• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Hikmah yang Terkandung dalam Salat

Selaku hamba Allah, sepanjang hidup yang kita lalui, kita selalu mendapatkan curahan nikmat dan rahmat dari Allah SWT. nikmat dan rahmat itu tidak dapat kita hitung, karena begitu banyaknya, sebagaimana firman Allah SWT:

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”(QS. Ibrahim: 34).

Anggota tubuh dan panca indera kita, adalah nikmat yang tidak ternilai harganya. Tidakkah kita melihat bukti nyata dalam masyarakat, bahwa apabila seseorang menderita penyakit jantung, ginjalnya tidak berfungsi lagi, kanker menggerogoti tubuhnya, maka orang tersebut bersedia mengorbankan apa saja yang dia punyai, asalkan nikmat yang diberikan oleh Allah itu bisa pulih dan normal seperti sedia kala.

Biasanya nikmat itu baru diketahui tinggi nilainya, setelah nikmat itu hilang dari kita. Alangkah nikmat bisa berjalan ke sana ke mari, kata orang yang menderita kelumpuhan. Alangkah nikmatnya melihat alam semesta ini, kata orang yang menderita kebutaan. Alangkah senangnya dan bahagianya mempunyai harta, kata orang kaya yang sudah jatuh melarat.

Sewajarnya kitapun bertanya dalam hati masing-masing, apakah yang harus kita lakukan terhadap Allah yang begitu banyak pemberiaan-Nya kepada kita. Nikmat dan rahmat-Nya terus melimpah setiap hari dan bahkan selama kita hidup di atas dunia ini.

Ibadah salat adalah salah satu cara untuk mengingat Allah dan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Yang Maha Rahman itu. Oleh sebab itu, tinggi dan rendahnya nilai yang dapat dipetik dari ibadah salat, sangat bergantung kepada pemahaman dan penghayatan apa yang dilakukan dalam salat itu. [1]

Inilah diantara hikmah yang terkandung dalam ibadah salat yang perlu kita renungkan dan perlu kita kaji lebih dalam lagi:

1. Salat sebagai penenang jiwa

Biasanya manusia, apabila dihimpit oleh penderitaan atau mendapat musibah, dia akan gelisah dan tidak tenang, tidak mampu menghadapi kenyataan hidup. Padahal apa yang diperoleh di dunia ini adalah merupakan pinjaman dan akan dikembalikan dan suka dukapun akan dialami silih berganti. Demikianlah manusia diciptakan Allah menurut kodratnya, tetapi ada istemewanya bagi orang yang tekun melakukan ibadah salat dan ingat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya”. (QS. Al-Ma’arij: 19-23).

Dari segi keagamaan, salat merupakan tali yang menghubungkan dan mengikat seorang hamba dengan penciptanya. Melalui salat, seorang hamba dapat mengagungkan kebesaran Allah SWT, mendekatkan diri, berserah diri kepada-nya, dan menimbulkan rasa tentram bagi diri orang yang melakukan salat dalam menempuh berbagai persoalan hidup di dunia. Dengan melalui salat seorang hamba mendapatkan ampunan dosa dan meraih kemenangan. [2] Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.”(QS. Al-Mu’minun: 1-2).

“Salat dapat menjadi terapi ruhaniah untuk kesembuhan pasien.”Ungkapan di atas dikatakan seorang dokter Perancis terkemuka yaitu Alexis Carrel seperti dikutip Dr. Utsman Najati (1985). Hal serupa disyari’atkan oleh William James tentang dampak salat, bahwa dengan salat kita bisa”mendobrak pintu harta karun besar dari kegiatan intelektual yang tidak bisa kita capai dalam kondisi-kondisi normal.”[3]

Hasil-hasil penelitian di atas dilakukan para ahli notabene berlatar belakang bukan dari kalangan disiplin ilmu agama, semakin mengokohkan keyakinan akan kebenaran Al-Qur’an yang menyatakan tentang adanya hubungan positif antara salat dengan ketenangan jiwa. Salat mempunyai dampak terapeutik yang penting dalam meredakan ketegangan syaraf akibat ketegangan kehidupan sehari-hari dan menurunkan kegelisahan yang diderita oleh sebagian orang. Dale Carnegie dalam Da’al-Qalaq Wabda’al-Hayah seperti dikutip Najati menyebutkan:

“Komponen terpenting yang kuketahui selama bertahun-tahun yang kulalui dalam berbagai pengalaman dan percobaan ialah salat. Pendapatku ini dikemukakan dalam kedudukanku sebagai dokter. Salat merupakan sarana terpenting yang kuketahui hingga kini, yang menimbulkan kedamaian dalam jiwa dan membangkitkan ketenangan dalam syaraf.”

Dari sini kita menjadi sangat paham mengapa tempo dulu, Nabi SAW dan sahabatnya begitu tegar menghadapi berbagai tantangan dan cobaan, etos kerja begitu melimpah teror dan intimidasi yang dilancarkan Kuffah Mekkah yang sebagiannya adalah saudara-saudaranya sendiri tidak membuatnya stress tapi dihadapinya dengan ketenangan luar biasa dan kesabaran yang tuntas. Jawabannya tidak lain, karena Nabi SAW dan para sahabatnya telah meminta tolong kepada Allah SWT melalui salat mereka. [4]

2. Salat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar

Salat menjadi benteng, supaya orang tidak berbuat keji (dosa-dosa besar) dan berbuat munkar (menyusahkan orang lain). Allah berfirman:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-‘ankabut: 45). [5]

Al-Qur’an mengatakan, bahwa manusia tidak bisa terlepas dari dua potensi jiwa yang dimilikinya. Yang pertama jiwa yang baik, yaitu jiwa-jiwa yang selalu tunduk pada perintah-Nya yang disebut dengan an-nafs al-muthmainnah, seperti dilukiskan Allah dalam firmannya yang berbunyi:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”(QS. Al-Fajr: 27-30).

Yang kedua, jiwa yang rendah yaitu jiwa-jiwa yang diperbudak nafsu dan keinginan-keinginan dangkal (hawa). Yang kedua inilah yang disebut dengan nafs lawwamah, dan nafs ammarah. Firman Allah SWT:

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”(QS. Yusuf: 53).

Ketika kesadaran untuk melaksanakan salat dengan benar absen, salat hanya menjadi ritual semata yang tidak dapat berpengaruh terhadap perbuatan manusia yang melaksanakannya. Kalau kita perhatikan lebih seksama, sinergi antara lahir dan bathin dapat ditemukan dalam prosesi salat. Dalam seluruh perbuatan salat terdapat makna yang sangat kaya. Keasadaran-kesadaran religius, pada gilirannya akan membentuk seseorang memiliki nurani yang peka, sehingga tidak akan mungkin tumbuh tindakan-tindakan yang negatif. Salat bukan hanya membersihkan lahiriyah orang yang mengerjakannya saja (lewat wudhu), tetapi juga akan mensucikan jiwa orang melakukan salat, sehingga perbuatan keji dan munkar akan terhindar dari pelaku salat.

Salat tampil sebagai latihan ruhaniah, untuk menggapai hati yang teguh, hati yang selalu terjaga dalam ingatan Ilahiah, sehingga perbuatan sehari-harinya akan senantiasa dalam koridor Tuhan. Salat adalah sebagai sarana untuk mengingat Allah Sang Pencipta, guna menggapai kedamaian dan dari kedamaian ini hati akan teguh dalam ketaqwaan. Hati yang teguh dalam taqwa adalah tujuan dari prosesi pengabdian. [6]

Manusia sangat rentan terpedaya oleh sesuatu yang palsu yang menyababkan hati berpaling sehingga terjerumus ke dalam kedurhakaan kepada-Nya. Firman Allah dalam surat al-Infithar ayat 6 yang berbunyi:

“Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.”(QS. Al-Infithar: 6).

Dengan salat minimal 17 rakaat sehari semalam, maka artinya hati kita dilatih untuk lurus dengan kebenaran. [7] Sehingga orang yang melaksanakan salat akan bertambah dekat dengan Allah. [8] Semakin intensif kata hati dalam komunikasi sosial dalam salat, maka akan semakin besar peluang terciptanya ruang kehidupan yang tertib. Sebab di sana ada tersurat seperti apa yang dikatakan oleh Gabriel Marcel dengan”dialog intersubjektif.”Yakni dialog yang tanpa ditaburi oleh dusta. Inilah yang menjadi istilah Jurgen Habermas,”the theory of active communication,”aksi-aksi yang membuat orang tercerahkan fikirannya, tergugah kesadaran sekaligus proses panjang pencerdasan yang akan menjadi ilham bagi terwujudnya kemanusiaan yang berkualitas. Inna ash-salata tanha ‘an al-fahsya wa al-munkar. [9]

3. Salat membentuk pribadi muslim untuk berakhlak mulia

Orang-orang yang selalu melaksanakan dan menghayati salatnya dengan benar akan menjadi orang yang berakhlak mulia, diantaranya:

  • Selalu dalam keadaan bersih, yaitu bersih badan, pakaian dan lingkungannya.
  • Hidupnya tertib dan teratur sebagaimana tata tertib ibadah yang dilakukannya dalam salat.
  • Terbiasa menepati janji dan disiplin waktu, sebagaimana salat yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu (tepat waktu).
  • Sabar dalam menghadapi segala persoalan hidup, sebagaimana salat harus dikerjakan lima kali sehari semalam dan terus-menerus dilakukan selama hidup.
  • Terbiasa bertutur kata dengan baik dan sopan, sebagaimana ucapannya yang lemah lembut pada waktu melaksanakan pekerjaan salat. [10]

4. Salat sebagai penangkal dari azab neraka

Salat merupakan pilar agama, yang perlu ditegakkan dan tanpa pilar ini agama akan runtuHR. asulullah SAW menegaskan[11]:

الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ

“Salat itu adalah tiang agama, siapa yang mendirikannya berarti dia mendirikan agama, dan siapa yang meruntuhkannya berarti dia meruntuhkan agama.”(HR. Al-Baihaqy)

Salat sebagai akhir agama, siapa yang hilang akhir agamanya berarti hilanglah semua agamanya. Dengan demikian, salat harus selalu dijaga dengan baik dan benar. Melihat begitu ketatnya perintah untuk melaksanakan salat, maka hal ini menunjukkan bahwa salat mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi orang muslim, salat itu salah satu indikator orang bertakwa kepada Allah SWT. Bahkan salat bukan saja sebagai salah satu unsur agama Islam sebagai amalan-amalan lain, akan tetapi salat adalah amalan yang sangat mempunyai kedudukan sebagai unsur pokok dan tiang agama. [12]

Karena pada hari kiamat kelak, para penghuni neraka akan ditanya, tentang apa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam lubang kegelapan tersebut? Lantas mereka menjawab:”Kami waktu di dunia tidak melaksanakan salat.”Sebagaimana firman Allah SWT:

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan salat. (QS. Al-Mudatsir: 42-43).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa salat dapat dijadikan penangkal agar terhindar dari azab neraka.[13] Karena salat adalah syarat utama diterimanya iman dan amal perbuatan seorang hamba. Seperti yang diungkapkan oleh T. M. Hasbi Ash-Siddieqy, dalam bukunya”Pedoman Salat”:

“Tidak ada iman tanpa salat, sehingga apabila seseorang mengaku beriman tetapi tidak pernah salat, maka pengakuannya tidak dibenarkan dalam syara’.”[14]

Sehingga dapat diambil benang merah dari hal tersebut di atas, bahwa salat adalah kunci diterima semua amal perbuatan manusia. Sehingga dengan salat manusia akan menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa, yang pada akhirnya akan ditempatkan oleh Allah di tempat yang sangat terpuji, yaitu syurga.


[1] M. Ali Hasan, Hikmah Salat dan Tuntunannya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000, cet. Ke-2. h. 30

[2] Ensiklopedi Hukum Islam, loc. cit.

[3] Asp Muhyidin, Asep Salahuddin, Salat, Bukan Sekedar Ritual, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2006). Cet. I, h. 129

[4]Asp Muhyidin, Asep Salahuddin, Loc.Cit

[5] Al-Quran Terjemahan Indonesia, (Jakarta: PT Sari Agung, 1998), Cet. XII, h. 786

[6] Asep Muhyidin, Asep Salahuddin, op. cit, h. 159

[7] Ibid

[8] M. Ali Hasan, Hikmah Salat dan Tuntunannya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000, cet. Ke-2. h. 32

[9] Op. cit, h. 1415

[10] M. Ali Hasan, Hikmah Salat …, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), cet. Ke-2. h. 33

[11] Abu Bakar Ahmad Ibn Al-Husain Al-Baihaqi, Syu`bu Al-Iman (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1410 H.) Juz. 3 H. 39. Dikutip dari Software Al Maktabah Al Syamilah V.3.15

[12] Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN, Ilmu Fiqh, (Jakarta: Pusat Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, 1983), Cet. II, h. 83

[13] Ibid

[14] [14] T. M. Hasbi Ash-Siddieqy, Pedoman…, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1986), cet. Ke-15, h. 44

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kami mencari materi2 yg lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: