• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Prilaku Ke Islaman Masyarakat Banjar

ORANG Banjar relatif taat menjalankan agamanya: sembahyang dilakukan dengan teratur, meski pun adakalanya tidak tepat waktunya. Meski pun jelas ada saja orang yang tidak berpuasa dalam bulan Ramadlan, khususnya di kota-kota, tetapi yang jelas tidak ada orang yang secara terbuka memperlihatkan ia tidak berpuasa, dan anak-anak sering diperingatkan agar tidak “mengganggu” orang yang berpuasa dengan cara memakan sesuatu di hadapannya. Zakat juga ditunaikan dengan teratur, di sini khususnya zakat fitrah, zakat padi dan zakat barang-barang yang diperniagakan. Kegairahan untuk menunaikan ibadah haji di kawasan ini mungkin yang terbesar di Indonesia. Dan ada saat-saat tertentu syahadat diucapkan secara formal. Di lapangan diketahui jenis sembahyang tertentu dan syahadat berfungsi pula selaku upaya magis untuk berbagai keperluan tertentu. Selain itu ada saat-saat tertentu orang-orang melakukan ibadah sunat: sembahyang sunat, puasa sunat, sedekah sunat.

Segala ibadah dan doa memang ditujukan kepada Allah dan tidak dapat ditujukan kepada makhlukNya; tidak ada yang dapat mengabulkan doa kecuali Allah. Namun bagi orang Banjar doa yang diucapkan orang saleh dianggap makbul dan restu yang diberikannya dengan melakukan sembahyang hajat sangat bermanfaat. Rezeki, penyakit dan kesembuhan diakui berasal dari Allah, tetapi Allah juga yang menentukan dengan takdirNya sebab atau lantaran untuk itu, yang diluar kemampuannya untuk mengetahuinya. Ini mengharuskan orang berusaha dengan berbagai cara guna mencari sebab bagi terhalangnya rezeki atau guna mencari sumber kesembuhan, termasuk melakukan upacara bersaji atau meminta tolong kepada balian (pemimpin religi suku di Labuhan) atau kepada tabib. Dalam hal mencari kesembuhan ini doa orang saleh sangat bermanfaat.

Keyakinan, bahwa kehidupan sesudah mati tergantung pada amal perbuatannya ketika hidupnya, tidak menghalangi keluarga untuk menyantuni kerabatnya yang telah meninggal. Hal ini akan disinggung kembali dalam seksi berikutnya.

Di kalangan tertentu berkembang anggapan bahwa dengan cara balampah orang dapat menghubungi malaikat atau jin untuk dijadikan muwakkal atau sahabat, dan demikian pula dengan mahluk-mahluk halus lainnya, yaitu orang gaib, macan gaib atau salah satu kembaran kita sendiri sewaktu lahir. Malaikat yang dijadikan sahabat ialah khususnya malaikat pemelihara surah al-Ikhlas dan surah al-Mulk. Sahabat gaib ini akan membantu kita sewaktu-waktu diperlukan dalam berbagai kegiatan di dunia ini.

Perayaan maulud, yaitu peringatan hari lahir Nabi, dirayakan berganti-ganti hampir sepanjang bulan Rabi’ al-Awwal bahkan sampai permulaan bulan berikutnya, oleh hampir semua rumah tangga di Hulu Sungai, dan konon demikian pula halnya dahulu di Martapura. Memperingati maulud dan mi’raj Nabi merupakan kegiatan rumah-rumah ibadah, sekolah-sekolah dan perkumpulan-perkumpulan tertentu. Mengamalkan membaca selawat Nabi Muhammad konon memudahkan memperoleh syafaat beliau pada hari kiamat kelak, dan dapat serta meminum air di telaga beliau di padang mahsyar nanti. Di dalam masyarakat beredar berbagai bentuk selawat dengan kegunaannya masing-masing. Qasidah Burdah, sebuah syair puji-pujian untuk Nabi, diyakini berkhasiat mendinginkan (dinginan), dibaca berulang-ulang sebagai upaya mendinginkan suasana yang memanas dan dibacakan pada air dan airnya digunakan sebagai air keramat untuk mandi.

Nabi Sulaiman dianggap, setidak-tidaknya di kalangan tertentu, sebagai pemilik segala khazanah yang tersimpan dalam perut bumi atau segala sesuatu berkenaan dengan tanah. Di kalangan pendulang intan dan emas berkembang berbagai bacaan agar bisa memaku isi perbendaharaan Nabi Sulaiman di suatu tempat dan kemudian membuka khazanah perbendaharaan tersebut, agar mudah diambil. Bacaan atau mantra yang pertama dinamakan kunci bumi, dan yang sebuah lagi kunci Nabi Sulaiman. Konon mengetahui nama anak Nabi Sulaiman, yang tidak bertangan dan berkaki sehingga “tubuhnya bulat mirip semangka”, berarti bergaul intim dengannya dan, dengan demikian, mudah memperoleh hasil bila mela-kukan usaha berhubungan dengan tanah atau bumi. Nabi Khaidir dianggap sebagai penguasa bawah air, namun tidak nampak ia dipuja dalam fungsinya itu. Tetapi yang jelas ia secara khusus “diundang” ketika bersaji tahunan (aruh tahun) dengan menghidangkan nasi ketan kuning dan nasi ketan putih yang dibentuk seperti gunung, masing-masing dengan telur rebus di atasnya, yang di-anggap sebagai pembuka rezeki, dan (oleh kalangan tertentu “diundang”) ketika akan memulai suatu usaha dan setahun sekali.

Bagi orang Banjar kitab al-Qur’an mengandung rahasia, yang hanya sebagian kecil berhasil diungkapkan. Di lapangan diketahui ada ayat dan surah yang dibaca, diamalkan atau dipakai sebagai jimat agar murah rezeki, mudah memperoleh ilmu pengeta-huan, untuk mendinginkan badan si sakit, agar mudah memperoleh jodoh, atau mem-bebaskan pengamalnya dari siksa api neraka di akhirat kelak. Ayat lain berfungsi men-damaikan suami isteri yang sering bertengkar, memikat jodoh atau sebagai mantra untuk mengail. Kitab surah Yasin berfungsi selaku penangkal terhadap makhluk halus yang biasa mengganggu wanita yang sedang atau baru-baru melahirkan atau bayinya. Tali mubin, yang diperoleh dengan membuhul benang hitam setiap kali sampai pada kata mubin ketika membaca surah Yasin, dijadikan gelang untuk bayi dan berguna sebagai penangkal agar ia tidak sering menangis.

Doa orang banyak sangat bermanfaat, tetapi juga kutukan mereka sangat ditakuti. Jumlah empat puluh orang dewasa atau lebih yang menyembahyangkan dan kemudian mendoakan seorang warga menjelang dikuburkan, meletakkan botol berisi air di atas mimbar pada hari Jum’at dan menggunakannya sebagai air doa, dan orang senantiasa diperingatkan agar jangan sampai banyak orang yang menyebutnya sebagai gila atau nakal. Yang terakhir ini di-katakan bila sampai ada empat puluh orang mengatakan seseorang sebagai gila, orang ter-sebut akan benar-benar gila.

Kelakuan Eks Budaya Lokal

ADANYA nenek moyang yang gaib atau menjelma menjadi naga dahulu kala, atau adanya salah seorang kerabat dekat yang wapat dan hidup seterusnya di dalam dunia gaib, mengharuskan keturunannya untuk melakukan upacara bersaji setahun sekali. Konon tokoh nenek moyang yang gaib (wapat) atau menjadi naga ini tetap memperhatikan kesejahteraan keturunannya dan memperingatkan anak cucunya bila lalai melaksanakan adat dahulu kala. Kadang-kadang pemeliharaan atau peringatan ini nampak seperti dilakukan atau diwakili dilakukan oleh sahabat gaib nenek moyang. Pada keharusan membawa bayi ziarah ke kuburan keramat atau mesjid keramat tertentu atau (situs) candi Agung, mungkin orang gaib yang menghuni atau memelihara tempat tersebut menghukum (memingit) keluarga yang lalai melakukan ziarah seperti yang dibiasakan generasi terdahulu. Orang gaib atau makhluk halus lain yang diyakini menempati suatu hutan tertentu dikhawatirkan akan mengganggu kegiatan mendulang atau mencelakakan para pendulang, oleh karena itu dilakukan upacara bersaji untuk menghormati mereka (upacaranya dinamakan menyanggar). Para petani mungkin khawatir akan gangguan makhluk-makhluk halus yang dahulu bertempat tinggal di sekitar hutan atau rawa yang telah dijadikan persawahan lalu mengadakan upacara bersaji tahunan (upacaranya dinamakan bapalas padang).

Sehubungan dengan pokok kayu atau wilayah tertentu mungkin dalam dunia gaib sebenarnya ialah (rumah) tempat tinggal orang gaib atau daerah pemukiman mereka, konon kita harus berhati-hati bila ada dugaan ke arah itu, atau bila berada di daerah yang belum dikenal betul. Para sopir menolak membawa seorang penumpang, bila yang terakhir ini membawa “makanan” orang gaib, yaitu antara lain nasi ketan, lemang dan telur rebus (dipindang atau diasin). Selain orang gaib, di tempat-tempat tertentu juga berkeliaran pidara dan kariau, yaitu (menurut pendapat penulis) ruh-ruh orang mati. Pidara dapat menyebabkan orang sakit, khususnya bayi dan anak-anak (sakitnya dinamakan kapidaraan), dengan gejala badan panas dingin (mariap dingin) dan kepala pusing. Ketika mengobati kapidaraan (mamidarayi), ketika bamamang, mengucapkan mantra, pidara diminta meninggalkan si sakit, bahkan juga dimohon serta menyediakan air obat bagi si sakit.

Dengan memperhatikan kelakuan peziarah, para wali (lokal) dianggap dapat mem-beri tahukan hal-hal yang tersembunyi (gaib), termasuk meramal peristiwa yang bakal terjadi, memberikan pengobatan atau mencarikan ramuan yang tepat sebagai obat, dan menjadi perantara untuk mencapai sesuatu hajat dari Allah. Yang terakhir ini khususnya berlaku terhadap kuburan keramat. Kuburan keramat, yaitu kuburan para wali lokal, yang tersebar luas di kampung-kampung, biasanya diziarahi untuk mengucapkan kaul akan ziarah kembali bila sesuatu hajat terpenuhi (isteri hamil, selamat tiba dari menunaikan ibadah haji di Mekah, anak lulus sekolah atau tamat mengaji atau sembuh dari sakit, anak atau cucu memperoleh jodoh yang sesuai, berhasil dalam usaha mendulang atau mata pencaharian lainnya). Pada kuburan keramat tertentu dan situs candi Agung, orang juga dapat meramalkan apakah hidupnya akan lebih baik atau cita-cita-nya akan tercapai.

Semangat anak konon kadang-kadang perlu dipanggil (dikukur) guna menyembuh-kannya dari kapidaraan yang tak kunjung sembuh; upacara bamula (memulai) antara lain berfungsi mengumpulkan semangat padi sebelum dituai secara besar-besaran dan tindakan tertentu ketika itu berfungsi menangkal agar padi tidak dituai oleh orang gaib. Menyebut ngaran timah ketika berangkat ke medan laga akan terhindar dari peluru senjata api (peluru senjata api berbahan baku timah), menulis ngaran hantu beranak menghindarkan makhluk halus itu mendekat. Semangat anak dipanggil (dikukur) guna menyembuhkannya dari kapidaraan yang berlarut-larut, semangat padi diajak berkumpul menjelang panen.

Wanita yang baru melahirkan tabu memakan makanan yang bersifat dingin (dinginan); menghidangkan sayur batang pisang, juga dipercayai bersifat dinginan, dalam selamatan menjelang upacara perkawinan (di Martapura), dipercayai akan menenangkan pengantin atau mempelai yang bersangkutan (pengantin dinginan). Berbagai senjata pusaka dianggap bersifat panas (panasan) atau dinginan; (yang lain lagi) menyebabkan pemakainya disukai atau dihormati orang. Berbagai batu atau senjata pusaka berkhasiat menyebabkan pemakainya kebal, kuat perkasa, berkhasiat menyembuhkan penyakit tertentu dan lain sebagainya. Konon ada berbagai minyak sakti, yang berkhasiat kebal, kuat perkasa, luka yang parah bisa sembuh bila bintang-bintang muncul di langit, berkhasiat guna-guna atau sebagai pelaris berdagang, atau menyebabkan peminumnya menjelma menjadi kuyang (makhluk halus yang suka meng-ganggu wanita yang baru melahirkan atau bayinya) bila malam tiba.

Sehubungan dengan tuah batu dan besi berkembang berbagai teknik untuk menentukan atau meramalkan tuahnya. Di lapangan memang diketahui ada orang yang memiliki pal batu, alat yang bisa digunakan untuk menentukan tuah batu atau besi. Tetapi kebanyakan orang mengunjungi seseorang yang dikenal ahli tentang besi (antara lain ulama tertentu), bila merasakan ada masalah berkenaan dengan barang besi (antara lain kendaraan bermotor) kepunyaannya. Seorang calon pendulang sering menanyakan peruntungannya dalam pekerjaan mendulang sebelum bergabung dengan kelompoknya. Ada orang yang meminta diramalkan apakah anaknya berjodoh dengan seseorang sebelum meminang atau menerima pinangan orang tersebut.

Pada akhir uraian tentang kelakuan religius ini, penulis ingin mengungkapkan gagasan tentang pengobatan di kalangan masyarakat Banjar. Pengobatan orang Banjar biasanya di-lengkapi dengan air doa (banyu tawar) yang diminum atau dicampurkan ke dalam air minum, disemburkan ke badan si sakit, atau dijadikan sebagai air mandi atau air cuci muka. Seorang alim belumlah alim benar-benar bila belum bisa membuatkan air doa: tidak dapat dipahami oleh orang Banjar, seorang alim yang tidak bisa memberikan air untuk obat. Air doa lainnya dimintakan kepada seorang bidan (banyu baya, digunakan dalam rangka mandi hamil) atau seorang tabib. Untuk mempersiapkan air doa ini banyak di antaranya dilakukan dengan membaca bagian-bagian dari al-Qur’an. Cara lain untuk memperoleh air doa ialah dengan meletakkan botol berisi air di mimbar mesjid menjelang sembahyang Jum’at dan mengambilnya sesudah usai acara hari Jum’at, dan meletakkan botol berisi air di kuburan keramat.

IV. FAHAM KESELAMATAN MANUSIA

ISLAM, seperti juga biasanya agama lainnya, berbicara tentang kehidupan lain sesudah kehidupan di dunia ini dan mengungkapkan apa yang harus diupayakan manusia agar selamat dalam alam akhirat tersebut. Faham tentang keselamatan manusia di kalangan orang Banjar menyangkut berbagai gagasan tentang bagaimana seharusnya sebaiknya hidup di dunia ini, bagaimana seharusnya kelakuan agar selamat dalam kehidupan akhirat kelak, usaha-usaha guna mempengaruhi hidup di dunia dan usaha-usaha mempengaruhi kehidupan lain sesudah mati; yang terakhir ini termasuk yang diupayakan sendiri oleh yang bersangkutan ketika hidupnya dan yang dilakukan oleh kerabat dekatnya sesudah meninggalnya.

Agar selamat hidup di dunia, orang harus memelihara hubungan baik dengan tetangganya, termasuk juga dengan tetangga yang gaib. Bagi kerabat-kerabat tertentu hubungan baik juga harus dipelihara dengan nenek moyang yang gaib atau yang telah menjelma menjadi naga, dan atau dengan makhluk gaib yang menjadi sahabat nenek moyang. Bagi orang Banjar ketidak serasian hubungan dengan tetangga atau masyara-kat atau seretnya rezeki dan terlambatnya mendapat jodoh, mungkin saja ada kaitannya dengan ulah orang gaib, yang tidak senang akan sikapnya. Agar selamat hidup di akhirat, orang harus menjalankan kewajiban agamanya dengan tekun dan teratur dan memelihara hubungan baik dengan tetangga, seperti nampak pada gagasan tentang orang yang dapat diminta untuk melakukan upacara bahilah, sembahyang fiil, puasa fiil, dan sembahyang hadiah bagi kepentingan kerabat yang baru-baru meninggal dunia. Konon kesempurnaan ibadah sukar diperoleh, karena itu ibadah harus dilengkapi dengan ibadah-ibadah sunat dan berbagai-bagai amalan bacaan. Meski pun demikian kegiatan ibadah sunat sebenarnya tidak banyak dilakukan kecuali pada waktu-waktu tertentu. Selain itu di lapangan nampak ada berbagai usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, baik di dunia ini juga mau pun di akhirat kelak.

Ada orang yang memakai wafak agar disenangi orang banyak atau agar mudah berurusan dengan para pembesar atau rezekinya dalam bidang kegiatan mencari nafkah tertentu meningkat atau jodohnya segera ditemukan. Amalan bacaan (termasuk ayat atau surah al-Qur’an) tertentu mempunyai fungsi demikian pula. Berbagai minyak sakti konon diminum atau dioleskan di tubuh agar kebal atau kuat perkasa atau agar disukai orang. Kegiatan balampah, kurang lebih bertapa, konon akan menjadikan kehidupannya, baik rohani mau pun fisik, akan menjadi lebih baik.

Orang-orang tertentu mempersiapkan alat-alat makan dan minum yang terbaik untuk dihadiahkan oleh ahli warisnya ketika meninggalnya kepada orang yang memandikan mayatnya kelak, dengan anggapan bahwa alat makan dan minum itulah yang akan diguna-kannya dalam alam barunya nanti. Amalan bacaan tujuh laksa (tujuh puluh ribu) zikir, yang dilakukan oleh orang-orang tertentu setelah memperoleh otoritas (ijazah) untuk itu dari seorang alim, diyakini akan membebaskannya dari siksaan api neraka kelak di hari akhirat. Amalan bacaan lainnya (antara lain berwujud ayat-ayat atau surah al-Qur’an, rumusan selawat tertentu) berfungsi demikian pula. Mengaji tasawuf bermotifkan keselamatan di alam akhirat pula, dan dengan mengaji fikih diharapkan meningkatkan kualitas ibadah, dan secara tidak langsung menjanjikan keselamatan di alam akhirat pula. Berwakaf untuk rumah ibadah atau gedung sekolah diyakini akan membuahkan pahala amal terus menerus yang mengalir kepadanya sesudah matinya kelak, setidak-tidaknya selama barang wakaf itu digunakan orang (amal jariah). Mempunyai anak yang alim berarti akan menerima hadiah bacaan sewaktu-waktu bila meninggal kelak.

Keluarga yang tinggal juga dapat mengusahakan keselamatan, khususnya, warganya yang baru-baru meninggal dunia. Di daerah tertentu, ibadah sembahyang dan puasa almarhum yang tidak dilaksanakan atau diduga ada kekurangan ketika dilaksanakan di-tebus dengan sejumlah harta secara simbolis pada acara bahilah. Amalan tujuh laksa zikir almarhum dapat dilengkapi oleh majelis doa, dan demikian pula halnya amalan berupa surah Qulhu (surah al-Ikhlas), yang dilakukan sebelum mayat selesai dimandikan, dan itu sama halnya seperti dilakukan almarhum sewaktu hidupnya. Puasa dan sembahyang yang tidak terkerjakan selama almarhum sakit menjelang kematiannya di-mintakan di-kerjakan kepada orang alim tertentu (dinamakan puasa fiil dan sembahyang fiil). Dengan disembahyangkan oleh empat puluh orang, yang kemudian memohonkan ampunan untuknya dan menyatakan bahwa ia orang baik-baik, dosa-dosa almarhum akan diampuni dan almarhum tergolong dalam kelompok orang baik-baik. Dibacakannya al-Qur’an di samping kuburannya konon akan memaksa malaikat menun-da menyiksanya dan, di daerah tertentu, dengan dibacakan surah al-Qadar pada gum-palan tanah yang digunakan sebagai pengganjal mayat (agar tidak berubah posisinya dalam kubur) konon malaikat tidak dapat mendekat untuk menyiksa si mati. Sembahyang hadiah yang dimintakan dilakukan untuknya kepada seorang alim akan memberikan penerangan di dalam kuburnya; dan keluarga sewaktu-waktu dapat mengeluar-kan amal jariah atas nama almarhum dan berakibat yang sama dengan bila dikerjakan almarhum sendiri sewaktu hidupnya. Anak almarhum dapat sewaktu-waktu mengirimkan hadiah bacaan baginya.

Untuk mengusahakan keselamatan kerabat yang pergi haji, dilakukanlah selamatan menjelang berangkat, ketika akan berangkat, dan setiap malam Jum’at sampai kerabat tersebut tiba kembali di rumah. Di dalam selamatan menjelang berangkat dan setiap malam Jum’at dan terutama pada malam ketika jemaah haji berangkat menuju padang Arafah undangan lebih banyak, acaranya antara lain sembahyang hajat bersama. Di antara hidangan-hidangan dan bacaan-bacaan ketika selamatan itu diyakini akan mendinginkan suasana sekitar kerabat yang tengah menunaikan ibadah haji tersebut.

V. PENUTUP

KIRANYA dapatlah disimpulkan bahwa orang-orang Banjar termasuk penganut Islam yang taat menjalankan agamanya. Namun di dalam berbagai ungkapan religius mereka termasuk juga unsur-unsur yang tidak ada di dalam ajaran Islam, atau bahkan bertentangan dengannya. Yaitu antara lain kepercayaan tentang adanya orang gaib yang asalnya manusia yang tidak mati melainkan berpindah ke alam gaib (wapat) dahulu kala, dan berbagai upacara bersaji yang terkait, malaikat dan makhluk halus lain sebagai sahabat manusia, gagasan tentang tuah pada benda dan cara-cara untuk menentukannya, berbagai kelakuan yang bertujuan untuk menebus atau mengganti ibadah warga yang telah meninggal dunia dan guna menyantuni atau memberikan bekal bagi kehidupan dalam alam baru mereka, dan beredarnya rumusan-rumusan yang dibaca atau dilukis, antara lain ayat atau surah al-Qur’an dengan berbagai khasiat yang tertentu. Unsur pertentangannya dengan ajaran Islam antara lain terletak pada kenyataan adanya larangan memberikan persembahan bagi selain Allah SWT dan adanya larangan mengunjungi juru ramal.

Gagasan keislaman masyarakat Banjar seperti demikian itu terjadi karena dalam proses pengislaman secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan. Dengan demikian berbagai kegiatan ritual yang mengungkapkan kepercayaan bubuhan tersebut ke permukaan tetap dilaksanakan.

Namun orang Banjar dalam berbagai kesempatan selalu belajar, dan ini berdampak kepada corak keislaman mereka. Selain itu tempat-tempat bersemayamnya orang gaib semakin jauh saja dari pemukiman, dan berbagai ritus kelompok yang diharuskan dalam rangka kepercayaan bubuhan dicela sebagai perbuatan memuja setan dan pembiayaannya yang mahal dan menurunnya partisipasi warga kelompok bubuhan dan warga lingkungan, menyebabkan berbagai ritus akhirnya ditinggalkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: