• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Rido Dalam Kajian Tasawuf

Berbicara masalah ridho erat kaitannya dengan sikap dan pemahaman manusia atas karunia dan nikmat Allah. Ridho berasal dari bahasa Arab mengandung pengertian senang, suka, rela, menerima dengan sepenuh hati, serta menyetujui secara penuh[1], sedangkan lawan katanya adalah benci atau tidak senang. Kata ridha ini lazim dihubungkan dengan eksistensi Tuhan dan manusia, seperti Allah ridha kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, sedangkan dengan manusia seperti seorang ibu ridha anaknya merantau untuk menuntut ilmu[2].

Sedangkan dalam kajian tasauf perhatian lebih banyak ditujukan kepada upaya mengembangkan emosi ridha dalam hati calon sufi kepada Tuhan. Dikatakan bahwa  janganlah berharap memperoleh ridho Tuhan, bila dalam hati kita sendiri tidak tumbuh dengan subur emosi ridho kepada Nya. Di sini ditanamkan kesadaran bahwa ada tidaknya, atau besar kecilnya ridho Tuhan pada seseorang tergantung pada ada tidaknya atau besar kecilnya ridho hatinya kepada Tuhan[3].

Ridho kepada Tuhan, menurut para sufi, mengandung makna luas; ia mengandung antara lain makna-makna berikut: Tidak menentang kada dan kadar Tuhan, menerima kada dan kadar-Nya itu dengan senang hati, mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal di  dalamnya hanyalah perasaan senang dan gembira, merasa senang menerima malapetaka sebagaimana merasa senang menerima nikmat, tidak meminta surga dari Tuhan dan tidak meminta supaya dijauhkan dari neraka, tidak berusaha sebelum turunnya kada dan kadar, tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya, bahkan perasaan senang bergelora di waktu cobaan atau musibah datang[4]

Orang yang berhati ridho pada Allah memiliki sikap optimis, lapang dada, kosong hatinya dari dengki, berprasangka baik, bahkan lebih dari itu; memandang baik, sempurna, penuh hikmah, semua adalah rancangan, ketentuan, dan perbulatan Tuhan. Syekh Maulana Jalaluddin al-Rumi menggambarkan para sufi yang berhati ridho kepada Tuhan, antara lain sebagai berikut : “ Aku perkenalkan para wali, yang mulutnya tidaklah berkomat-kamit dengan lafal do’a; mereka adalah orang-orang mulia yang tunduk dengan hati ridho. Mereka memandang haram permohonan untuk menolak kadha. Mereka melihat bahwa pada kadha dan kadar Tuhan itu ada rasa nikmat yang khas, dan memandang kufur upaya memohon kelepasan darinya. Prasangka baik telah membuka dan memenuhi hati mereka, sehingga tidaklah mereka memakai pakaian biru karena sedih. Apa saja yang datang kepada mereka, menggembirakan hati mereka; ia akan berubah menjadi api kehidupan, kendati ia yang datang itu api; racun yang berada di kerongkongan mereka, mereka pandang seperti gula; dan batu di jalanan seperti permata; sama bagi mereka yang baik dengan yang buruk.[5] Semua sikap ini berkembang dari “husn az-zann”, prasangka baik mereka. Berdo’a bagi mereka suatu kekufuran, karena bila mereka melakukannya itu berarti mereka mengatakan: Ya Tuhan kami, robahlah kadha ini sehingga menjauh dari kami, atau robahlah kadha ini menguntungkan kami’…. Bagaimanakah jadinya dunia ini, bila ia harus berjalan menurut keinginan manusia, bukan menurut kadha dan kadar Nya? ”Demikianlah antara lain sikap sufi yang hatinya dipenuhi ridha kepada Tuhan. Kendati berdo’a disyariatkan oleh agama, mereka  karena mencapai tarap kerohanian yang tinggi,  tidak merasa pantas lagi meminta ini dan itu kepada Allah[6].

Pada abad ke 9 (3 H) telah muncul perbincangan di kalangan sufi, apakah ridha pada Allah itu termasuk hal atau maqam. Kendati segolongan sufi cenderung memandangnya sebagai hal dan yang lain memandangnya sebagai maqam, rumusan kompromi bisa saja diambil: ia disebut hal pada seseorang, bila ia ridha itu masih bersifat datang dan pergi, belum mantap dalam hatinya; dan disebut maqam, bila ridha itu, karena olah rasa, menjadi mantap dan terus menerus menetap dan menguasai hatinya. Dapat dipahami bahwa orang yang berhati ridho pada Allah itulah orang yang paling berbahagia di dunia, yang tentu berlanjut di akhirat. Ridha itu merupakan hal atau maqam yang amat tinggi dalam pandangan kaum sufi[7]


[1] Ahmad Warson Munawir “Kamus Al-Munawir” hal. 541

[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia “P dan K, Jakarta, 1986

[3] Abu Qosim Al-Qusyairi “Risalah Qusyairiyah” Bab. Ridho

[4] Abdullah Al-Haddad, Risalah Muawanah, hal. 271

[5] KH. Tholhah Hasan, “Dinamika Kehidupan Religius” hal. 146

[6] Ibid, hal. 147-149

[7] Prof. Harun Nasution, “Enseklopedi Islam” masalah ridho

Iklan

2 Tanggapan

  1. […] Abdullah Al haddad ridha/rido/ridho dapat membawa manfaat yang sangat besar bagi seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: