• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tokoh-tokoh Sufi Abad I dan II Hijriyah

1. Hasan Al-Barsi

Nama lengkapnya al-Hasan bin Abi al-Hasan Abu Sa’id. Dia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 Hijriah/642 Masehi dan meninggal di Basrah pada tahun 110 Hijriah/728 M. Ia adalah  putera Zaid bin Tsabit, seorang budak hudak yang tertangkap di Maisan.,yang kcmudian menjadi sekretaris Nabi Muhammad SAW. la memperoleh pendi­dikan di Basrah. la sempat bertemu dengan sahabat-sahabat Nabi, termasuk tujuhpuluh di antara mereka yang mengikuti perang Badar.[1]

lbunva adalah hamba sahaya Ummu Salamah, istri Nabi. Ia tum­buh dalam lingkungan orang saleh yang mendalam pengetahuan agamanya.[2] Ia menerima hadits dari sejumlah sahabat; dan diriwayatkan bahwa Ali Ibn Abi Thalib mengagumi akan kehebatan ilmunya. Diriwayatkan; tatkala Ali Bin Abi Thalib masuk ke dalam masjid Basrah di dapatinya di dalam mesjid itu seorang anak sedang bercerita di hadapan umum. Ali mendekatinya dan berkata: “Hai budak! Aku hendak bertanya kepadamu mengenai dua perkara, jika kedua perkara ini dapat engkau jawab, boleh engkau meneruskan berbicara di hadapan manusia”. Anak muda itu men­datangi Ali dengan tawadhu, Ia herkata: “Tanyakanlah, ya Amirul Mukminin, apa yang perkara itu?” Maka berkatalah Ali r.a. : “Ceri­takan kepadaku, apa yang dapat menyelamatkan agama dan apa yang dapat merusakkannva?” Hasan Al-Basri menjawab: “Yang menyelamatkan agama adalah wara` dan yang merusakkan adalah tama`. Ali tampak sangat gembira dan berkata kepada Hasan Al-Basri: “Benar engkau dan teruskanlah bicaramu, orang semacam engkau ini layak berbicara di depan orang banyak”.

Dasar pendirian Hasan al-Basri adalah hidup zuhud terhadap dunia, menolak segala kemegahannya, hanya semata menuju kepada Allah, tawakal, khauf dan raja’. Janganlah hanya semata-mata takut kepada Allah, tetapi ikutilah ketakutan dengan pengharapan. Takut akan murkaNya, tetapi mengharap akan rahmatNya.”[3]

Di antara ucapannya yang terkenal ialah: “Seorang fagih ialah orang yang bersikap zuhd terhadap kehidupan duniawi, yang tahu terhadap dosanya dan yang selalu beribadah kepada Allah.” Tentang kehidupan zuhud, beliau berkata: “Dunia adalah tempat kerja bagi orang yang disertai perasaan tidak senang dan tidak butuh kepada­nya; dan dunia merasa bahagia bersamanya atau dalam menyertainya. Barangsiapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta diantarkan pada hal-hal yang tidak tertanggungkan oleh kesabarannya.”[4]

Dalam suratnya yang ditujukan kepada seorang temannya yang mulia, Hasan al-Basri berpesan:

Waspadalah terhadap dunia ini. Ia seperti ular, lembut sentuhannya tapi mematikan bisanya. Berpalinglah dari pesonanya, sedi­kit terpesona, Anda akan terjerat olehnya. Bukankah Anda lihat kefanaannya dan tahu benar bahwa Anda akan dipisahkan dari­nya? Tabahlah dalam menghadapi kekerasannya, maka akan lapanglah jalan Anda. Kian ia  mempesonamu, kian waspadalah Anda. Karena manusia di dunia ini, begitu terpesona dan sujud kepadanya, serta-merta dunia akan menghempaskannya. Ingat, waspadalah terhadap dunia ini, pesonanya pendusta dan di situlah Anda terancam bahaya yang berupa kesenangan semu, bencana mendadak, duka-cita atau nasib malang. Pesona kehidupan ini tidak berdampak bagi yang bijak, tapi herbahaya bagi yang senang; karena itu waspadalah terhadap bencana dan yakinlah akan nasib akhirnya.”[5]

Sedangkan ucapan heliau yang lain, sebagaimana dikutip Prof. Dr. Hamka, adalah sehagai herikut:

  • “Perasaan takutmu sehingga hertemu dengan hati tenteram, le­bih baik daripada perasaan tenterammu yang kemudian me­nimbulkan takut.”
  • “Tafakkur membawa kita kepada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat, memhawa ke­pada meninggalkannya. Barang yang, fana’ walaupun bagaimana banyaknya, tidaklah dapat menamai barang yang baqa, walau­pun sedikit. Awasilah dirimu dari negeri yang cepat datang dan cepat pergi ini, dan penuh dengan tipuan.”
  • “Dunia ini adalah seorang perempuan janda tua yang telah bungkuk.”
  • “Orang yang beriman berduka-cita pagi-pagi dan berduka-cita di waktu sore. Karena dia hidup di antas dua ketakutan. Takut mengenang dosa yang telah lampau, apakah gerangan balasan yang akan ditimpakan Tuhan. Dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal dan bahaya yang sedang mengancam.
  • “Patutlah orang insyaf bahwa mati sedang mengancamnya dan kiamat menagih janjinya.”
  • “Banvak berduka-cita di dunia memperteguh semangat beramai saleh.”

2. Ibrahina bin Adham

Namanya adalah Ahu Ishaq Ibrahim bin Adham, lahir di Balkh dari keluarga bangsawan Arah. Dalam cerita sufia, ia dikatakan sebagai seorang pangeran yang meninggalkan istana dan mengembara menjalani hidup sebagai seorang pertapa sambil mencari nafkah yang halal hingga meninggal di negeri Persia kira-kira pada tahun 160 H/777 M.

Tentang kisah pindah menjadi seorang zahid, seringkali dikaitkan dengan kisah Budha Gautama. Diriwayatkan:

“Ayahku dari Balkh, “kata Ibrahim bin Adham, demikian dicerita­kan. Ia adalah salah seorang amir di Khurasan. Ia amat kaya, dan mendidikku agar aku senang berburu. Ketika aku sedang berkuda bersama anjingku, kulihat seekor kelinci. Kudera kudaku; tiba-­tiba kudengar seberkas suara di belakangku: “Bukan untuk ini kau diciptakan, bukan ini kewajibanmu.” Aku berhenti, menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak seorang pun kulihat, lalu aku menyumpah: “Semoga Allah melaknat si iblis itu!” Kudera lagi kudaku; dan kudengar suara yang lebih jelas daripada sebelum­nya: Hai Ibrahim! Bukan untuk ini kau diciptakan, bukan ini kewajibanmu.” Aku berhenti seraya berkata: “Aku telah disadar­kan! Aku telah disadarkan! Allah, Tuhan alam semesta, telah mengingatkanku. Sungguh, mulai hari ini aku akan patuh kepada Allah, selama Allah memeliharaku. “Maka aku kembali kepada pengawal-pengawalku dan kutinggalkan kudaku. Aku hampiri salah seorang pengawal ayahku, kucopot jubah dan mantelnya, kuganti dengan pakaianku, lalu aku berangkat menuju Irak, berkelana dari negeri ke negeri.[6]

Kisah ini selanjutnya memaparkan bagaimana ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain dalam upaya menemukan jalan hidup yang halal. Akhirnya ia hidup dari bekerja sebagai tukang kebun di Syria. Namun akhirnya, orang tahu juga siapa dia sebenarnya. Maka pergilah dan hiduplah ia di gurun.

Ibrahim bin Adham adalah salah seorang zahid di Khurasan yang sangat menonjol di zamannya. Kendatipun dia putera seorang raja dan pangeran kerajaan Balkh, dia tidak ter­pesona oleh kekuasaan dan kerajaan yang dibawahinya. Dia lebih suka memakai baju bulu domba yang kasar dan mengarahkan pan­dangannya ke negeri Syam (Syria), di mana ia hidup sebagai penjaga kebun dan kerja kasar lainnya. Suatu ketika ia ditanya: “Mengapa anda menjauhi orang banyak?” Dia menjawab: “Kupegang teguh agama di dadaku. Dengannya aku lari dari satu negeri ke negeri yang lain, dari bumi yang kutinggalkan menuju bumi yang akan kudatangi. Setiap orang yang melihatku menyangka aku seorang pengembala atau orang gila. Hal ini kulakukan dengan harapan aku bisa memelihara kehidup­an beragamaku dari godaan setan dan menjaga keimananku, sehingga selamat sampai ke pintu gerbang kematian.[7]

Kemudian, di antara ucapan-ucapannya, dia pernah mengatakan: “Ketahuilah, kamu tidak akan bisa mencapai peringkat orang-orang saleh kecuali setelah kamu melewati enam pos penjagaan. Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kenikmatan dan membuka pintu ger­bang kesulitan, hendaklah kamu menutup gerbang kemusyrikan dan membuka pintu gerbang kehinaan, hendaklah kamu menutup pintu gerbang hidup santai dan membuka pintu gerbang kerja keras, hen­daklah kamu menutup pintu gerbang tidur dan membuka pintu ger­bang jaga tengah malam, hendaklah kamu menutup pintu gerbang kekayaan dan membuka pintu gerbang kemiskinan, dan hendaklah kamu menutup pintu gerbang cita-cita dan membuka pintu gerbang kesiapan menghadapi mati.

Konon is pernah berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu bahwa surga tak layak bagi diriku, walau seberat sayap agas pun. Jika Kau lindungi diri­ku, Engkau cintai diriku dan Kau mudahkan bagiku dalam menaatiMu, maka karuniakanlah surgaMu bagi yang Engkau kehendaki. “Dalam sebuah suratnya kepada salah seorang zahid, ia menulis:

Aku harap Anda bertakwa kepada Allah. Dia wajib ditaati. KepadaNyalah Anda berharap. Bertakwalah kepada Allah. Karena yang bertakwa kepadaNya akan mulia dan agung. Ia takkan lapar dan takkan haus, dan jiwanya akan lebih mulia daripada dunia. Raganya sungguh tampak berada di antara bangsa-bangsa di dunia ini, na­mun hatinya berada di akhirat. Bila hatinya senang kepada dunia ini, maka mata hatinya akan buta. Karenanya ia akan membenci segala yang haram di dunia ini, dan menghindari pesonanya.”

Demikian sebagian dari isi surat tersebut. Kalau dilihat pula ungkapan-ungkapannya sebelumnya, tampak jelas betapa dia diliputi rasa takut, seperti halnya semua zahid semasanya, berusaha sungguh­sungguh demi akhirat, sikap zuhud terhadap dunia dan tindakan yang tidak mengenal kompromi dalam ketaatan yang dilakukannya.

3. Sufyan al-Sauri

Namanya adalah Abu Abdullah Sufyan bin Said bin Masruq al-Sauri al-Kufi. Dia dilahirkan di Kufah pada tahun 97/715 M, dan meninggal di Basrah pada tahun 161 H/778 M. Dia adalah seorang tabi’in pilihan dan seorang zahid yang jarang ada tandingannya; bahkan merupakan seorang ulama hadis yang terkenal, sehingga dalam merawikan hadis, dia dijuluki Amirul Mu`minin dalam hal hadis.

Mula-mula ia belajar dari ayahnya sendiri, kemudian dari banyak orang-orang pandai di masa itu sehingga akhirnya ia menjadi seorang ahli dibidang hadis dan teologi. Pada tahun 158 H/715 M. ia menantang pejabat-pejabat pemerintahan sehingga ia terpaksa menyembunyikan diri di kota Mekkah. Dan dia menjalani hidup per­tapaan yang keras sehingga para sufi menyebutnya sebagai seorang manusia agung.

Sufyan bin Uyainah pernah berkata: “Saya tidak pernah melihat seorang ulama yang lebih mengetahui tentang halal dan haram dari Sufyan al-Sauri.” Para Ulama berkata: “Umar bin al-Khattab adalah ke­pala dari seluruh manusia, sesudahnya Abdullah bin Abbas, sesudah­nya al-Sya’bi dan sesudahnya Sufyan al-Sauri.” Sementara Yahya bin Sa’ad berkata: “Saya lebih cenderung kepada pendapat Sufyan dari­pada pendapat Malik.[8]

Sufyan al-Sauri sempat berguru kepada Hasan al-Basri, sehingga fatwa-fatwa gurunya tersebut banyak mempengaruhi jalan hidupnya. Karena itu, hidup kerohaniannya menjurus kepada hidup bersahaja, penuh kesederhanaan, tidak terpukau dengan kemegahan dan ke­mewahan duniawi. Dia menyampaikan ajaran agama kepada murid­-muridnya. Pernah menasihatkan kepada murid-muridnya agar jangan terpengaruh oleh kemewahan dan kemegahan duniawi, jangan suka menjilat kepada raja-raja dan penguasa, muru’ah harus dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya, dan jangan sampai mcngemis-ngemis ke­pada penguasa.

Sufyan al-Sauri termasuk zahid yang sangat berani, tidak takut dibunuh dalam mengemukakan kritik terhadap penguasa, beliau sangat mencela kehidupan para penguasa yang bergelimang dalam kemewahan, hidup berfoya-foya dengan kekayaan negara yang diperoleh dari hasil ekspansi dan kemajuan Islam, sementara masih banyak rakyat yang hidup dalam kemelaratan. Beliau dengan lantang memberi nasihat kepada umat Islam agar jangan mengikuti perikehidupan mereka yang telah rusak moralnya itu, yang jauh dari ajaran Nabi SAW dan para sahabat. Di antara ucapan-ucapannya dalam memberi na­sihat itu ialah “supaya jangan rusak agamamu. Contoh lain tentang sikap zuhd, kerendahan hati dan ketidakperdulian beliau terhadap atribut-atribut duniawi, beliau menolak/melarikan diri dari al-Mahdi ketika khalifah itu hendak mengangkatnya sebagai Hakim Agung.”

4. Rabi’ah al-Adawiyah

Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah bin Isma’il al­Adawiyah al-Qisiyah. Informasi tentang biografinya begitu sedikit, dan sebagiannya hanya bercorak mitos. Dia lahir di Basrah pada ta­hun 96 H /713 M, lalu hidup sebagai hamba sahaya keluarga Atik. Dia berasal dari keluarga miskin dan dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya. Di kota ini namanya sangat harum sebagai seorang manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang saleh semasanya. Menurut sebuah riwayat dia meninggal pada tahun 185 H./801 M. Orang-orang mengatakan bahwa dia dikuburkan di dekat kota Jerussalem.

Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah, dipandang mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan konsep cinta (al-hubby) khas sufi ke dalam mistisisme dalam Islam. Sebagai seorang wanita zahidah, dia selalu menampik setiap lamaran beberapa orang saleh, dengan mengatakan:

Akad nikah adalah hak Pemilik alam semesta. Sedangkan bagi diriku, hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri! Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milikNya. Aku hidup di dalam naungan firmanNya. Akad nikah mesti diminta dariNya, bukan dariku.

Dalam salah satu riwayat dikatakan, dia adalah seorang hamha yang kemudian dibebaskan. Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadah, bertaubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam doanya ia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhd dan hanya ingin berada dekat pada Tuhan.[9] Di antara ucapannya yang terkenal tentang zuhd ialah-sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mahjub:

“Suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata kepada Rabi’ah: ‘Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu!’ Rabi’ah menjawab: ‘Aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi kepada Pemiliknya. Maka bagaimana bisa aku meminta hal itu kepada orang yang bukan Pemiliknya?”

isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, dia mengabdi, melakukan amal saleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, te­tapi karena cintanya kepada Allah. Cintalah yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Allah; dan cinta itu pulalah yang membuat ia sedih dan menangis karena takut terpisah dari vang dicintainya. Pendek kata, Allah baginya merupakan zat yang dicintai, bukan se­suatu yang harus ditakuti. Dalam hubungan ini dia pernah berucap:

“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka… bukan pula karena ingin masuk surga… tetapi aku mengabdi karena cintaku kepadaNya. Tuhanku, jika kupuja Engkau karena takut pada neraka, bakarlah aku didalamnya; dan jika kupuja Engkau karena mengharap surga, jauhkanlah aku daripadanya; tetapi jika Engkau kupuja semata-mata karena Engkau, maka ja­nganlah sembunyikan kecantikanMu yang kekal itu dari diriku”.

Di antara ucapan-ucapannya yang menggambarkan tentang konsep zuhd yang dimotivasi rasa cinta adalah:

“Wahai Tuhan! Apa pun Bagiku dunia yang Engkau karuniakan ke­ padaku, berikanlah semuanya kepada musuh-musuhMu. Dan apa pun yang Engkau akan berikan padaku kelak di akhirat, berikan raja pada teman-temanMu. Bagiku, Engkau pribadi sudah cukup”.

Tampak jelas bahwa cinta Rabi’ah al-Adawiyah kepada Allah begitu penuh meliputi dirinya, sehingga sering membuatnya tidak sa­darkan diri karena hadir hersama Allah, seperti terungkap dalam lirik syairnya:

Kujadikan Kau teman berbincang dalam kalbu

Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku

Dengan temanku tubuhku berbincang selalu

Dalam kalbu terpancang selalu Kekasih cintaku.

Dalam lariknya yang lain, lebih tampak lagi cintanya Rabi’ah terha­dap Allah. Dalam mengungkapkan rasa cintanya ini, dia bersenandung:

Aku cinta Kau dengan dua model cinta

Cinta rindu dan cinta karena Kau layak dicinta

Adapun cinta rindu, karena hanya Kau kukenang selalu,bukan selainMu

Adapun cinta karena Kau layak dicinta, karena kau singkap­ kan tirai sampai Kau nyata Bagiku

Bagiku, tidak ada puji untuk ini dan itu

Tapi sekalian puji hanya bagiMu selalu.

Selanjutnya, datam larik syairnya yang lain, ia mengugkapkan isi hatinya sebagai berikut:

Buah hatiku, cintaku hanya padaMu

Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu

Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku

Hatiku telah enggan mencintai selain dari diriMu

Di saat-saat melakukan munajat, dia berdialog dengan Tuhan sebagai berikut: “Tuhanku, bintang-bintang di langit telah gemerlapan, orang-orang telah bertiduran, pintu-pintu istana telah ditutup dan pada saat itulah semua pencinta telah menyendiri dengan yang dicintainya. Inilah aku berada di hadiratMu.” Sewaktu fajar menyingsing, ia berkata: “Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalanku Engkau terima hingga aku merasa bahagia, ataukah Engkau tolak hingga aku merasa sedih. Demi kemahakuasaanMu, inilah yang akan kulakukan selama aku Engkau beri hayat. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu, aku tidak akan pergi, karena cintaku padaMu telah memenuhi seluruh lorong hatiku.”[10]

Karena seluruh lorong hatinya telah dipenuhi cinta Ilahi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan juga buat membenci yang lain. Seseorang pernah bertanya kepadanya: “Apakah engkau benci pada setan?” Ia menjawab: “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Karena begitu cintanya kepada Tuhan, ia pernah ditanya tentang cintanya kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menjawab: “Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk.”

Inilah beberapa ucapan rasa cinta yang diungkapkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Cinta kepada Tuhan begitu memenuhi seluruh jiwanya, sehingga seperti telah disebutkan di atas. ia menolak semua tawaran kawin dengan alasan bahwa dirinya adalah milik Allah, yang dicintainya; dan siapa yang ingin kawin dengannya haruslah meminta
izin kepada Allah. Dengan demikian, menurut al-Taftazani, dapat
disimpulkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah, pada abad II Hijriyah, telah merintis konsep zuhd dalam Islam berdasarkan cinta kepada Allah. Tetapi, dia tidak hanya berbicara tentang cinta Ilahi, namun juga
menguraikan ajaran-ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhd, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, ridha dan lain sebagainya.


[1] Prof. H. Asmaran AS. Pengantar Studi Tasawuf, hal. 265

[2] Ibid, hal. 266

[3] Ibid, hal. 76

[4] Prof. Dr. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme dalam Islam

[5] Asmaran, Op.cit. hal. 268

[6] Asmaran Op.cit. 270

[7] Bandingkan  dengan kisahnya yang tertuang dalam kitab Nasaih al-Ibad.

[8] Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Bulan Bintang, Jakarta, 1997. hal. 312

[9] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hal. 72

[10] Harun Nasution, Op.cit. hal. 72-73

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: