• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Pemikiran Tasawuf Abdul Halim Mahmud

Mayoritas manusia dalam mendefinisikan tasawuf cenderung pada segi moral. Kecenderungan ini telah tersiar baik di lingkungan kaum sufi maupun para pembahas dan sejarawan tasauf. Akan kami sebutkan beberapa contoh dari kecenderungan tersebut.

Abubakar Al Kattani (yang telah wafat tahun 233 H) berkata: “Ta­sauf adalah moral. Maka barang siapa yang mempunyai moral yang ter­terpuji, maka semakin jernihlah hatinya.”

Ar Risalah al Qusyairiyah meriwayatkan: Ketika Abu Muhammad al Jariri (yang wafat pada tahun 311 H) ditanya tentang tasauf, maka ia menjawab:

???????????? ??? ????? ?????? ???????, ????????????? ???? ????? ?????? ???????

“Masuk dalalam setiap moral yang luhur dan keluar dari setiap moral yang rendah”[1]

Salah satu definisi Abil Husain An-Nuri mengenai tasauf, sebagai­mana yang disebutkan dalam sebuah kitab “Tadzkiratul Awliya”, yaitu penyangkalannya pada pendapat yang mengatakan tasauf merupakan bentuk atau suatu ilmu.  ia memberi batasan bahwa tasauf adalah moral. Abil Husain An-Nuri berkata: ‘Tasauf bukan suatu bentuk atau ilmu, tetapi moral. Karena jika tasauf merupakan suatu bentuk tentu akan bisa dicapai dengan perjuangan. Begitu juga jika tasauf itu suatu ilmu tentu bisa dicapai dengan cara belajar. Namun tasauf berakhlak dengan akhlak Allah. Dan akhlak Ilahi takkan bisa kau capai dengan ilmu atau rasman (gambaran).[2]

Abul Husain An-Nuri memberi batasan dalam definisi yang lain, yaitu akhlak yang membentuk tasauf:

?????????????: ?????????????? ???????????? ???????? ???????????? ????????????.

‘Tasauf adalah kemerdekaan, kemurahan, tidak membebani diri serta dermawan.”

Kecenderungan pada segi moral dalam mendefinisikan tasauf ini ter­siar di Timur maupun Barat dan tersiar sejak jaman dulu hingga kini. Meskipun begitu ia tidak mengungkap tasauf secara terinci.

Sekalipun mereka yang menyebut definisi tasauf dari segi moral, namun mereka juga menyebut definisi-definisi lain -setidak-tidaknya- ­dan menunjukkan sesuatu yang tidak meragukan, yaitu bahwa mereka tidak merasa cukup pada segi moral dalam membuat batasan tentang tasawuf, serta dalam mendefinisikannya.

Yang jelas, seumpama kami melihat pada pribadi-pribadi yang ter­nama dalarn segi keluhuran moral dan memiliki sifat-sifat moral paling indah, serta mengambil keutamaan-keutamaan tertinggi sebagai mazhab dan pedoman, maka itulah pribadi-pribadi yang bisa kami tela­dani  dalam lingkungan moral dan masyarakat.

Namun bukan berarti yang demikian itu harus dari golong­an sufi.

Seumpama kita melihat pada masyarakat Yunani, tentu akan kami dapati seseorang yang menyeru pada keutamaan dan bermadzhab dengan­nya. Serta berusaha menyiarkan dengan berbagai cara. Yang demikian ini sama halnya dengan dakwah yang meyakinkan, atau logika yang mengarah pada perdebatan, atau peneladanan yang sangat mulia. Dialah Socrate. Meskipun begitu, bukanlah Socrates itu seorang sufi dengan arti yang  tepat pada kata “sufi”.

jika kami melihat pada masyarakat Islam, maka akan kami dapati Al-Hasan Al-Bashri, semoga Allah meridhoinya. la adalah pribadi yang “cemerlang” dan teladan yang benar bagi moral yang luhur, dalam kesuci­an dan kejernihannya. ia suka menyiarkan kemuliaan yang tinggi de­ngan petuahnya yang berpengaruh dan ucapannya yang mantab, serta suluk (penempuh jalan)nya yang dijadikan contoh. Meskipun begitu bukanlah Al Hasan al Bashri seorang sufi dalam arti yang tepat pada kata ” sufi”.

Berdasar bahwa suatu moral yang luhur merupakan dasar tasauf, dan akhlak dalam bentuknya yang paling tinggi adalah buah tasauf. Tentu saja suatu moral yang utama merupakan semboyan Sufi, di antara dasar dan buahnya. Maka ia (moral) akan selalu menyertainya (orang sufi). Namun bukan berarti bahwa moral tadi adalah tasauf.

Pada waktu yang lalu ada kecenderungan mendefinisikan tasauf dengan zuhud.

Ketika orang mendengar kata “tasauf ‘ pasti akan memahami makna zuhud. Dan kata “sufi” diartikannya sebagai zuhud terhadap dunia.[3]

Tak mungkin diragukan lagi, bahwa orang Sufi ialah orang yang hatinya tidak lagi berkaitan dengan ‘keduniaan’, sekalipun ia seorang jutawan. Sedang zuhud pada dunia merupakan sesuatu yang lain, dan tasauf adalah hal yang lain lagi. Tidak lazim bahwa zahidnya orang sufi berarti kezuhudan bagi tasauf.

Banyak orang yang mencampur adukkan antara seorang sufi dan se­orang abid (ahli ibadah). Jika mereka melihat atau mendengar tentang orang yang banyak melakukan ibadah, maka mereka akan menyebutnya sebagai seorang sufi.

Yang pasti seorang Sufi itu banyak melakukan ibadah. Kadangkala engkau mendapati pribadi-pribadi yang menegakkan shalat-shalat fardhu, memperbanyak sunnah-sunnah dan menekuni ibadah, namun bukan berarti mereka itu dari golongan sufi.

Karena orang-orang mencampur adukkan antara seorang zahid, se­orang abid dan seorang sufi, maka lbnu Sina berusaha untuk membeda­kan ketiga golongan tersebut dan antara, tujuan masing-masing. Dalam kitabnya “Al Isyaraat” Ibnu Sina menuliskan:[4]

  1. Seorang yang menjauhi kesenangan dan kenikmatan duniawi di­namakan “Az-zahid”.
  2. Seorang yang menekuni ibadah-ibadah dengan shalat, puasa dll dinamakan “al-abid”.
  3. 3. Sedang orang yang memusatkan pikirannya pada kesucian Tuhannya dan mengharap terbitnya cahaya Al-Haq SWT dalam hatinya dinamakan “al-arif”.

Dan orang arif itu (menurut Ibnu Sina) adalah “ash-sufi” (orang sufi).

Ada sekelonnpok orang mengatakan: Sesungguhnya pernberian nama “Sufiyah” pada golongan ini karena kejernihan isi atau rahasia hati dan kelurusan perilakunya.

Bisyir bin Al Harits berkata:

????????????: ???? ????? ???????? ????

“Seorang sufi adalah orang yang menjernihkan hati sanubarinya demi Allah”

???????????: ???? ?????? ???? ?????????????? ???????? ???? ???? ????? ????? ??????? ???????????

Salah seorang dari mereka berkata:

Seorang sufi adalah orang yang telah menjadi murni pergaulannya semata-mata karena Allah dan orang yang mendapat kemuliaan khusus dari Allah Azzawajal.

Orang-orang ini cenderung berpendapat bahwa kata “ash-sufiah”[5] sesungguhnya menunjukkan pada kejernihan dan isyarat ini dan tidak tunduk pada kias-kias bahasa. Selama merupakan isyarat, maka adalah satu kecerobohan jika manusia berdebat mengenai keserasiannya atau ketidak serasiannya dengan bahasa.

Suatu golongan berpendapat: “Mereka diberi narna “sufiyah” karena mereka berada dalam barisan pertama di hadapan Allah zza­wajal, dengan kernauan yang tinggi dan hati mereka terpusat kepada­Nva.”

Adapun isyarat kata ini pada ash-shuffah (di mana mereka pernah ada pada masa Rasulullah saw) hanya menunjukkan pada sifat mereka dalam ibadah, tahajud, dan ketiadaan ambisi dalam ‘keduniaan’ serta tetapnya kesiapan mereka untuk berjihad di jalan Allah.[6]

Kata itu juga menunjukkan pada sifat yang mulia, dimana hati sanubari tidak bergantung pada materi, tetapi bergantung pada Allah SWT.

Semua ini adalah pembicaraan tentang cara-caranya.

Di samping cara-cara ini yang diasyaratkan, kata tasauf juga mem­punyai cara-cara lain. Yaitu cara yang diibaratkan tentangnya melalui ucapan mereka:

??? ???????? ????? ????????

“Tiada memiliki dan pula dimiliki”

Mereka mengartikan hal itu dengan:

??? ????????????? ?????????

“Tidak diperbudak oleh ambisi”

Kata ini mempunyai maksud yang jelas, yaitu agar manusia terbebas dari keduniaan yang menguasainya, dari kedudukan dan kehanyutan dalam mengejar kenikmatan materi, dari mencintai kekuasaan dan kemewahan, yang kesemuanya adalah sifat yang berlawanan dengan keutamaan.

Tujuan akhir dalarn cara ini yaitu bahwa cara-cara tersebut menye­rahkan manusia rnencapai kejernihan hati. jika kejernihan hati itu telah ada pada diri seseorang niscaya ia akan mempunyai kesiapan penuh untuk musyahadah (menyaksikan). Maka, jika Allah yang Maha Pe­murah menghendaki, niscaya akan dikaruniakan-Nya rnusyahadah itu kepadauya

Penyaksian ini adalah derajat makrifat tertinggi dan merupakan tujuan terakhir yang dikejar oleh orang-orang yang memiliki perasaan uang halus, berfitrah kemalaikatan dan pribadi-pribadi mulia.

Jika demikian, maka tasauf adalah makrifat-derajat makrifat ter­tinggi, setelah kenabian sesungguhnya ia adalah penyaksian, dan tasauf adalah jalan menuju penyaksian.

Apabila kami ingin mengandalkan Imam Ghazali dalam menyim­pulkan jalan dan tujuannya, maka akan kami dapati perkataannya dalam kitabnya yang kekal “Ihyaa Ulumuddien”

“Jalannya adalah agar melakukan mujahadah (perjuangan), meng­hapus sifat-sifat yang tercela, mernutuskan hubungan dengan segala ke­senangan duniawi dan berkonsentrasi penuh ke hadirat Allah SWT. Hal itu bisa terwujud karena Allah SWT telah memimpin hati sanubari ham­baNya dan menjaminnya dengan memberi cahaya ilmu pengetahuan.”

Apabila Allah SWT telah memimpin urusan hati, niscaya akan me­linrpahinya dengan rahmat-Nya, akan bersinar cahaya di dalamnya, men­jadi lapang dadanya, terungkaplah baginya rahasia alam rnalakut (kera­jaan langit ), dan akan tersingkap tabir kebodohan dengan kelembutan rahmat dihatinya serta akan berkilauan di dalamnya kebenaran-kebe­naran masalah Ilahi.

Jika terjadi hal yang demikian, maka itulah musyahadah (penyaksi­an).

Di antara cerita-cerita yang lembut yang menggambarkan cara me­nuju musyahadah dengan mudah adalah cerita berikut ini:

Dzunnur telah berkata:

Aku telah melihat seorang wanita di sebuah pantai negeri Syam.

Maka kutanya dia:

“Dari mana engkau datang? Semoga Allah merahmatimu!”

Waunita itu menjawab:

“Dari orang-orang yang menjauhi tempat tidur.”

Artinya:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan hara” (QS. As-Sajdah: 16)

Kemudian aku berkata:

Nendak kemana engkau? “

Wanita itu menjawab:

Artinyn:

“Hendak menemui orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak  pula olehjual beli dari  mengingat Allah.” (QS. An Nur: 37)

Aku berkata: “Gambarkanlah mereka itu padaku.”

Wanita itupun bersyair:

Suatu kaum yang pikirannya terpusat pada Allah.

mereka tak ingin sesuatu selain itu

tujuan kaum itu adalah Al Maula yaitu Pelindung dan Pemimpin mereka

tujuan yang mulia pada Tuhannya, di mana ia bergantung mereka tidak terkecoh dengan dunia alau kedudukan berupa kenikmatan dalam rnakanan yang berlebihan, maupun keturunan

tidak berambisi mengenakan pakaian yang mewah

tidak pula menghamburkan uang hanya untuk berlibur di sebuah negeri melainkan segera mengejar kedudukan

dan langkahnya menuju kchidupan abadi

mereka adalah sandera-sandera di sungai dan gunung-gunung

Dan di tempat yang tinggi niscaya engkau bisa menjumpai mereka.

Al Musyahadah adalah tujuan akhir kaum sufi dan merupakan ke­benaran yang nyata, yang setiap saat kita ungkapkan dan kita ucapkan:

???????? ???? ??? ?????? ?????? ????

Artinya:           ,

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. “

Maka syahadat adalah tujuan akhir orang sufi. Dan dengan ber­macam cara mereka berusaha keras untuk bisa mencapainya. Untuk mewujudkan (dengan perbuatan) maksud dari huruf-huruf (dari perkata­an) yang diucapkannya.

Tak dapat diragukan lagi bahwa definisi yang banyak dan tersebar di mana-mana tentang tasauf yang hampir mencapai seribu, hanyalah mengungkapkan sebagian besar waktu tentang salah satu segi tasauf yang berkaitan dengan cara itu atau berkaitan dengan tujuan. Maka tidak mungkin untuk dikatakan jika adanya memang demikian. Sesungguhnya itu adalah kesalahan total. Namun kesalahan itu hanya dalam pengerti­an bahwa ia mengibaratkan tentang hakekat yang sempurna. Dan yang mengibaratkan tentang hakekat yang sempurna adalah definisi dari Al Kattani:

????????????? (??????? ?????????????)

“Tasauf adalah kejernihan dan penyaksian”


[1] Abu Qasim Al-Qusyairy, Risalah Qusyairiyah

[2] Abd. Halim Mahmud,  Hal Ihwal Tasawuf, hal. 209

[3] Ibid, hal. 214

[4] Ibid, hal. 215

[5] Bandingkan dengan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, Alih Bahasa Ahmadi Toha

[6] Harun Nasution “Islam dan Mistisisme”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: