• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Suku Bangsa Banjar

SUKU bangsa Banjar ialah penduduk asli sebagian wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kota Baru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya, setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasanya dinamakan secara umum sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan, terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu dan Banjar (Kuala). Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah sungai-sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke Pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami daerah sekitar Banjarmasin (dan Martapura). Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya ialah bahasa Melayu, sama halnya seperti ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya, yang di dalamnya terdapat banyak sekali kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.

Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu, sebelum dihapuskan pada tahun 1860, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibu-kotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan arah ke pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi. Orang Banjar memeluk agama Islam dantergolong taat men-jalankan perintah agamanya..[1]

Bangsa Banjar sering diidentikkan dengan Islam, sehingga pada kasus orang dayak yang memeluk agama Islam dikatakan sebagai “menjadi orang Banjar”.[2] Dalam kenyataannya memang boleh dikatakan “semua” orang Banjar menganut agama Islam, dan mereka relatif taat menjalankan agamanya.[3]


[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997) . Cet. 1, h. 1-4

[2] Ibid, h. 5

[3] Ibid, h. 143-173

Iklan

4 Tanggapan

  1. […] akan pergi ke Mekkah, Orang Banjar yang akan menunaikan ibadah Haji akan dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula […]

  2. […] bangsa Melayu, yang menjadi inti masyarakat Banjar, memasuki daerah ini, ketika dataran dan rawa-rawa yang luas yang saat ini membentuk bagian besar […]

  3. […] mungkin sekali masyarakat banjar pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi […]

  4. […] ORANG Banjar relatif taat menjalankan agamanya: sembahyang dilakukan dengan teratur, meski pun adakalanya tidak tepat waktunya. Meski pun jelas ada saja orang yang tidak berpuasa dalam bulan Ramadlan, khususnya di kota-kota, tetapi yang jelas tidak ada orang yang secara terbuka memperlihatkan ia tidak berpuasa, dan anak-anak sering diperingatkan agar tidak “mengganggu” orang yang berpuasa dengan cara memakan sesuatu di hadapannya. Zakat juga ditunaikan dengan teratur, di sini khususnya zakat fitrah, zakat padi dan zakat barang-barang yang diperniagakan. Kegairahan untuk menunaikan ibadah haji di kawasan ini mungkin yang terbesar di Indonesia. Dan ada saat-saat tertentu syahadat diucapkan secara formal. Di lapangan diketahui jenis sembahyang tertentu dan syahadat berfungsi pula selaku upaya magis untuk berbagai keperluan tertentu. Selain itu ada saat-saat tertentu orang-orang melakukan ibadah sunat: sembahyang sunat, puasa sunat, sedekah sunat. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: