• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Sekilas Tentang Harun Nasution

Harun Nasution lahir Selasa, 23 September 1919 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Putra dari Abdul Jabbar Ahmad, seorang pedagang asal Mandailing dan qadhi (penghulu) pada masa pemerintahan Belanda di Kabupaten Simalungun, Pematang Siantar. Ayah Harun juga seorang ulama yang menguasai kitab-kitab Jawi dan suka membaca kitab kuning berbahasa Melayu. Sedangkan, ibunya seorang boru Mandailing Tapanuli, Maimunah keturunan seorang ulama, pernah bermukim di Mekkah, dan mengikuti beberapa kegiatan di Masjidil Haram.[1] Harun berasal dari keturunan yang taat beragama, keturunan orang terpandang, dan mempunyai strata ekonomi yang lumayan. Kondisi keluarganya yang seperti itu membuat Harun bisa lancar dalam melanjutkan cita-citanya mendalami ilmu pengetahuan.

Harun memulai pendidikannya di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandche School (HIS) pada waktu berumur 7 tahun. Selama tujuh tahun, Harun belajar bahasa Belanda dan ilmu pengetahuan umum di HIS itu;[2] dia berada dalam lingkungan disiplin yang ketat. Di lingkungan keluarga, Harun memulai pendidikan agama dari lingkungan keluarganya dengan belajar mengaji, shalat dan ibadah lainnya. Setelah tamat HIS, Harun merencanakan sekolah ke MULO. Akan tetapi, orang tuanya tidak merestui, karena menganggap pengetahuan umum Harun sudah cukup dengan sekolah di HIS. Akhirnya, Harun melanjutkan pendidikan ke sekolah agama yang bersemangat modern, yaitu, Moderne Islamietische Kweekschool (MIK), semacam MULO, di Bukittinggi.[3]

Setelah sekolah di MIK, ternyata sikap keberagamaan Harun mulai tampak berbeda dengan sikap, keberagamaan yang selama ini dijalankan oleh orang tuanya, termasuk lingkungan kampungnya. Harun bersikap rasional sedang orang tua dan lingkungannya bersikap tradisional. Karena itulah, oleh orang tuanya, Harun dipindahkan belajar agama ke Arab Saudi.[4]

Di negeri gurun pasir itu, Harun tidak lama dan memohon pada orang tuanya agar mengizinkannya pindah studi ke Mesir. Di Mesir, dia mulai mendalami Islam pada Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, namun beliau tidak puas dan pindah ke Universitas Amerika di Kairo. Di Universitas itu, Harun bukan mendalami hukum-hukum Islam melainkan mendalami ilmu pendidikan dan ilmu sosial.[5]

Setelah selesai dari Universitas tersebut, dengan mengantongi ijazah BA, Harun bekerja di perusahaan swasta dan kemudian di konsulat Indonesia-Kairo. Dari konsulat itulah, putra Batak yang mempersunting gadis Mesir (bernama Sayedah) ini, memulai karir diplomatiknya. Dari Mesir, Harun ditarik ke Jakarta bekerja sebagai pegawai Departemen Dalam Negeri dan kemudian menjabat sebagai sekretaris pada kedutaan besar Indonesia di Brussel.

Situasi politik dalam negeri Indonesia pada dekade 60-an membuat Harun mengundurkan diri dari karir diplomatik dan pergi ke Mesir. Di Mesir, Harun kembali menggeluti dunia ilmu pengetahuan di Sekolah Tinggi Islam, di bawah bimbingan seorang ulama fikih Mesir terkemuka, Abu Zahrah. Ketika itu, Harun mendapat tawaran untuk mengambil studi Islam di Universitas McGill, Kanada. Pada tingkat magister Harun menulis tentang “Pemikiran Negara Islam di Indonesia”, sedang untuk disertasinya, Harun menulis tentang “Posisi Akal dalam Pemikiran Teologi Muhammad Abduh”.

Setelah meraih gelar doctor,[6] Harun kembali ke tanah air dan mencurahkan perhatiannya pada pengembangan pemikiran Islam di berbagai IAIN yang ada di Indonesia. Bahkan, Harun Nasution pernah menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk dua periode dan paling lama (1973/1978 dan 1978/1984).[7] Kemudian dengan berdirinya program pascasarjana, Harun menjabat sebagai direktur program pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sampai meninggal dunia (1998), di usianya lebih kurang 79 tahun.

Mencari Islam di Barat

Sekitar tahun 1936, Harun pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir. Harun sangat tertarik dengan negeri Mesir karena negeri itu sudah berkembang maju dan hasilnya tampak nyata dengan munculnya tokoh-tokoh penting Indonesia seperti Mahmud Yunus, Mukhtar Yahya, Bustami A. Ghani.[8]

Ketika sampai di Mekkah, Harun bare radar bahwa dia sedang berada di suatu negara, suatu kota, atau suatu daerah bercorak abad pertengahan di abad modern (abad ke-20). Di sana tidak ada mobil; yang ada hanya unta atau keledai, jalanan penuh debu, pasir, kotor, dan penuh lalat. Orang-orangnya berpakaian tradisional. Begitu pula di dalam rumah, tidak ada meja atau kursi. Keluarga duduk di lantai. Melihat kondisi itu, Harun berpikir, bagaimana bisa berhasil belajar di Arab. Usai musim haji, Harun coba mencari sekolah. Semua sekolah berbahasa Arab. Harun belum bisa berbahasa Arab dengan baik. Untuk itu, Harun mencari guru dan belajar bahasa Arab, tapi tak ada guru yang khusus mengajarkan bahasa Arab. Harun bertemu dengan seorang Abdussalam dari Medan. Harun belajar Bahasa Arab padanya, tapi lambat.[9] Akhirnya, setelah satu setengah tahun di Mekkah, tanpa penambahan ilmu yang sangat berarti, Harun dengan izin dari orang tuanya, melanjutkan menuntut ilmu agama ke Mesir.

Harun tiba di Mesir pada tahun 1938. Dia tinggal serumah bersama para pelajar dari Tapanuli. Dari teman serumahnya itu, Harun tahu di Al-Azhar ketika itu ada dua macam pelajaran. Satu sudah modern, yakni Universitas Al-Azhar, yang terbagi ke beberapa fakultas, memakai papan tulis, dan lain-lain. Sedang, satunya lagi seperti di Masjidil Haram Mekah, tapi proses belajar dengan cara menghafal dan tidak ada kemungkinan berbeda pendapat dengan guru. Dalam hal ini, Harun tidak bisa langsung masuk ke Universitas karena dia hanya memegang surat keterangan selesai kelas tiga MIK Bukittinggi. Beberapa temannya menyarankan, bila mau memasuki Universitas, Harun harus mengambil pelajaran untuk memperoleh Ijazah Ahliyyah, semacam tanda lulus masuk Universitas dan setiap tahun dibuka.[10]

Setelah belajar dengan sangat serius,[11] Harun memperoleh tanda lulus untuk masuk Universitas. Dia memasuki Universitas Al-Azhar pada fakultas Ushuluddin karena ada pelajaran umumnya. Di fakultas itu, Harun belajar filsafat, ilmu jiwa, dan etika serta ilmu kalam. Selain bahasa Arab, diajarkan juga bahasa Inggris dan Prancis. Ketika tahap penyelesaian kuliah di Al-Azhar ini, Harun merasa bahwa ilmu agama yang diperolehnya masih sangat minim sementara selesai nanti dia akan membawa ijazah Al-Azhar yang besar. Dia merasa belum memiliki apa-apa. Untuk itu, tanpa meninggalkan Al-Azhar, Harun masuk ke Universitas Amerika yang juga ada di Kairo. Di Universitas itu, Harun mengambil fakultas pendidikan. Untuk mendapatkan ijazah sarjana muda, di fakultas itu, Harun harus menulis karya ilmiah. Harun menulis tentang perburuhan di Indonesia dalam bahasa Inggris. Judul itu diambil Harun karena dosennya ingin mengetahui bagaimana perburuhan di Indonesia untuk diperbandingkan dengan perburuhan di Mesir.[12]

Di samping kuliah, Harun mendapat pengalaman lain di Mesir. Dia menemukan semangat nasionalisme sedang bergema di Mesir, dibangun oleh Mustafa Kamil. Harun dan teman-temannya tidak mau ketinggalan menikmati semangat nasionalisme itu. Bahkan, Harun dan teman-temannya dari Indonesia sering dicemooh oleh orang-orang Mesir dengan mengatakan “kalian punya bangsa lima puluh juta orang, tidak bisa mengusir Belanda yang hanya punya bangsa tujuh juta orang”. Dari sinilah ide tentang politik masuk dalam pemikiran Harun. Dia dan teman-temannya yang lain di Perpindom (Perkumpulan Pemuda Indonesia Malaysia) membentuk seksi politik dengan tugas memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di antara usaha yang dilakukan adalah memperkenalkan Indonesia kepada rakyat Mesir, terutama kepada pemimpinnya. Selain itu sebaliknya, Harun dan teman-teman lainnya membuat karangan tentang perkembangan politik dan pendidikan di Mesir untuk kemudian dikirimkan ke surat-surat kabar Indonesia. Ketika itu, Harun mulai memikirkan cara politik yang tidak melalui partai. Akhirnya, setiap mahasiswa yang mau jadi anggota Perpindom, dibangkitkan semangat nasionalismenya melalui ceramah, diskusi, dan perternuan?pertemuan lainnya.[13]

Namun, kondisi itu terhenti lantaran dengan tiba-tiba perang dunia kedua terjadi. Tentara Jepang masuk ke Indonesia. Hubungan Indonesia dengan Belanda di Mesir terputus. Uang kiriman Harun macet, dia tidak bisa belajar lagi, kuliahnya di Universitas Amerika terbengkalai. Harun terpaksa mencari pekerjaan, pada tentara. Inggris (1943) dengan maksud bisa melanjutkan studinya di Universitas Amerika. Dia bekerja sebagai klerk, katib atau juru tulis di tentara Inggris karena bisa berbahasa Inggris dengan baik[14] Kemudian, Harun pindah bekerja ke Philips SA, sebuah perusahaan radio dan lampu milik sipil yang sangat memerlukan seorang yang bisa berbahasa Belanda. Di situ, Harun menemukan kawan yang banyak, dari Mesir, Yahudi, dan Itali. Namun, sebagaimana sebelumnya, di perusahaan ini pun Harun juga tidak mempunyai waktu untuk melanjutkan studinya. Setelah tiga tahun bekerja di perusahaan Philip itu, Harun pindah menjadi perwakilan RI-Kairo, karena Indonesia telah merdeka.. Harun diposisikan sebagai bagian Inggris di perwakilan itu dengan H.M. Rasyidi sebagai Ketua Kantor. Tahun 1953, Harun disuruh pulang ke Indonesia dan bekerja di Departemen Luar Negeri Bagian Timur Tengah. Di bagian itu tugas Harun relatif tidak ada pekerjaan kecuali hanya membaca surat kabar terbitan Timur Tengah. Setahun kemudian, 1954, Harun karena menguasai bahasa Arab ditugaskan sementara ke Saudi untuk mengurus jamaah haji. Akhir Desember 1955, Harun dipekerjakan di Kedutaan RI di Brussel. Selama tiga tahun Harun bekerja si sana. Dia menjadi sekretaris dan Mr. Razif sebagai dutanya.[15]

Pada tanggal 20 September tahun 1962 Harun pergi ke McGill Kanada untuk memperoleh pendidikan Islam sebagaimana yang ia inginkan yaitu pandangan Islam yang luas kajian secara modern dengan membaca buku-buku yang ditulis orang islam sendiri maupun oreintalis. Di McGill Harun sadar pengajaran Islam di barat sangat modern berbeda dengan pengajaran di negeri-negeri Islam. Di sinilah Harun mendapat gelar MA dan Ph,D dalam Islamic Studys.


[1] Harun adalah putra keempat dari lima bersaudara, yakni H.M. Mohammad Ayyub, H.M. Khalil, Sa’idah, Harun, dan Hafsah. Lihat, Aqib Suminto dkk, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam 70 Tahun Harun Nasution, LSAF, Jakarta, 1989, h. 1-5.

[2] Pelajaran yang paling disenangi Harun adalah pengetahuan alam dan sejarah. Cita-cita Harun ingin menjadi guru, karena kedudukan guru saat itu sangat dihormati masyarakat. Lihat, ibid., h. 6

[3] MIK adalah sekolah guru menengah pertama swasta modern milik Abdul Ghaffar Jambek, putra Syekh Jamil Jambek. Di sinilah, Harun belajar agama selama tiga tahun dengan bahasa pengantar antara lain bahasa Belanda. Lihat, ibid., h. 6-7.

[4] Lihat, ibid., h. 9-12.

[5] Lihat, ibid., h. 15

[6] Harun menguasai bahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Perancis. Lihat, Aqib Suminto dkk, op. cit., h. 20.

[7] Selain Harun Nasution yang pernah memimpin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah Prof. R.H.M.A Soenarjo, SH (1960-1963), Prof. Drs. H.M. Soenardjo (1963-1969), Prof. HLM. Bustami A. Gani (1969-1970), Prof. H.M. Toha Yahya Oemar, MA (1970-1973), Prof. Dr. Harun Nasution (1973­1984), Drs. HM. Ahmad Syadali (1984-1992), Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab, MA (1992-1998), dan Prof. Dr. Azyumardi Azra (1998-sekarang). Sebagian lihat, Tim Penyusun Buku Pedoman IAIN Syarif Hidayatullah, Buku Pedoman IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, edisi 12, Jakarta, 1995/1996, h. 7-8.

[8] Lihat, Aqib Suminto dkk, op. cit., h. 11

[9] Selama di Mekkah, Harun melihat banyak pengetahuan agama yang bisa diperolehnya, tapi lantaran kondisi daerahnya sangat tradisional, dia tidak bisa belajar dengan baik. Bahkan, Harun hanya menghabiskan waktunya dengan minum di kedai kopi (gahweh). Dia bergaul dengan teman-teman yang tidak belajar. Setiap hari, dia mendatangi kedai, lalu ngobrol, dan habis itu pulang ke rumah, masak, makan, dan, tidur. Kalaupun Harun belajar, hanya sendirian atau sekedar bertukar pikiran dengan sepupunya yang tinggal satu kamar, Maddin Malik. Lihat, ibid,. hlm. 11 -12.

[10] Ibid, h. 13.

[11] Untuk ini, setiap hari selama empat bulan, sesuai saran teman-temannya, Harun menggaji guru privat datang ke rumahnya (namanya Hasabullah, seorang Mahasiswa Fakultas Syariah Universitas AI-Azhar asal Asahan), untuk mengajarkan bahasa Arab dan ilmu agama lainnya. Selama itu juga, Harun belajar membaca mata ujian balaghah, nahwu, sharaf, dan manthiq, dan cara menjawab pertanyaan dalam ujian nanti. Lihat, ibid., hlm. 14.

[12] Ibid h. 15-16

[13] ibid., h. 16-17. Dalam pertemuan-pertemuan itulah, Harun antara lain mulai terbiasa membuka acara tidak pakai basmalah dan al-Fatihah, melainkan dengan lagu Indonesia Raya. Bahkan, masuk ke suatu pertemuan atau ruangan pun, Harun mulai terbiasa dengan tidak mengucapkan salam, melainkan selamat pagi atau sesuai kondisi.

[14] Ketika itulah, Harun disarankan oleh teman-temannya untuk menikah yang akhir-nya dituruti oleh Harun dengan menikahi seorang gadis Mesir, yang sampai akhir hayatnya tetap setia mendampingi Harun. Lihat, ibid., h. 17-19.

[15] Ibid, h. 23-26

Iklan

Satu Tanggapan

  1. […] membuktikan kepada kita Harun Nasution adalah pengusung ide rasionalisme dalam Islam dengan menggunakan pemdekatan teologi rasional […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: