• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Memahami Perintah Allah

Perintah ialah perkataan meminta kerja dari yang lebih tinggi tingkatannya kepada yang lebih rendah tingkatannya. Dalam Islam perintah Allah disebut Amar.

Pada dasarnya, perintah itu hukumnya wajib, sesuai dengan Qaidah:

اَلاَصْلُ فىِ اْلاَمْرِ لِلْوُجُوْبِ

Artinya jika perintah itu bebas, tidak disertai sesuatu yang  menunjukkan syarat tertentu maka hukumnya wajib.

Ini lah yang menjadi dasar penetapan sebagain besar ulama karena mereka beralasan dengan dalil aqli dan nakli. Berdasarkan dalil naqli (akal) karena sebagian ahli bahasa sebelum datang syara` mereka sepakat untuk mencela hamba sahaya yang tidak menjalankan perintah majikannya, dan mereka menamakannya hamba sahaya yang menentang perintah, karena melalaikan dan meninggalkan kewajiban. Dapat disimpulkan bahwa amr mutlak itu menunjukkan wajib. Firman Allah SWT:

Artinya : Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur: 63)

Dalam ayat ini Allah SWT, menertibkan atas orang yang meninggalkan perintahnya, dengan mengenakan fitnah dan atau siksaan di akhirat, jelaslah bahwa amar itu menunjukkan wajib.

Suatu perintah tanpa syarat, menunjukkan wajib, sebagaimana firman Allah: 

Artinya: Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat (QS. An-Nisa: 77)

Perkataan “dirikanlah” itu, suatu perintah dari Allah. Tiap-tiap perintah asalnya wajib, jadi shalat dan zakat itu hukumnya wajib. Kata-kata “shalat” meliputi segala macam shalat yang ada di dalam Islam. Yaiti shalat 5 kali sehari semalam, shalat dua haru raya, shalat rawatib, shalat tarawih dan sebagainya. Menurut hukum asal yang tadi, tentu harus kita tetapkan bahwa shalat dua hari raya, tarawih dan shalat rawatib dan sebagainya termasuk shalat wajib. Tetapi ada keterangan yang menetapkan bahwa shalat yang diwajibkan kepada kita hanya lima waktu saja sehari semalam seperti yang kita kerjakan setiap hari.

Macam-Macam Amar

Bentuk amar (suruhan) itu adakalanya berbeda dengan makna yang asli dengan ucapan “kerjakanlah” dan digunakan untuk makna yang bermacam-macam perintah menurut bentuknya sebagai berikut: 1. Menunjukkan Nadb (mandub = sunnat) Misalnya:

Artinya: Berikanlah kemerdekaan (mukatabah) kepada budak-budak, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka (QS. An-Nuur: 33)

Perintah ini tidak menunjukkan wajib, sebab kalau cicilan dihukumi wajib berarti memaksakan kepada orang yang mempunyai budak untuk melepaskan budaknya, tetapi perintah ini hanya sunnat, yang dapat memberikan kepada budak-budak untuk merubah nasibnya hingga menjadi merdeka.

2. Untuk Do`a (للدعاء)

Misanya firman Allah:

Artinya : “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka” (QS. Al-Baqarah: 201)

3. Untuk Mengancam (للتهديد)

Misalnya:

اِعْمَلُوْا مَاشِئْتُمْ

Artinya: Kerjakanlah sekehendakmu (QS. Fushshilat : 40)

Perintah ini bukan menunjukkan wajib atau sebaliknya bebas berbuat, tetapi menunjukkan ancaman terhadap orang yang tidak ta`at kepada Allah berbuat sekehendaknya sendiri, dengan ancaman siksa diakhirat. 4. Untuk Menghormat (للإحرام)

Mislanya firman Allah:

Artinya: “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman” (QS. Al-Hijr: 46) Perintah ini menunjukkan penghormatan kepada ahli syurga

5. Untuk Melemahkan (للتعجيز)

Misalnya firman Allah: 

Artinya: “Buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu” (QS. Al-Baqarah: 23)

Amar disini menunjukkan kelemahan terhadap orang kafir, karena tidak sanggup membuat satu ayatpun yang sepadan dengan Al-Qur`an.

6. Untuk Menyerah (للتفويض)

Misalnya firman Allah:

Artinya: “Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan”. (QS. Thahaa: 72)

7. Agar Menyesal (للتلهيب)

Mislanya firmna LLah:

Artinya: “Matilah kamu karena kemarahanmu itu” (QS. Ali `Imran: 119) Perintah ini sebagai tanda penyesalan atas perbuatan yang tidak pantas dilakukan, maka lebih baik mati saja daripada hidup.

Bentuk Amar (Perintah)

Bentuk amar ada lima macam:

  1. Dengan menggunakan fi`il amar. Misalnya tentang dirikanlah shalat
  2. Dengan fiil mudhari` yang diberi lam amar. Misalnya firman Allah yang Artinya: “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)”. (QS. Al-Hajj: 29)
  3. Dengan menggunakan Isim Fiil Amar, Misalnya firman Allah yang Artinya: Artinya: “Jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk” (QS. Al-Maidah: 105)
  4. Dengan menggunakan Isim Mashdar pengganti fiil, Misalnya firman Allah yang Artinya: Artinya: “Dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa” (QS. Al-Baqarah: 83)
  5. Dengan menggunakan kalimat berita (khabar), Misalnya firman Allah yang Artinya:  “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali suci dari haidh” (QS. Al-Baqarah: 228)

Kesegeraan dalam Amar

Perintah adakalanya ditentukan waktunya dan adakalanya tidak. Jika suatu perintah disertai dengan waktu yang tertentu, seperti shalat lima waktu, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa perintah semacam itu mesti dikerjakan pada waktunya yang ditentukan.

Tetapi jika tidak dihubungkan dengan waktu yang tertentu, maka perintah (amar) itu berjalan dengan sesuatu yang sesuai dengan dasar pokoknya, yaitu: “Pada dasarnya amar itu tidak dilaksanakan dengan segera” Amar boleh ditunda mengerjakannya dengan cara tidak melalaikan pekerjaan itu.

Pada dasarnya amar menuntut untuk dilaksanakan walaupun waktunya ditentukan, tetapi ada antara awal dan akhirnya, kita dapat mengambil waktu yang akhir selagi belum keluar dari batas waktu yang ditentukan seperti mengqadha puasa ramadhan karena sakit atau bepergian, sebagaimana firman Misalnya firman Allah yang Artinya:

“Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 184)

Washilah Amar

Suatu perintah tidak akan terlaksana, kecuali disertai dengan sesuatu yang dapat mewujudkan terlaksananya perintah itu. Sesuatu inilah yang disebut washilah (perantara) baik berupa perbuatan, alat dan sebagainya.

Hubungan amar dengan washilah merupakan salah satu dasar dalam amar. Misalnya: Kita diperintahkan oleh syara` untuk mengerjakan shalat. Di anatara syarat sahnya salat ialah menutup aurat. Maka menutup aurat inipun diperintahkan juga. Dan untuk menutup aurat ini tidak akan dapat dilaksanakan apabila kita tidak menemukan alat penutupnya, maka berusaha untuk mendapatkan penutup aurat itupun diperintahkan juga.

ashilah ada tiga:

  1. Washilah yang timbulnya dari syara` (washilah syar`iyah) seperti memerintahkan shalat, berarti meliputi perintah menutup aurat.
  2. Washilah yang ditimbulkan dari adapt kebiasaan (washilah `urfiyah) seperti perintah naik loteng berarti meliputi perintah meletakkan tangga
  3. Washilah yang timbulnya dari akal (washilah `aqliyah) seperti perintah menghadap, berarti meliputi perintah untuk tidak membelakangi.

Perintah Sesuatu Berarti Melarang Lawannya

“Memerintahkan sesuatau berarti melarang sebaliknya”

artinya melarang untuk menjalankan sesuatu yang berlawanan dengan perintah itu, misalnya perintah beriman, berarti melarang syirik/kufur. Lawan itu adakalanya beberapa macam, misalnya perintah berdiri, berarti jangan duduk, berbaring, berjongkok dan sebagainya.

Karena perintah itu pada dasarnya menunjukkan wajib dan dari kelaziman wajib ialah meninggalkan semua yang berlawanan, maka setiap perintah berarti menunjukkan kelaziman meninggalkan semua yang berlawanan.

Selesainya Perintah

اِذَا فُعِلَ اْلمَأْمُوْرُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ يَخْرُجُ اْلمَأْمُوْرُ عَنْ عُهْدَةِ اْلاَمْرِ

Apabila yang diperintah sudah selesaidikerjakan sesuai dengan peraturan-peraturannya, maka yang diperintah itu bebas dari perintah itu” Suatu perintah yang disertai petunjuk-petunjuk cara mengerjakannya, jika telah dilaksanakan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang semestinya, maka yang diperintah itu telah bebas dari tanggung jawab memenuhi perintah itu.

Misalnya perintah melaksanakan shalat kemudian perintah itu dilaksanakan sesuai dengan syarat rukunnya hingga selesai, maka orang yang diperintahkan itu telah bebas dari perintah itu, tidak usah melaksnakan lagi beberapa kali, kecuali dalam waktu yang berbeda, misalnya besok, dan besoknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: