• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ritual Haji Masyarakat Banjar

Ketika akan pergi ke Mekkah, Orang Banjar yang akan menunaikan ibadah Haji akan dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula ketika kembali. Mereka melakukan berbagai kegiatan sunnat yang dianjurkan ketika bepergian, seperti sholat sunnat dua rakaat menjelang berangkat, membaca do’a ketika berada diatas kendaraan yang dianjurkan dalam kagiatan bepergian apapun dan tidak terbatas pada perjalanan haji dan umrah saja. Perjalanan haji dianggap kegiatan yang penuh resiko, dan kegiatan-kegiatan sunnat yang dianjurkan dianggap antara lain berfungsi untuk menghindarkan resiko tersebut. Resiko yang dimaksud konon bahaya yang dihadapi selama dalam perjalanan dan godaan-godaan syaitan yang dapat menyebabkan ibadah yang dilakukan berkurang atau hilang nilainya.[1]

Pergi merantau untuk menunaikan ibadah haji dan saat itu utamanya pergi haji, biasanya dilepas dengan berbagai upacara, yang berkelanjutan sampai yang bersangkutan kembali. Maksud dari upacara-upacara ini ialah untuk keselamatan yang bepergian selama dalam perjalanan sampai kembali, jaminan bahwa ia akan bertemu kembali dengan anggota kerabat dekat yang melepasnya bepergian. Peramalan dan harapan agar dihormati orang selama dirantau, dan pemberian restu saat berangkat dan saat tiba kembali.[2]

Berikut ini akan digambarkan berturut-turut kegiatan upacara yang dilakukan menjelang kepergian seorang warga untuk menunaikan ibadah haji. Upacara pelepasan pada saat berangkat, selamtan-selamatan selama masih dirantau yang dilaksanakan oleh kerabat dekat yang tinggal dan upacara penerimaan kembali anggota kerabat yang kembali dari tanah suci.

1. Ritual Menjelang Keberangkatan

Pada malam menjelang berangkat diadakan selamatan dengan mengundang tetangga-tetangga dekat, kerabat dekat, dan seorang atau beberapa orang alim di kampung itu, yang akan memimpin acara berdo’a dan bacaan-bacaan yang dibaca secara bersama-sama. Di antarannya:

1.   Membaca Surah Yasiin,[3]

2.   Sholawat Kamilah[4] sebanyak 27 kali,

3.   Fatihah empat[5] tiga kali,

4.   Ayat Kursi,[6] dan diakhiri dengan

5.   membaca Surah Fatihah

Ada pula yang diisi dengan:

1.      Qasidah burdah,

2.      surah Yasiin,

3.      Fatihah empat, dan

4.      salawat Munjiah[7]

Ritual sebagaimana tersebut di atas diakhiri dengan do’a Halarat dan makan bersama. Saji-saji yang harus disediakan adalah:

1.      Nasi ketan dengan inti sekurang-kurangnya satu gantang,[8]

2.      Cucur[9],

3.      Tapai Ketan, dan

4.      Ketupat Bangsul,[10]

Saji-saji ini biasanya harus dibawa ditengah majlis sebelum dibacakan do’a halarat, yang sebenarnya dihidangkan untuk tamu-tamu ialah biasanya nasi dengan lauk pauknya ditambah dengan hidangan dari saji-saji tadi. [11]

Di Rangas dan Anduhum selamatan ini juga dilakukan sesudah sembahyang isya menjelang yang bersangkutan meninggalkan rumahnya siang berikutnya. Acaranya hanyalah membaca surah yasiin bersama dan do’a selamat, dan diakhiri dengan makan bersama, tanpa ada hidangan berupa saji seperti halnya di Dalam Pagar.

Selain daripada itu, di Dalam Pagar dan Martapura umumnya ada kebiasaan memintakan restu berupa sembahyang hajat untuk keselamatan yang berangkat kepada tokoh-tokoh ulama tertentu, baik yang berada di kampung sendiri ataupun yang agak jauh rumahnya. Besok paginya, beberapa saat sebelum meninggalkan rumah, juga diadakan selamatan, yang akan berangkat haji duduk dekat tawing halat,[12] dan di Dalam Pagar biasanya di atas lapik.[13] Acara dimulai dengan membaca: surah Yasiin bersama, kemudian do’a selamat atau do,a halarat, kadang sebelum do’a dibaca pula sholawat kamilah bersama.

Di Dalam Pagar hidangan yang pokok ialah nasi ketan (dengan inti). Sedangkan di Rangas konon tidak ada hidangan wajib yang spesifik; disini sering dihidangkan kue-kue yang dibeli dari pasar. Di Dalam Pagar acara dilanjutkan dengan menepung tawari[14] yang akan berangkat oleh kerabat dekatnya yang akan tinggal dan para hadirin tertentu, lalu kemudian dihidangkan kepadanya saji berupa minyak kelapa, gula pasir, kacang hijau (mentah), garam dan air putih, masing-masing dalam sebuah tempat sendiri-sendiri dan sebuah piring berisi sebuah kelapa (sekerat), gula merah dan garam, kesemua saji ini biasanya diletakkan di dalam sebuah talam, yang bersangkutan diminta untuk memakan (dalam bahasa setempat dikatakan sebagai mengutup, menggigit dengan gigi seri) sedikit daripada yang dihidangkan dalam piring, dan apa yang lebih dahulu diambilnya konon meramalkan, atau mungkin lebih baik merupakan do’a dan harapan tentang perlakuan yang akan diterimanya selama dirantau.

Jika ia mengambil garam untuk dicicipinya, maka segala perkataannya akan diperhatikan orang dan ia akan memperoleh penghargaan di sana. Bila kelapa yang diambilnya konon segala perkataannya akan terasa enak didengar orang, dan bila yang diambilnya gula merah, segala yang dikatakannya atau diperbuatnya dirasakan manis atau sedap oleh orang, sebaliknya bila ia tidak mengambil salah satunya, konon pertanda segala perlakuan yang telah disebutkan tadi tidak akan diperolehnya dinegeri orang.[15]

Di Rangas dan Anduhum tidak diketahui adanya acara menepung tawari adanya saji berupa lambang kemakmuran, dan acara mengutup saji. Seperti yang terjadi di Dalam Pagar. Di sana acara langsung dilanjutkan dengan mengucapkan kalimat syahadat, yang dilakukan oleh si calon haji dan salah seorang kerabat dekatnya (orang tua, anak, saudara, suami, istri), yang akan ditinggalkan. Kerabat yang akan ditinggal mengucap kalimat syahadat yang diiringi oleh yang akan pergi dengan mengucapkan kalimat kedua. Konon karena kedua kalimat syahadat melambangkan Allah (kalimat pertama) dan Muhammad (kalimat kedua), yang adalah tidak akan terpisah selama-lamanya, maka yang berangkat (dilambangkan sebagai Muhammad) tidak akan meninggal dunia sebelum bertemu kembalidengan yang ditinggalkan (dilambangkan sebagai Allah).

Di Rangas segera, setelah membaca dua kalimat syahadat dibacakan adzan, lalu yang bersangkutan membaca do’a dan langsung berdiri dan keluar dari rumahnya, diiringi oleh orang banyak. Pada saat meninggalkan pintu salah seorang yang alim membacakan sholawat dan menghamburkan beras kuning yang di sahuti berasmai ramai. Tatkala duduk di atas kendaraan yang bersangkutan membaca do’a pula. Do’a yang di baca ketika akan turun dari rumah bsrisi penyerahan diri pada tuhan tentang kejadian kejadian yang akan dating, dan yang dibaca ketika dalam kendaraan pada pokoknya berisi pujian kepada Tuhan yang memungkinkan manusia menggunakan fasilitas angkutan yang mereka gunakan.[16]

2. Ritual Selama Masih Dirantau.

Sejak saat berangkat setiap malam Jum`at kerabat yang tinggal menyelenggarakan selamatan untuk keselamatan yang pergi. Di Rangas acaranya di mulai sejak senja, yaitu sembahyang magrib bersama, sembahyang hajat bersama, membaca surah Yasin bersama, do’a, sembahyang isya bersama, dan di akhiri dengan makan malam bersama. Di Dalam Pagar demikian juga adanya, hanya acara sembahyang hajat diganti dengan membaca sholawat kamilah atau sholawat munjiah bersama, sebagian ada yang memulainya sesudah sembahyang Isya atau pada siang hari Jum`at setelah kembali dari mesjid. Khusus pada malam hari Arafah (malam tanggal 9 Dzulhijjah), diadakan pula kegiatan selamatan yang sering dimulai sesudah sembahyang isya. Kali ini undangannya lebih banyak dari biasanya, sedang acaranya sering sama saja seperti selamatan pada malam sebelum berangkat.

Di Dalam Pagar konon selamatan ini penting sekali, karena saji-saji dan bacaan-bacaan akan dirasakan akibatnya oleh kerabatnya di Makkah, yaitu mengurangi panasnya terik matahari di sana.

3. Ritual  Penyambutan

Seperti halnya pada waktu berangkat, pada waktu penjemputan juga ramai. Beberapa orang tetangga dan kerabat dekat sengaja menjemput kelapangan terbang dan kemudian bersama-sama menuju rumah. Di rumah diadakan persiapan-persiapan, yaitu membuat pintu gerbang (lawang sakiping)[17] yang dihiasi dengan rumbai-rumbai (biasanya) daun kelapa muda, dan memasang langit-langit dari kain putih mulai dari pintu rumah ke pintu gerbang. Orang haji yang baru tiba harus melalui pintu gerbang dan lewat di bawah langit-langit itu ketika menuju rumahnya. Di Rangas, orang pulang haji tidak langsung menuju rumah, melainkan pergi ziarah terlebih dahulu ke kuburan orang tua atau kerabat dekat lainnya, ada juga dalam kesempatan itu singgah dahulu kekuburan keramat tertentu. Di kuburan itu ia membaca surah yasiin. Di Dalam Pagar acara ziarah biasanya dilakukan setelah beberapa hari kemudian. Pada saat menaiki anak tangga atau memasuki pintu di bacakan sholawat dan dihamburkan beras kuning, seperti halnya ketika berangkat. Setelah menyalami hadirin, kadang-kadang disertai pelukan hangat, ia segera mengambil tempat duduk di atas lapik yang telah disiapkan di dekat tawing halat, lalu ada acara mengembalikan bacaan syahadat atau menyatukan kembali dua kalimat syahadat.

Di Rangas acaranya segera berakhir dengan do’a dan hidangan makanan kecil. Di Dalam pagar sebelum menyatukan kembali dua kalimat syahadat, kerabat yang ditinggalkan menepung tawari kerabatnya yang baru tiba, baru kemudian acara mempersatukan dua kalimat syahadat, lalu diakhiri dengan pembacaan do’a. hidangan yang teradat di kampung terakhir ini adalah nasi ketan dengan inti, kadang-kadang ditambah dengan hidangan lain. Berkenaan dengan pelukan hangat bagi atau dari seorang haji baru tampaknya mempunyai nilai tersendiri, berkat yang diperoleh sang saji biasanya memerlukan sekali menggunakan harum-haruman yang sengaja dibawanya dari negeri yang jauh itu. Pelukan-pelukan hangat ini juga diberikannya kepada tetangga-tetangganya di mesjid pada minggu-minggu pertama ia mengikuti sembahyang Jum`at.[18]


[1]ibid, h.  223.

[2] Ibid, h. 475

[3] Surah ke 36 dari Al-Qur`an

[4]Shalawat Kamilah adalah Salawat yang sempurna, yang dipercayai akan memperluas rezki orang yang mengamalkannya

[5] Istilah untuk membaca empat surah pendek yaitu Surah Al-Fatihah, As-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

[6] Ayat kuris juga sering disebut dengan  ayat Allahula, yaitu ayat 225 dari  Al-Qur`an Surah Al-Baqarh.

[7] salawat yang menyelamatkan, dipercayai akan melindungi orang yang mengamalkannya dari malapetaka yang akan menimpa

[8] Gantang adalah takaran yang biasanya digunakan oleh masyarakat Banjar untuk menakar beras, satu Gantang kurang leibh 4 liter.

[9] Nama kue yang terbuat dari tepung beras berbentuk lempeng

[10] salah satu bentuk ketupat ini dimasak dengan santan Penghidangan ketupat bangsul merupakan harapan yang akan pergi haji tetap bangsul/kembali

[11] Alfani Daud, Op. cit, h. 173

[12] Tawing halat yaitu dinding rumah yang terletak di ruang tengah, dipercayai sebagai penghalat dari segala kejahatan orang-orang halus.

[13] Lapik, merupakan susunan dari tapih/sarung yang disusun sedemikian rupa.

[14] Memercikkan air dicampur minyak likat baboreh dengan menggunakan anyaman daun kelapa yang disebut tepung tawar

[15] Alfani Daud, Op. cit., 475-477.

[16] Ibid

[17] Terbuat dari papan/ triplek yang dibentuk, berupa mesjid didirikan dimuka jalan , pada jalan yang akan dilewati oleh orang yang dating haji.

[18] Ibid., h.478-479.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: