• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Sekilas Tentang Muhammad Arsyad Al-Banjari

Muhammad arsyad al-banjari atau yang akrab dikenal oleh orang banjar (suku dikalimantan selatan) dengan sebutan datu kalampayan, lahir di desa lok gabang martapura, kalimantan selatan pada 15 safar 1122H, bertepatan dengan 19 maret 1710m.dia merupkan putra tertua dari lima bersaudara,ayahnya bernama abdullah dan ibunya benama siti aminah.muhammad arsyad lahir di lingkungan keluarga yang terkenal taat beragama.kondisi lingkungan yang baik ini mempunyai andil yang besar dalam membentuk kepribadian muhammad arsyad selanjutnya.

Ketika dia berumur sekitar 7 tahun, sultan Tahlillah (1700-1745)m, penguasa kesultanan banjar padan waktu itu meminta kepada orang tua muhammad arsyad agar bersedia menyerahkan anaknya untuk dididik dan di besarkan di lingkungan istana sekeligus diadopsi sebagai anak angkatnya.keinginan ini dilakukan karena sultan tertarik dengan kecerdasan dan keterampilan arsyad muda ketika mengadakan kunjungan kerja ke desa lok gabang. Meskipun Abdullah dan aminah, orang tua Muhammad Arsyad, sebetulnya mereka keberataan untuk melepaskan anak tertuanya itu untuk di adopsi sultan, namun mereka tidak kuasa untuk menolak maksud baik sultan. Merekapun meyerahkan anaknya kepada sultan untuk tinggal bersama anak-anak dan cucu-cucu keluarga istana. Muhammad Arsyad tinggal di lingkungan istana kesultanan Banjar ini selama sekitar dua puluh tahun,karena pada umur sekitar 30 tahun dia merantau untuk menuntut ilmu di Haramain; Mekkah dan Madinah. Ia belajar di Mekkah kurang lebih 30 tahun dan belajar di Madinah kurang lebih 5 tahun. Dia kembali lagi ke Banjar pada Bulan Ramadhan 1186 H/Desember 1772.

Sebelum berangkat menuntut ilmu kemekkah dan madinah, Muhammad Arsyad dikawankan oleh sultan dengan seorang wanita bernama Bajut yang ditinggalkannya dalam kondisi hamil.Istrrinya ini melahirkan seorang bayi perempuan yang kemudian diberi nama Syarifah, Ketika Muhammad Arsyad masih berada di perantauan,sibuk menggeluti pelajaran-pelajarannya.Ktika Syarifah sudah beranjak dewasa, dia ( sebagai wali mujbir ) mengawinkan dengan sahabatnya sendiri ‘Abd Al wahab Bugis, sedangkan sultan (sebagai wali hakim) juga menikahkan dengan sesorang yang bernama Usman (permasalahan ini dibahas lebih lanjut dalam pemikiran Syekh Arsyad dalam Ilmu Falak).

Sekembalinya dari tanah suci, syekh arsyad aktif melakukan penyebaran agama islam di wilayah kalimantan selatan melalui jalur pendidikan, dakwah, tulisan dan keluarga.dalam jalur pendidikan, dia mendirikan pondok pesantren lengkap dengan sarana dan prasarananya, termasuk sestem pertanian untuk menopang kehidupan para santrinya. Dalam jalur dakwah, dia mengadakan pengajian-pengajian umum baik untuk kalangan kelas bawah maupun kalangan istana.dalam tulisan, dia aktif menulis kitab-kitab yang bisa dibaca hingga sekarang.sedangkan dalam jalur keluarga, dia melakukan dakwah dengan mengawini para wanita-wanita terhormat untuk mempermudah penyebaran islam di masyarakat, sehingga dalam catatan sejarah, ada 11 orang isteri dalam kehidupannya.dia mengawini para isterinya tidak bersamaan dan tidak lebih dari empat orang dalam hidupnya, tetapi apabila salah seorang isterinya meninggal, dia menikah lagi dan begitu seterusnya. Syekh arsyad dapat berlaku bijaksana dan adil terhadap para isterinya, sehingga mereka hidup rukun dan damai.

Isteri-isteri syekh arsyad tersebut adalah: 1. Bajut; melahirkan syarifah dan aisyah. 2. Bidur; melahirkan Kadi H. Abu Suud, saidah, Abu Na’im, dan Khalifah H. Syahab Al-Din. 3. Lipur; melahirkan Abd Al-Manan, H.Abu Najib, alim al-Fadhil H. Abd Allah, Abd Al-Rahman, dan alim al-Fadhil Abd Al-Rahim. 4. Guwat (keturunan cina; Go Hwat Nio); melahirkan Asiyah, Khalifah H.Hasanuddin, Khalifah H.Zain Al-Din,Rihanah,Hafsah, dan Mufti H.Jamal Al-Din.Dalam perkawinan ini, Syekh Arsyad berusaha menyebarkan islam dikalngan Tionghoa, dia tidak merubah nama isterinya untuk menunjukkan bahwa islam tidak akan merubah tradisi mereka, asal tidak bertentangan dengan ajaran pokok islam. 5. Turiyah; melahirkan Nur’ain, Amah, dan Caya. 6. Ratu Aminah;melahirkan Mufti H.Ahmad, Safia, Safura, Maimun, Salehah, Muhammad, dan Maryamah. 7. Palung; melahirkan salamah, salman, dan saliman. 8. Kadarmik. 9. Mardikah. 10. Liyyuhi. 11. Dayi.(keempat isteri yang terakhir ini tidak memberikan keturunan).

Syekh Arsyad melakukan dakwah di Banjar selama kurang lebih 40 tahun. Menjelang ajalnya, dia menderita sakit lumpuh, darah tinggi, dan masuk angin dan akhirnya meninggal 6 Syawal 1227H/13 Oktober 1812M dalam usia 105 tahun (hitungan tahun hijriyah) atau 102 tahun (hitungan masehi), dan dimakamkan di Kalampayan, Astambul, Banjar,Kalimantan Selatan.

 

Riwayat Pendidikan

Muhammad Arsyad hidup di tengah-tengah lingkungan keluarga yang taat beragama, dan di sinilah, untuk pertama kalinya dia memperoleh pendidikan dan teladan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Di usia yang sengat belia (sekitar umur tujuh tahun), dia telah fasih membaca al-Qur’an. Ketika sultan Tahlil Allah, penguasa kesultanan Banjar pada waktu itu, mengadakan kunjungan kerja ke Desa Lok Gabang, Sultan tertarik dengan kecerdasan dan keterampilan Arsyad muda dan meminta kepada orang tuanya untuk dididik di lingkungan istana dan dijadikan anak angkat. Di sinilah Muhammad Arsyad memperoleh pendidikan yang lebuh berkualitas dari para guru yang didatangkan Sultan ke istana.

Ketika Syekh Muhammad Arsyad berusia sekitar 30 tahun, Sultan Tahlillah mengirimkan dia ke Mekkah untuk menuntut ilmu dengan biaya istana. Ketika berada di Mekkah, Syekh Arsyad belajar bersama dengan tokoh-tokoh abad ke-18 lainnya; Syekh Abdussamad Al-Palimbani dari Palembang Sumatera Selatan, Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman Al-Masri Al-Batawi Jakarta. Keempat serangkai ini adalah sama-sama murid seorang sufi besar, Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani Al-Madani dari Madinah.

Pada mulanya, empat serangkai ini bermaksud melanjutkan studinya ke Mesir, tetapi oleh gurunya, Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi, mereka disarankan pulang ke kampung halaman masing-masing. Imam Haramain tersebut menilai bahwa bekal keilmuan mereka sudah memadai untuk membina umat di daerah-daerah tempat asal mereka, sehingga mereka tidak perl lagi melanjutkan studi ke Mesir, lagi pula umat di kampung halaman masing-masing lebih membutuhkan pembinaan dari mereka. Namun menurut Azyumardi Azra (1998) mereka memutuskan tetap pergi ke Mesir, tetapi hanya berkunjung, bukan melanjutkan studinya. Indikasi ini ditunjkkan dengan pemberian gelar kepada salah seorang teman Syekh Arsyad, yaitu Syekh Abdurrahman dari Betawi dengan gelar al-Misry pada namanya.

 

Karir Keilmuan

1. Bidang fatwa

2. Bidang Ilmu Falak

a.  kasus arah kiblat

b. kasus perkawinan

3. Bidang Pendidikan dan Pertanian

4. Bidang Dakwah

5. Bidang Tasawuf

6. Bidang Kenegaraan

a.  pembentukan syari’at islam

b. pembentukan mahkamah syari’ah dan jabatan mufti

7. Bidang Fiqih

a.  shalat berjama’ah

b. zakat

c.  penguburan mayat

 

Karya

Karya terbesar Syekh Arsyad adalah Kitab Sabilal Muhtadin, Kitab yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu tulisan Arab ini merupakan kitab fiqih mazhab Syafi’i, ditulis mulai tahun 1193-1195 H/ 1779-1781 M, terdir dari dua jilid yang masing-masing berisi 500 halaman.

Kitab-kitab fiqih lainnya adalah Luqthah al-Ajlan, Kitab al-Nikah, Kitab al-Faraidh, dan Hasiyah Fath al-jawad (Komentar terhadap Buku Pembukaan Kemurahan Hati).

Kitab-kitabnya dalam bidang tauhid, di antaranya: Ushul al-Din, Tuhfah al-Raghibin fi bayan Haqiqah Imam al-Mu’minin wa Mayufsiduh min Riddah al-Murtaddin (Hadiah Bagi Para Pencinta dalam Menjelaskan Hakikat Imam para Mukmin dan Apa yang Merusaknya;Kemurtadan Orang-Orang Murtad), Qaul al-Mukhtashar fi Alamah al-Mahd al-Muntadzar (pembicaraan Singkat tentang Tanda Imam Mahdi yang Ditunggu), dan Tarjamah Fath al-Raman. Sedangkan kitabnya dalam bidang tasawuf adalah Kanz al-Ma’rifah (Gudang Pengetahuan). Disamping itu, dia juga menulis Mushaf al-Qur’an dengan tulisan tangan Syekh Arsyad dalam ukuran besar yang hingga sekarang masih dipajang di dekat makamnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: