tidak beriman pada hari pembalasan.

Kedua   : orang ini tidak mempunyai akal sehat.

Di dalam surat al-Zalalah ayat 7 dan 8 Allah menegaskan:

“ Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat atom, niscay dia akan melihat ( balasan )nya, dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat atompun niscaya kan dilihat pula balasannya.”

Ayat itu memberi petunjuk kepada akal, dan merupakan pendidikan yang baik untuk menemukan kesalahan yang ada didalam diri. Ayat itu mendorong manusia agar mampu menyelami lautan pikiran, perenungan, kecenderungan-kacenderungan.dan perkataan kemudian dengan menemukan kesalahan –kesalan, lalu kesalahan itu dijauhi dari kehidupan ini. Tidak seorang pundit dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi, bagi orang yang beriman yang menemukan kesalahannya, dia tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahannya lagi. [10]

Al-Ghazali dalam hal ini menegaskan: ketahuilah bahwa keimanan terhadap penghisaban pada hari kiamat mengharuskan dilaksaanakannya koreksi diri dan persiapan. Rasulullah Saw. Bersab : hisablah dirimu sebelum kamu dihisab. Allah Swt. Berfirman di dalam surat al-Anbiya ayat 47 yang maksudnya : kami akan memasang timbangan yang telah disediakan pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji pun kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.[11]

Muhasabah adalah ajaran yang diperintah agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits serta ucapan para sahabat. Muhasabah diperintahkan kepada orang beriman seiring dengan perintah bertaqwa kepada Allah Swt.

Muhasabah adalah buah atau implikasi dari keimanan seseorang, keyakinan akan diadakannya perhitungan oleh Allah Swt.pada hari kiamatnanti. Segala amal yang telah dilakukan seseorang di dunia, akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak melalui perhitungan Allah Swt yang Maha Adil.

Demikianlah makna dan hakekat dari muhasabah yang sekaligus merupakan ontologi dari muhasabah itu sendiri.

Aksiologi Muhasabah

Hasan al-Basri, sufi besar yang wafat tahun 110 H/729 M, mengatakan bahwa orang mukmin itu pemimpin atas dirinya, dimana ia memperhitungkan (mengontrol) karena Allah. Sesungguhnya mudahlah urusan perhitungan amal ( Hisab ) bagi suatu kaum yang mengadakan perhitungan atas dirinya didunia  dan sesungguhnya sukarlah hitungan pada hari kiamat bagu orang yang tak melakukan Hisab di dunia[12].

Kemudian Al-Gazali menegaskan bahwa barang siapa yang menghisab dirinya terhadap waktu-waktu yang telah dipergunakan dan apa yang ia pikirkan, niscaya akan berkurang kesedihannya pada hari kiamat. Tetapi barang siapa yang tidak menghisab dirinya, maka kekallah sedihnya dan menjadi banyaklah penantiannya pada hari kiamat.

Di riwayatkan bahwa Sayyidina Umar Ibn Khattab pernah memukul kakinya dengan cemeti sambil bertanya pada dirinya “Apa yang telah engkau perbuata hari ini?” setelah mengetahui ini, kala Al-Gazali hendaklah kamu mengoreksi diri kamu di akhir siang (sore) atas apa yang engkau perbuat pada hari itu.[13]

Sesungguhnya jiwa manusia cenderung kepada keburukan, sering terlena pada persoalan kebatilan, cenderung kepada nafsu dan syahwat, kecuali orang-orang yang banyak berfikir dan memperhatikan (Muhasabah) terhadap dirinya sendiri. Orang-orang itu jiwanya menjadi tentram dan  jauh dari kemaksiatan. Dengan muhasabah itu pula jiwa manusia dapat berjalan dengan teguh konsisten menuju Penciptanya. Sesungguhnya hanya Allah lah datangnya segala petunjuk.[14]

Selanjutnya menurut Murtadha Mutahhari dan Thabattaba`i setiap sufi mesti setiap hari punya waktu khusus untuk memeriksa dan menilai apa yang telah dilakukan selama sehari penuh. Gagasan mengenai pemeriksaan dan penilaian diri ini diperoleh atau didasarkan dari ucapan Imam Musa Al-Kazim. “Barangsiapa yang tidak memeriksakan dirinya setiap hari, bukanlah termasuk golongan kami”. Jika dalam pemeriksaan dan penilain diri, seseorang menemukan bahwa dia tidak melaksanakan kewajiban dan tugasnya dalam segala hal. Maka dia mesti memohon ampunan kepada Allah. Dan jika ia menemukan bahwa dia telah melaksanakan kewajiban dan tugasnya maka dia mesti bersyukur kepada Allah.

Dalam konteks kekinian, maka aktualisasi dan aflikasi muhasabah dalam kehidupan sehari-hari semakin diperlukan. Umat manusia termasuk umat Islam kini hidup diera global atau masa modern. Pada masa ini, hamper seluruh waktu dan umurnya tersita oleh aktivitas dan pekerjaannya setiap hari. Sehingga hampir tidak ada kesempatan melakukan perenungan atau perhitungan diri. Apalagi orang sekarang hidup ditengah persaingan yang ketat. Keterampilan, ilmu pengetahuan, dan professionalisme menjadi andalan utama. Untuk meraih kesuksesan orang nyaris tidak memperhatikan kaedah-kaedah dan norma-norma agama. Dalam situasi yang serba sibuk dan corak kehidupan semacam itu, orang terkadang lupa perjalanan hidupnya masa silam. Lupa akan warna dan corak amalnya masa lalu. Karenanya, maka perlu sekali diadakan muhasabah, guna memperoleh kejelasan hasil yang sudah diperolehnya. Jika hasilnya lebih banyak amal kebaikan tentu perlu disyukuri, dipertahankan bahkan ditingkatkan, tetapi sebaliknya, jika hasilnya lebih banyak penyimpangan, kemaksiatan dan perbuatan dosa, maka ia perlu bertobat, meminimalkan dosa. Bahkan menghapusnya serta berusaha mengubah haluan dan oreintasi kehidupan kearah yang baik untuk masa-masa mendatang. Jadi dengan bermuhasabah itu, selain daapt meningkatkan amal kebaikan, juga mengurangi pekerjaan-pekerjaan dosa.[15]

Dari uraian di atas dapatlah diketahui bahwa manfaat dari dilaksanakannya muhasabah adalah diketahuinya amal perbuatan pada masa yang telah lewat. Dengan muhasabah, seseorang akan mengetahui apakah ia telah melaksanakan amal perbuatan yang baik atau yang sesuai dengan tuntunan agama. Ataukah sebaliknya bertentangan dengan agama. Bagi mereka yang melakukan muhasabah, akan mudah dan ringan urusan hisab atau perhitungan dihari kiamat. Jika mereka akan menjadi tenang serta teguh pendirin dalam menjalani kehidupan menuju sang Pencipta. Dengan muhasabah itu pula seseorang akan selalu berusaha memperbaiki, menyempurnakan dirinya, baik amal perbuatan, perilaku, maupaun  ucapan-ucapannya agar selalu sejalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, termasuk usahanya meminimalkan cacat dan kekurangan yang ada pada dirinya, dan emaksimalkan sifat-sifat dan Akhlak terpuji dalam kehidupannya. Inilah muasabah jika dilihat dari aspek aksiologisnya.


[1] Kamus Al Munawir “ Surabaya, BB. Hal 283 tt.

[2] Laili Mansur “ Ajaran dan Teladan para sufi” Jakarta, 1996

[3] I. M Jamal “ Penyakit-penyakit Hati, Bandung. PH. 1986. hal 94.

[4] Lihat Ihya Ulumuddin hal 392. Juz IV.

[5] Depag RI, Al-Quranul Karim dan Terjemahnya

[6] Artani Hasbi “ Study Islam Alwahyu “ Surabaya, 1995. makalah.

[7] Al Ghozali Loc cip, 384.

[8] Alwi Shihab “ Memilih Bersama Rasullullah “ Jakarta. RP. 1998 hal 68.

[9] Ibnu Atoillah “ Al Hikam “ Alih bhasa, Azis mashuri, Surabaya. Bina ilmu. Hal 107.

[10] Ibit: hal 112.

[11] Al Ghozali, op cit hal 392. ( Alih bahasa Ismail Wakkub ).

[12] Ibid, hal. 393

[13] Ibid, hal, 394

[14] Artani Hasbi,Opcit, makalah

[15] KH. Toha Hasan, Dinamika Masyarakat Relegius, Jakarta, LP, hal. 213.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: