• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Konsep Dasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Karim (2002) berpendapat dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, salah satunya adalah dengan perubahan kurikulum sehingga mulai cawu dua tahun ajaran 2001/2002 sudah diperkenalkan kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan pengembangan dari kurikulum 1994, dan kini dikenalkan kurikulum tingkat satuan pendidikanyang hamper sama dengan kurikulum berbasis kompetensi.

Dasar perlunya perubahan kurikulum menurut Muhadi (2002) bahwa saat terjadi penrkembangan dan perubahan dalam masyaraka, berbangsa dan bernegarayang perlu segera ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Di mana peraturan perundang-undangan yang baru telah membawaimplikasi terhadap pengembangan kurikulum seperti pembaruan dan diversifikasi kurikulum.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdasdalam mengembang identitas budaya dan bangsanya. Kurikulum ini dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional. Juga untuk memudahkan guru dalam menyajikan pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayatyang mengacu pada empat pilar pendidikan universal sebagaimana yang telah dicetuskan oleh UNESCO.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi seperti yang digariskan dalam haluan Negara. Pemberian otonomi pendidikan yang luas pada lembaga setiap lembaga pendidikan merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap gejalah-gejalah yang muncul dimasyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum.KTSP merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu,efisiensi pendidikan, menjalin kerjasama antar lembaga pendidikan, masyarakat, industri, dan pemerintah dalam bentuk pribadi peserta didik.

Tujuan utama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah memandirikan dan memberdayakan sekolah atau lembaga pendidikan dalam mengembangkan kompetensi  yang akan disampaikan pada peserta didik yang sesuai dengan tuntutan lingkungan. Implementasi KTSP menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan siatem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih.

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah mengemukakan bahwa, sosialisai merupakan langkah penting yang akan menunjang dan menentukan keberhasilan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan karena sekolah atau lembaga pendidikan lainnya dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat suatu bangsa.

Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan mencakup sejumlah kompetensi, dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik menguasai sekurang-kurangnyatingkat kompetensi minimal, agar mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Sesuai dengan belajar tuntas dan pengembangan bakat, setiap peserta didik harus diberi kesempatan untuk mencapai tujuan sesuai dengan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing.

Dari pemaparan materi diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan dimasing-masing satuan pendidikan.

1) Konsep dasar KTSP

Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan, penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang  dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan  UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1) dan 2) sebagai berikut:

a)      Pengembangan kurikulum mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

b)      Kurikulum pada suatu jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

Menurut E. Mulyasa (2006: 20) hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut:

a)      KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.

b)      Sekolah dan komite sekolah mengembangkan KTSP dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar Kurikulum dan Standar Kompetensi lulusan, dibawah sepervisi dinas pendidikan kabupaten/kota, dan Departemen Agama yang bertanggungjawab dibidang pendidikan

c)      KTSP untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar-mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikan sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat.

KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakkan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan. Pemberdayaan sekolah dan satuan pendidikan dengan memberikan otonomi  yang lebih besar, disamping menunjukkan sikap tanggap pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga merupakan sarana peningkatan kualitas, efesiensi, dan pemerataan pendidikan. KTSP merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing-masing. Otonomi dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja guru dan staf sekolah, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan, khususnya kurikulum. Pada sistem KTSP, sekolah memiliki “full autority and responsibility” dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, isi dan tujuan satuan pendidikan. Untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan tersebut, sekolah dituntut untuk mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator kompetensi, mengembangkan strategi, menentukan prioritas, mengendalikan pemberdayaan berbagai potensi sekolah dan lingkungan sekitar, serta mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat dan pemerintah.

Dalam KTSP, pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta komite sekolah dan dewan pendidikan. Badan ini merupakan lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat, komisi pendidikan pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), pejabat pendidikan daerah, kepala sekolah, tenaga pendidikan, perwakilan orang tua peserta didik, dan tokoh masyarakat. Lembaga inilah yang menetapkan segala kebijakan sekolah berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang pendidikan yang berlaku. Selanjutnya komite sekolah perlu merumuskan dan menetapkan implikasinya terhadap program-program kegiatan opersional untuk mencapai tujuan sekolah.

2) Tujuan KTSP

Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk mendirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara parsipatif dan pengembangan kurikulum.

Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP seperti yang dikemukakan oleh E. Mulyasa ( 2006 :22) adalah untuk:

a)      Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

b)      Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.

c)      Meningkatkan kompetisi yang sehat antara satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.

Memahami tujuan diatas, KTSP dapat dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru dalam pengembangan kurikulum dalam konteks otonomi daerah yang sedang digulirkan dewasa ini. Menurut Oleh karena itu, KTSP perlu  diterapkan oleh setiap satuan pendidikan, terutama berkaitan dengan tujuh hal sebagai berikut:

a)      Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat sedia untuk memajukan lembaganya.

b)      Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

c)      Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terkait bagi sekolahnya.

d)     Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat.

e)      Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran KTSP.

f)       Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.

g)      Sekolah dapat secara cepat merspon aspirasi masyarakat dan lingkungannya yang berubah dengan cepat, serta mengakomodasinya dalam KTSP

  1. Mulyasa (2006: 23)

 

3) Landasan pengembangan KTSP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dilandasi oleh Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah sebagai berikut:

a)      Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.

b)      Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

c)      Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.

d)     Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan

e)      Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23.

4) Prinsip pengembangan KTSP

Pengembangan KTSP mencakup pengembangan progaram tahunan, program semester, program modul (pokok bahasan), program mingguan dan harian, program pengayaan dan remidial, serta program bimbingan dan konseling.

a) Program tahunan

Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester, program mingguan, dan program harian atau program pembelajaran setiap kompetensi dasar.

Sumber-sumber yang dapat dijadikan bahan pengembangan program tahunan antara lain:

a.         Daftar kompetensi standar (standar competency) sebagai konsensus nasional, yang dikembangkan dalam silabus setiap mata pelajaran yang akan dikembangkan

b.         Ruang lingkup dan urutan kompetensi. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan materi pembelajaran. Materi pembelajaran tersebut disusun dalam topik/tema dan sub topik/sub tema, yang mengandung ide-ide pokok sesuai dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran. Topik dan sub topik tersebut harus jelas ruang lingkup dan urutannya. Pengembangan ruang lingkup dan urutan masing-masing guru mata pelajaran, dan biasa dikembangkan dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk setiap mata pelajaran.

c.         Kalender pendidikan. Penyusunan kalender pendidikan selama satu tahun mengacu pada efisiensi, efektifitas dan hak-hak peserta didik. Dalam kelender pendidikan dapat kita lihat berapa jam waktu yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, termasuk waktu libur, dan lain-lain. Dengan demikian, dalam menyusun program tahunan perlu memperhatikan kelender pendidikan. Hari belajar efektif dalam satu tahun pelajaran dilaksanakan dengan menggunakan sistem semester (satu tahun pelajaran terdiri atas dua kelompok penyelenggaraan pendidikan) yang terdiri atas 34 minggu.

Berdasarkan sumber-sumber tersebut, dapat ditetapkan dan dikembangkan jumlah kompetensi dasar, dan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan kompetensi dasar, jumlah ulangan, baik ulangan umum maupun ulangan harian, dan jumlah waktu cadangan.

b) Program semester

Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester ini merupakan penjabaran dari program tahunan. Pada umumnya program semester ini berisikan tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, waktu yang direncanakan, dan keterangan-keterangan.

c) Program mingguan dan harian

Untuk membantu kemajuan belajar peserta didik, di sampaikan bahwa modul perlu dikembangkan program mingguan dan harian. Program ini merupakan penjabaran dari program semester dan program modul. Melalui program ini dapat diketahui tujuan yang telah dicapai dan yang perlu diulang, bagi setiap peserta didik. Melalui program ini juga diidentifikasi kemajuan belajar setiap peserta didik, sehingga dapat diketahui peserta didik yang mendapat kesulitan dalam setiap modul yang dikerjakan, dan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata kelas. Bagi peserta didik yang cepat bisa diberikan pengayaan, sedangkan bagi yang lambat dilakukan pengulangan modul untuk mencapai tujuan yang belum dicapai dengan menggunakan waktu cadangan.

d) Program pengayaan dan remidial

Program ini merupakan pelengkap dan penjabaran dari program mingguan dan harian. Berdasarkan hasil analisis terhadap kegiatan belajar, dan terhadap tugas-tugas modul, hasil tes, dan ulangan dapat diperoleh tingkat kemampuan belajar setiap peserta didik. Hasil analisis ini dipandang dengan catatan-catatan yang ada pada program mingguan dan harian, untuk digunakan sebagai bahan tingkat lanjut proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Program ini mengidentifikasi modul yang perlu diulang, peserta didik yang wajib mengikuti remidial dan yang mengikuti program pengayaan.

Berdasarkan teori belajar tuntas, maka seorang peserta didik dipandang tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65 % dari seluruh tujuan pembelajaran. Sedangkan keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan minimal 65 %, sekurang-kurangnya 85 % dari jumlah peserta didik yang ada dikelas tersebut.

Sekolah perlu memberikan perlakuan khusus terhadap peserta didik yang mendapat kesulitan belajar melalui kegiatan remidial. Peserta didik yang cemerlang diberikan kesempatan untuk tetap mempertahankan kecepatan belajarnya melalui kegiatan pengayaan. Kedua program itu dilakukan oleh sekolah karena lebih mengetahui dan memahami kemajuan belajar setiap peserta didik.

e) Program pengembangan diri

Dalam pelaksanaan KTSP, sekolah berkewajiban memberikan program pengembangan diri melalui bimbingan dan konseling kepada peserta didik yag menyangkut pribadi, sosial, belajar dan karier. Selain guru pembimbing, guru mata pelajaran yang memenuhi kriteria pelayanan bimbingan dan konseling dan karier diperkenangkan menfungsikan diri sebagai guru pembimbing. Oleh karena itu, guru mata pelajaran harus senantiasa berdiskusi dan berkoordinasi dengan guru pembimbing dan konseling secara rutin dan berkesinambungan.

f) Komponen KTSP

Komponen-komponen KTSP meliputi:

a.       Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan

b.      Struktur dan Muatan KTSP

c.       Kalender Pendidikan

d.      Silabus

e.       RPP

3.   Program Pelatihan

a. Konsep Dasar Pelatihan

1)      Pelatihan adalah keseluruhan kegiatan untuk memberikan, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan kompetensi, produktivitas, disiplin, sikap dan etos kerja sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan.

2)      Pelatihan adalah keseluruhan isi pelatihan yang tersusun secara sistimatis dan memuat tentang kompetensi yang ingin dicapai yang meliputi, materi pelatihan teori dan praktek, jangka waktu, metode dan sarana, persyaratan peserta dan tenaga kepelatihan khususnya instruktur serta evaluasi dan penetapan kelulusan peserta pelatihan.

3)      Kurikulum pelatihan adalah kumpulan setiap mata latihan yang disusun secara sistimatis dan terpadu baik mata latihan teori dan praktek maupun mata latihan lainnya yang mendukung sehingga mengarah kepada tercapainya tujuan dan kualifikasi pelatihan yang ditetapkan.

4)      Silabus pelatihan adalah rincian materi pada mata latihan yang diuraikan secara sistimatis dan terpadu yang mengarah kepada tercapainya tujuan dan kualifikasi keterampilan yang ditetapkan.

5)      Kompetensi adalah kemampuan melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan menggunakan pengetahuan, keterampilan, keahlian dan sikap kerja yang meliputi kemampuan khusus, kemempuan sosial dan kemampuan individu

6)      Instruktur latihan adalah seseorang yang memiliki kualifikasi keterampilan atau keahlian dan kompetensi tertentu sehingga mampu memberikan pelatihan (mengajar) kepada peserta pelatihan sesuai dengan program atau tingkat yang ditetapkan

7)      Tenaga kepelatihan lainnya adalah sesorang yang memiliki kulifikasi keterampilan keahlian, kompetensi tertentu, sehingga mampu melaksanakan keseluruhan atau sebagai tugas-tugas :

a)      Mengadministrasikan pelatihan

b)      Merencanakan penyelenggaraan pelatihan

c)      Memasarkan dan memberikan penyuluhan pelatihan

d)     Mengelola dan memelihara sarana dan prasarana

e)      Memberikan konsultasi pelatihan

8)      fasilitas studio Ediitng : berfungsi untuk  mengolah  video hasil shooting  menjadi produk jadi, dengan kemasan animasi dan visual efect dan grafis. Berfungsi juga untuk finalisasi video dan duplicating. Multimedia video editing : Komputer  Double  Processor , Hardisk 1 tera, RAM 500, Video Capture Apid Express, Matrox RTX 1000, DVD Writer. Speaker Aktif, dll.Kamera Video Broadcast high quality : SONY / Canon XL-1, Panasonic 3CCD.Audio, Video, Mixer, dan Berbagai type Microphone.

9)      Sumber daya yang dibutuhkan untuk pengembangan produksi  video  diantaranya, Manajer  Produksi  yang  mengelola keseluruhan proses produksi, bersama staf marketing mendiseminasikan  program,  mengatur   budgeting,   mengatur   job   descripstion   crew  Scriptwriter : Bertugas untuk menghasilkan skript   pembelajaran  yang  layak, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran Sutradara :  Bertanggung jawab secara operasional untuk   menghasilkan produksi video  pembelajaran  yang sesuai  dengan tuntutan skenario,  mengatur dan  mengarahkan seluruh crew.  Kameraman: bertanggung jawab untuk menghasilkan gambar yang terbaik Editor: Bertanggung  jawab untuk  menyunting  gambar yang telah diambil di lapangan,  bersama  dengan  sutradara  menghasilkan  produk akhir.  Crew yang lainnya : soudman, wardobe, lightingman, properties, pencatat adegan dll.

10)  Dihasilkannya  produk  video  pembelajaran  yang  telah  melalui  proses  validasi content  spesialist  dan  media spesialis  yang  siap untuk digunakan di masyarakat dalam pembelajaran Luar sekolah. Karakteristik video yang  dihasilkan  yaitu :  kejelasan pesan, menarik minat siswa, memiliki unsur hiburan (tidak menjenuhkan), sarat dengan muatan ilmu dan pengetahuan

b.   Pengembangan Silabus

1). Pengertian Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

a)  Apa kompetensi yang harus dicapai siswa yang dirumuskan dalam standar

kompetensi, kompetensi dasar dan materi pokok;

b)   Bagaimana cara mencapainya yang dijabarkan dalam pengalaman belajar beserta alokasi waktu dan alat sera sumber belajar yang diperlukan; dan

c)   Bagaimana mengetahui pencapaian kompetensi yang ditandai dengan penyusunan indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.

2)   Pengembangan Silabus

Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendikan.

a)   Guru

Sebagai tenaga profesional yang memiliki tangung jawab langsung terhadap kemajuan belajar siswanya, seorang guru diharapkan mampu mengembangkan silabus sesuai dengan kompetensi mengajarnya secara mandiri. Di sisi lain guru lebih mengenal karakteristik siswa dan kondisi sekolah serta lingkungannya.

b)   Kelompok Guru

Apabila guru kelas atau guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru kelas atau guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut.

c)   Kelompok Kerja Guru (MGMP/PKG)

Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.

d)   Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Dalam pengembangan silabus ini, sekolah, kelompok kerja guru, atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, atau unit utama terkait yang ada di Depatemen Pendidikan Nasional.

3) Prinsip Pengembangan Silabus

a)   Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

b)   Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

c)   Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

d)   Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

e)   Memadai

Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

d)   Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

e)   Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

f)   Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

 

4)   Tahapan Pengembangan Silabus

a)   Perencanaan

Tim yang ditugaskan untuk menyusun silabus terlebih dahulu perlu mengumpulkan informasi dan mempersiapkan kepustakaan atau referensi yang sesuai untuk mengembangkan silabus. Pencarian informasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi seperti multi-media dan internet.

b)   Pelaksanaan

Dalam melaksanakan penyusunan silabus perlu memahami semua perangkat yang berhubungan dengan penyusunan silabus, seperti Standar isi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang bersangkutan dan Standar Kompetensi Lulusan serta Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

c) Perbaikan

Buram silabus perlu dikaji ulang sebelum digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pengkaji dapat terdiri atas para spesialis kurikulum, ahli mata pelajaran, ahli didaktik-metodik, ahli penilaian, psikolog, guru/instruktur, kepala sekolah, pengawas, staf profesional dinas pendidikan, perwakilan orang tua siswa, dan siswa itu sendiri.

d) Pemantapan

Masukan dari pengkajian ulang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk memperbaiki buram awal. Apabila telah memenuhi kriteria dengan cukup baik dapat segera disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan komunitas sekolah lainnya.

c.   Pengembangan Rencana pelaksanaan Pelatihan (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pelatihan (RPP) merupakan penjabaran dari silabus yang telah disusun pada langkah sebelumnya. Rencana Pelaksanaan Pelatihan (RPP) disusun untuk setiap kali pertemuan. Di dalam RPP tercermin kegiatan yang dilakukan oleh guru dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

a)   Komponen RPP adalah sebagai berikut:

1)      Tujuan Pembelajaran

2)      Materi Ajar

3)      Metode Pembelajaran

4)      Sumber Belajar

5)      Penilaian Hasil Belajar

Konsep pengembangan rencana pelaksanaan pelatihan (RPP) pada dasarnya hamper sama dengan konsep yang tertuang pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada umumnya. Pelatihan merupakan bentuk proses pembelajaran dan pembelajaranpun merupakan proses pelatihan, maka dari itu kedua konsep ini dipadukan menjadi satu sebab keduanya saling mengadopsi tujuan yang sama yaitu pencapaian kompetensi atau pencapaian tujuan pembelajaran yang optimal. Kedua konsep ini hampir tak ada bedanya karena masing-masing merupakan penjabaran dari sebuah silabus yang telah disusub sebelumnya. Maka dari itu penulis menggunakan isi konsep rencana pelaksaan pembelajaran (RPP) untuk dituangkan kedalam proses langkah-langkah pengembangan rencana pelaksanaan pelatihan (RPP)

Dalam rangka mengimplementasikan pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, tenaga pengajar harus menyusun Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan pegangan bagi guru/dosen aataupun instruktur dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar. Dalam menyusun RPP guru/dosen atau tenaga pengajar harus mencantumkan Standar Kompetensi yang memayungi  Kompetensi Dasar yang akan disusun dalam RPP-nya. Di dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran,Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian
1)   Langkah-langkah Penyusunan

a)      Mencantumkan identitas

(1)   Nama sekolah

(2)   MataPelajaran

(3)   Kelas/Semester

(4)   Standar Kompetensi

(5)   Kompetensi Dasar

(6)   Indikator

(7)   Alokasi Waktu

Catatan:

(1)   RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.

(2)   Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabusyang disusun oleh satuan pendidikan

(3)   Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.

 

b) Mencantumkan Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.

c) Mencantumkan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.

d) Mencantumkan Metode Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.

e) Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Akan tetapi, dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

f) Mencantumkan Sumber Belajar

Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan.  Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya,  sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

g) Mencantumkan Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat berbentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan  teknik tes tertulis uraian, ata unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubric penilaian.                      Setelah tersusun silabus, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran tersebut merupakan realisasi dari pengalaman belajar peserta didik yang telah ditentukan pada silabus pembelajaran terpadu. Komponennya terdiri atas: identitas mata pelajaran, Kompetensi Dasar, materi pokok beserta uraiannya, langkah pembelajaran, alat media yang digunakan, penilaian dan tindak lanjut, serta sumber bahan yang digunakan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: