• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tentang Kecerdasan

Kecerdasan merupakan suatu kemampuan tertinggi dari jiwa makhluk hidup yang hanya dimiliki oleh manusia. Kecerdasan ini diperoleh manusia sejak lahir, dan sejak itulah potensi kecerdasan ini mulai berfungsi mempengaruhi tempo dan kualitas perkembangan individu, dan manakala sudah berkembang, maka fungsinya akan semakin berarti lagi bagi manusia yaitu akan mempengaruhi kualitas penyesuaian dirinya dengan lingkungannya.

Kecerdasan bukanlah kemampuan genetis yang dibawa sejak lahir, melainkan merupakan kemampuan hasil pembentukan atau perkembangan yang dicapai oleh individu. Kecerdasan merupakan istilah umum untuk menggambarkan kepintaran atau kepandaian orang.[1]

Beberapa ahli mencoba merumuskan definisi kecerdasan. Suharsono menyebutkan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah secara benar, yang secara relatif lebih cepat dibandingkan dengan usia biologisnya.[2]

Gardner dalam Rose mengemukakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya atau lebih.[3]

Dari dua pendapat yang dikemukakan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memberikan solusi terbaik dalam penyelesaian masalah yang dihadapinya sesuai dengan situasi dan kondisinya.

Kecerdasan orang banyak ditentukan oleh struktur otak. Otak besar dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan dan sebaliknya belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Belahan otak kiri bertugas untuk merespon hal-hal yang sifatnya linier, logis dan teratur sementara otak belahan kanan bertugas untuk imaginasi dan kreativitas.[4]

Kecerdasan-kecerdasan yang sering kita dengar terbagi kepada tiga bagian besar, yaitu kecerdasan itelektual atau Intelligence Quotient (IQ), kecerdasan emosional atau emotional Quotient (EQ), dan kecerdasan Spiritual atau spiritual Quotient (SQ). Kecerdasan-kecerdasan tersebut memiliki fungsi masing-masing yang kita butuhkan dalam hidup di dunia ini

1. Kecerdasan Intelektual (IQ)

Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Ia merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan dan mengolah infomasi menjadi fakta[5]

Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan dan diolah, untuk pada waktu yang tepat dan pada saat dibutuhkan diolah dan diinformasikan kembali.

Kecerdasan intelektual adalah kemampuan memproses menerima, menyimpan, dan mengolah kembali informasi, baik informasi yang didapat lewat pendengaran, penglihatan atau penciuman atau dalam berfikir. Kecerdasan ini berpusat diotak.

2. Kecerdasan Emosional (EQ)

Charles C. Manz menyebutkan bahwa kecerdasan emosi adalah kekuatan atau kemampuan mengenali perasaan-perasaan kita sendiri dan perasaan-persaan orang lain, memotivasi diri dan mengatur emosi-emosi secara baik didalam diri kita dan hubungan kita dengan orang lain.[6]

Ary Ginanjar berpendapat, kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi[7]

Dari kedua pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu utuk dapat menggunakan perasaannya secara optimal guna memahami dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Kecerdasan emosi sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.[8]

Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:

1.        lebih bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.

2.        bersifat fluktuatif (tidak tetap), dan

3.        banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.[9]

Kecerdasan emosional dibagi menjadi lima,[10] yaitu:

1.        Ranah intrapribadi memiliki lima skala yaitu; kesadaran diri, sikap asertif, kemandirian, penghargaan diri dan aktualisasi diri

2.        Ranah antarpribadi memiliki tiga skala yaitu; empati tanggungjawab sosial dan hubungan antarpribadi.

3.        Ranah penyesuaian diri/orientasi kognitif memiliki tiga skala yaitu; uji realitas, sikap fleksibel dan pemecahan masalah.

4.        Ranah pengendalian stress memiliki dua skala yaitu; ketahanan menanggung stress dan pengendalian impuls.

5.        Ranah suasana hati/afeksi memiliki dua skala yaitu; optimisme dan kebahagiaan.

3. Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas.[11] SQ adalah suara hati Ilahiyah yang memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat

Kalau EQ berpusat di hati, maka SQ berpusat pada “hati nurani” atau dalam bahasa arab disebut Fuad yang diciptakan pada saat manusia masih dalam rahim ibu:

kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (As-Sajadah: 9)

Setiap manusia pada prinsipnya membutuhkan kekuatan spiritual ini, karena kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembangkan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama serta kebutuhan untuk mendapatkan pengampunan mencintai, menjalin hubungan dan penuh rasa percaya dengan Sang Penciptanya.

Kecerdasan spiritual ini sangat penting dalam kehidupan manusia, karena ia akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk membedakan yang baik dengan yang buruk, memberi manusia rasa moral dan memberi manusia kemampuan untuk menyesuaikan dirinya dengan aturan-aturan yang baru.


[1] Munandir, Ensiklopedia Pendidikan, (Malang: Um Press, 2001), h. 122

[2] Suharsosno, Mencerdaskan Anak, (Depok: Inisiasi Press, 2003), h. 43

[3] Colin Rose dan Malcom J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, penerjemah Dedy Ahimsa (Bandung: Nuansa, 2002), h. 58

[4] Conny R. Semiawan, Belajar dan Pembelajaran dalam Taraf Pendidikan Usia Dini, (Jakarta: Prenhallindo, 2002), h. 11-12

[5] A. Winarno dan Tri Saksono, Kecerdasan Emosional, Jakarta, LAN, 2001, hal. 4.

[6] Charles C. Manz, Manajemen Emosi terj. Burhanuddin dan Hamman Faizin (Jogjakarta: Penerbit Think, 2007). H.90

[7] Ary Ginanjar Agustian, ESQ, Jakarta, Penerbit Arga, 2002, Cet. 7, hal. xliii

[8] Saphiro, Lawrence E. Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. (Jakarta: Gramedia, (1998).) h.10

[9] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Rosda Karya, 2004), h. 116

[10] A.V. Aryaguna Setiadi, Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Keberhasilan Bermain Game, (Surabaya: Universitas Surabaya, Anima, Indonesia Psychological Journal, 2001, Vol. 17, No. 1), h. 44-45

[11] Ary Ginanjar Agustian, Op. cit., h. 57

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: