• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Pada Chapter 1 . part 1 buku Models of teaching , dijelaskan bahwa social  models mengkombinasi antara belajar (learning) dan masyarakat (society) . kedudukannya kearah pengajaran dengan prilaku yang kooperatif (cooperative behavior) menstimulasi  tidak hanya secara social tapi juga intelektual, dan karenanya tugas interaksi social dapat di desain untuk meningkatkan studi akademik.

Sesuai dengan penekanan dan titik beratnya aplikasi model ini adalah untuk mengembangkan kecakapan individu pelajar dalam berhubungan dengan orang lain atau masyarakat. Individu siswa dalam hal ini dihadapkan oleh grtu dalam situasi yang demokratis  didorong untuk berprilaku produktif dalam bermasyarakat. Salah satu model yang mengutamakan interaksi antara siswa dalam situasi demokratis adalah model mengajar role playing[1]

karena banyak teori social yang tidak hanya berpotensi meningkatkan kemampuan rasional siswa tapi juga juga sudah menerbitkan pertanyaan serius  adekuat bentuk pendidikan yang  sudah ada disekolah..

 

PARTNERS IN LEARNING/BELAJAR DALAM BERKELOMPOK[2]

 

A. Skenario 1

 

Mary Hilltepper membuka tahun ajaran barunya pada kelas 10 dengan memberi tugas presentasi kepada siswanya 12 puisi yang diseleksi dari 100 puisi yang ada . dia membagi siswanya berpasangan, menyuruh mereka membaca dan mengklasifikasi puisi berdasar stuktur, bentuk dan tema., mereka bekerja sama dalam mengklasifikasi puisi, saling menyiapkan untuk saling berdiskusi di antara mereka dalam bentuk group, saling berdebat, kemudian proses model pembelajaran ini diikuti dengan beberapa tugas lain yang masih berhubungan, yaitu satu ditugasi memutuskan tema-tema yang saling berhubungan satu sama lain secara gaya dan struktur . yang lainnya membangun hipotesis tentang bagaimana penulis puisi megkombinasikan antara gaya dan tema serta struktur puisi mereka.

Mary mengorganisir kelasnya dalam metode belajar berpasangan (partnership based learning). tugas ini membangun tidak saja pengetahuan kognitif siswa tapi juga mempersiapkan siswa untuk menaikkan kerjasama dalam belajar siswa berikutnya. Menulis puisi atau  belajar tentang cerita pendek menjadi tingkat pembelajaran selanjutnya.

 

B. Skenario 2

 

Kelly Farmers, mengajar di kelas 5 . pada hari pertama tahun ajaran baru, dia membuka kelas dengan tersenyum dan mengajak siswanya untuk  belajar  tentang semua nama mereka dan dia mengatakan bahwa kita akan saling bekerja sama sepanjang tahun. “Let’s star by learning al our names and one of the ways we will be working together this year”.

Dia membagi meja dengan siswa yang berpasangan sebagai partner bekerja hari itu. Kelly menyuruh siswanya  yang sudah terbagi sebagai patner tersebut untuk bekerja sama membuat klasifikasi nama-nama temannya  dalam beberapa kategori .

Dalam beberapa menit mereka  sudah dapat mengklasifikasi nama-nama teman mereka, sebagai contoh, mereka menempatkan Nancy dan sally bersama karena mempunyai huruf Y pada akhir nama mereka,  menempatkan George dan Jerry bersama karena nama mereka terdengar sama pada awal kata.

Kelly sudah memulai tahun ajaran baru nya dengna mengorganisasi kerjasama siswa nya dalam bentuk metode belajar kooperatif “ cooperative  set”

 

TUJUAN COOPERATIVE  LEARNING COMMUNITIES (MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM KELOMPOK)

 

  1. Sinergi dari model kerjasama ini bisa lebih memotivasi siswa dari pada bekerja belajar  sendirian, menciptakan iklim kompetitif, meningkatkan integrasi sosial, perasaan saling berkoneksi membangun energi yang positif.
  2. Para anggota saling bekerjasama dalam grup satu sama lain, setiap pelajar saling Bantu bahu membahu menbantu.
  3. Interaksi sesama, membangun kemampuan kognitif  sama baiknya dengan kemampuan bersosial. Menciptakan lebih banyak activitas intelektual yang meningkatkan proses belajar  jika dibandingkan mereka belajar secara individu (solitary study).
  4. Kerjasama juga meningkatkan positif feeling terhadap sesama , mengurangi keterasingan, kesepian, membangun hubungan , meningkatkan pandangan yang baik terhadap orang lain.
  5. Kooperatif system meningkatkan percaya diri (self estem) bukan saja meningkatkan kemampuan belajar tapi juga meningkatkan feeling atau perasaan dihargai , diperhatikan oleh orang lain yang ada disekitarnya.
  6. Pelajar atau para siswa dapat merespon pengalamannya dalam tugas ini, mengembangkan kapasitas kerjanya agar lebih produktif, atau dengan kata lain, pelajar yang diberi kesempatan bekerja bersama akan lebih baik mendapatkan manfaat untuk kemampuan  umum mereka bersosial  .
  7. Pejajar , termasuk anak sekolah dasar dapat  belajar membangun kemampuannya bekerja sama.

 

D. CARA MEMBANGUN KERJASAMA

 

  1. TRAINING FOR COOPERATION (MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF)

 

Jumlah proporsi siswa dalam grup dapat menentukan berjalan atau tidaknya suatu kerjasama

Kebanyakan siswa  mudah untuk berkerjasama ketika tugas yang diberikan tersebut telah jelas, bagaimanapun pengembangan cara yang lebih efisien yang lebih jelas itu sangat penting. Ada beberapa cara untuk menolong pelajar agar lebih praktis dan efisien, dalam bentuk besar grup, keragamannya dan prakteknya.

Bila siswa belum berpengalaman dalam bekerja sama maka tempatkan mereka dalam jumlah yang kecil saja. Jumlah grup yang terdiri dari 2, 3 atau 4  biasanya yang paling umum digunakan. Jumlah anggota yang lebih dari 6 orang biasanya jadi kaku dan membutuhkan  kemampuan kepemimpinan  dimana siswa tidak dapat bekerja sama  satu sama lain, bila mereka tidak berpengalaman

 

 

  1. TRAINING FOR EFFICIENCY (BELAJAR EFISIENSI)

Kagan telah mengembangkan beberapa cara prosedur pembelajaran pada siswa dimana kerjasama menjadi tujuan , dimana semua siswa berpartisipasi secara equal, dalam menjalankan tugas.

Sebagai contoh ketika ada group yang ter diri dari 3 orang diberi tugas, maka, harus ada pembagian tugas yang merata agar, masing-masing siswa saling bekerja dan melengkapi, ada yang menjadi pembicara, ada yang menulis , ada yang mencari jawaban yang benar atau yang mengecek untuk jawaban bagi temannya sebagai pembicara.

 

  1. TRAINING FOR INTERDEPENCE (BELAJAR SALING MEMBUTUHKAN)

Belajar untuk saling membutuhkan adalah penting dalam berkerja sama , agar kerjasama bias saling efisien dan berperoses. Dengan saling membutuhkan akan timbul empaty, sehingga sebuah grup ini akan dapat berjalan dinamis, tercipta suasana yang berkembang dan bertanggung jawab.

 

  1. DIVISION OF LABOR: SPECIALIZATION (PEMBAGIAN KERJA)

Pembagian kerja merupakan prosedur untuk membantu siswa belajar bagaimana saling membantu diantara mereka. Setiap siswa memdapat kewajiban yang sama, sebagai contoh sebuah kelas sedang mempelajari tentang Africa, dibagai grup yang terdiri dari 4 orang siswa, 4 negara dipilh untuk dipelajari, satu  anggota dari tiap  anggota grup di beri tugas mencari tentang Negara tersebut, ada yang meringkasnya,ada yang menjadi tutor, ada yang mendapat tugas mengingatkan semua aspek data.

Prosedur ini disebut jigsaw, dengan demikian para siswa diajak untuk meningkatka kemampuannya , keterampilannya dalam pembagian tugas .dan bekerja sama.

 

5. KERJASAMA DAN MOTIVASI

Kerjasama akan membangun motivasi para siswa, mereka dapat lebih bergairah untuk belajar , karena mereka dapat mengaktualisasi diri, ketika motivasi itu berkembang dan motivasi yang terbangun secara internal , akan memberikan satu kekuatan yang meningkatkan tujuan dari maksud pembelajaran tersebut.

 

 

E. GROUP INVESTIGATION: BUILDING EDUCATION THROUGH THE DEMOCRATIC PROCESS (MEMBANGUN PEMBELAJARAN MELALUI PROSES DEMOKRASI)

SKENARIO 3

Debbie spychoyos guru kelas 11 mengajar mata pelajaran georgrafi memberikan data dari Komputer tentang 177 negara yang ada di dunia, setiap grup yang terdiri dari 4 siswa mennganalisa  20 negara, dan mencari korelasi antara populasi, perdapatan perkapita, angka kelahiran, angka harapan hidup, produksi pertanian, industri, transportasi system, pelayanan kesehatannya, hak-hak perempuan, dan hasil bumi tiap negara tersebut.

Grup-grup tersebut akhirnya mengemukakan banyak pendapat setelah mereka menganalisa data-data yang ada tiap Negara, seperti , pada beberapa Negara yang harapan hidupnya terpaut kurang samapai 20 tahun disbanding negera yang lain, bahwa Negara yang kaya mempunyai fasilitas militer yang lebih baik disbanding Negara yang miskin yang lebih mengutamakan pelayanan kesehatan,  bahwa hak asasi wanita tidak berhubungan dengan type suatu Negara, dan lain-lain.

Setelah semua analisa selesai dilakukan oleh para grup, Debby secara hati-hati mencatat semua hasil reaksi penganalisaan mereka dan mereka memutuskan untuk membaw semua hasil data dan kesimpulan yang mereka dapat dari hasil diskusi, mereka juga memutuskan bahwa apa yang mereka butuhkan untuk membuat sebuah hipotesis atas data yang mereka dapat

Ada siswa yang ingin tahi tentang pengaruh dan hubungan antara organisasi dunia /WHO dengan Negara-negara yang menjadi anggotanya.

Ketika begitu pertanyaan danb kesimpulan yang beraneka ragam timbul, maka guru mengajak mereka untuk meinvetarisir kembali, memprioritaskan apa yang ingin mereka gali kembali dan membagi kembali tugas tersebut.

 

Inilah yang dimaksud membangun pembelajaran dalam kelompok secara demokratis. Proses demokratis dalam bentuk kelompok pembelajaran walaupun memang sulit karena dibutuhkan seorang guru yang mempunyai standard qualifikasi dan keterampilan yang tinggi. Walaupun agak sulit dan menakutkan karena para gurum orang tua dan kepala sekolah malah menganggap metode ini malah akan jadi mandek.

Tapi bagaimanapun juga metode ini harus dicoba, untuk membangun kapasitas building belajar para siswa, agar menjadi lebih kreatif dan mandiri. Dipandu oleh guru-guru yang berpengalaman

 

F. THE PHILOSOPHICAL UNDERPINNINGS (dasar filosofi)

Dasar filosofi dalam pengembangan model demokrasi proses ini adalah John Dewey yang menulis “who wrote how we think tahun 1910, kemudian banyak teori yang kemudian muncul , membahas teori ini,  seperti tahun 1920 Charles Hubbard Judd yang menekankan pengetahuan akademis. Willian Heard Kilpatrick, yang beberapa tahun memjadi pembicara untuk progressive movement, menekankan social problem solving . George Counts menekankan tidak hanya problem solving tapi juga konstruktif masyarakat, tapi kemudian teori yang paling mendekati tentang demokrasi proses ini dibuat oleh Gordo H Hullfish dan Phillip G smith dalam buku Reflective thingking : Methode of Education, kedua penulis ini memberikan tekanan pada peran pendidikan dalam membangun kapasitas mengembangkan cara mengolah informasi dan konsep , nilainya dan kepercayaan.

Esensi fungsi dari demokrasi adalah dengan membahas definisi masalah, dan situasi masalah tersebut. Kemampuan membahas dengan orang lain atau bertukar pikiran dengan orang lain akan membatu seseorang dapat bertukap pikiran dengan dunianya.

 

G. ORIENTATION TO THE MODEL

1. Goals and assumption

John Dewey (1916) merekomendasi agar seluruh sekolah diorganisir sebagai miniature demokrasi, siswa-siswa berpartisipasi dalam mengembangkan sosial system , melalui pengalaman, secara berkesinambungan belajar dengan metode sains untuk mengembangkan sosial masyarakat dewey berpendapat untuk mempersiapkan warga Negara yang demokrasi, sehingga metode ini di gunakan untuk mewujudkannya.

John U Michaelis (1980) kemudian menyari dari formulasi dewey dalam mengajar siswa sekolah dasar. Pusat dari metode belajar ini sebagai kreasi dalam demokrasi grup dalam mengatasi masalah sosial secara siqnifikan

 

H. MODELS OF TEACHING

1.SYNTAX (LANGKAH-LANGKAH)

Dimulai dengan melempar masalah secara konfrontasi, masalah dapat secara verbal maupun pengalaman , sehingga siswa dapat terstimulasi bereaksi, mereka menjadi lebih  interes dalam berbagai reaksi terhadap permasalahan yang dihadapi, siswa kemudian mengadakan analisis data dan masalah , membahas dan membuat laporannya, akhirnya setiap kelompok mengevaluasi tujuan yang mendasar. Jadi terdapat siklus mulai dari mengulang sendiri, konfrontasi terhadap yang lain dengan problem yang baru dan berkembang menjadi sesuatu siklus activitas yang mandiri.

Fase 1. awalnya siswa masih bingung terhadap situasi banyak masalah yang muncul

Fase 2. siswa menyelidiki reaksi yang muncul dalam situasi tersebut

Fase 3. siswa memformulasi tugas dan mengorganisasi tugas (masalah, definisi, tugas)

Fase 4. mendiskusikan secara mandiri dalam grup

Fase 5. siswa analisis progres dan proses

Fase 6. siklus aktivitas

 

SUPORT SISTEM

Dalam merancan kelompok pembelajaran sekolah membutuhkan perpustakaan yang baik yang dapat menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan siswa, mereka harus distimulasi untuk selalu mencari ilmu pengetahuan.

 

I.INSTRUCTIONAL AND NURTURANT EFFECTS

GROUP INVESTIGATION MODEL/ MODEL KELOMPOK PEMBELAJARAN

Model pembelajaran ini cukup menyeluruh dan serba guna, dapat meramu tujuan akademik , social integrasi,  social proses learning.

Dengan  model pembelajaran berkelompok akan dihasilkan:[3]

  1. Rasa menghargai terhadap orang lain dan dapat menerima semua perbedaan (pruralism) yang ada (respect for dignity of all and commitment to prulism)
  2. Mempunyai kepercayaan diri sebagai seorang pelajar yang memang tugasnya adalah belajar (independence as a learner)
  3. kesanggupan bersosial (commitment to Social )
  4. mempunyai kepribadian yang hangat (interpersonal warmth and affiliation)
  5. kostruksi bagaimana kita memandang ilmu pengetahuan
  6. kedisiplinan dalam mencari
  7. efektivitas proses pembelajaran kelompok dan kepemimpinan

 

 

KESIMPULAN

Pendidikan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Tugas seorang pendidik atau guru , tidak hanya transfer of Knowlegde tapi juga dapat mengubah prilaku, memotivasi siswanya, memberikan dorongan yang positif (to acquirem to bond, to learn, to defend), mengatur suasana belajar yang menyenangkan, agar mereka bisa berkembang semaksimal mungkin. Guru tidak hanya mengolah otak siswanya tapi juga mengolah jiwa anak didiknya, bila seorang guru hanya mengolah otak tampa mempedulikan jiwa anak didiknya, alhasil mereka tumbuh menjadi manusia robot yang tidak berhati. Karena anak yang cerdas tidak hanya diukur dari nilai kelulusannya yang memuaskan tapi juga mempunyai ahklak yang baik , fungsi emosional dan motorik yang baik.

Pembelajaran yang efektif pada abad  ini menurut UNESCO harus diorientasikan pada  4 pilar yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

Walaupun model pembelajaran bukan satu-satunya alat dalam mendidik siswa, tapi guru harus mengetahui model-model pembelajaran sebagai bagian dalam perencanaan mengajarnya, agar siswa dapat memahami yang berikan oleh gurunya secara seksama. Model pembelajaran  adalah bantuan alat-alat yang mempermudah siswa relajar. Tujuan proses  mengajar secara ideal adalah agar bahan-bahan dipelajari  dikuasai murid sepenuhnya ini disebut Mastery Learning (belajar tuntas)

Mengajar adalah pemberian bimbingan  kepada siswa untuk belajar  atau menciptakan  lingkungan atau kemudahan bagi siswa untuk  melakukan kegiatan belajar. Disini guru berusaha memfungsikan seluruh sub system pengajaran dalam mencapai tujuan

Dalam metode ini kita mengenal belajar berkelompok yang sifatnya berpasangan dan pembelajaran yang terdiri dari 2, 3, 4 atau lebih siswa. Mereka diberikan tugas merata dan sama sehingga mereka dapat berperan serta dalam pembelajaran. Investigasi bersama membuat mereka merasa bahwa belajar menjadi lebih menyenangkan, mereka dapat termotivasi dalam menggali ilmu pengetahuan secara lebih mendalam, perasan lebih dihargai , membuat mereka lebih percaya diri.

Tujuan dari Cooperative Learning (model pembelajaran kooperatif) adalah:

(1) kerjasama ini bisa lebih memotivasi siswa dari pada hasil yang didapat ketika  belajar  sendirian, karena terciptanya iklim kompetitif, meningkatkan integrasi sosial, perasaan saling berkoneksi membangun energi yang positif. (2) Setiap pelajar saling bantu bahu membahu (3) tercipta  positif feeling terhadap sesama , mengurangi keterasingan, kesepian, membangun hubungan , meningkatkan pandangan yang baik terhadap orang lain dan juga (4) meningkatkan percaya diri (self estem) ,perasaan dihargai , diperhatikan oleh orang lain yang ada disekitarnya.

Langkah-langkah model  kooperatif learning

Fase 1. awalnya siswa masih bingung terhadap situasi banyak masalah yang muncul

Fase 2. siswa menyelidiki reaksi yang muncul dalam situasi tersebut

Fase 3. siswa memformulasi tugas dan mengorganisasi tugas (masalah, definisi, tugas)

Fase 4. mendiskusikan secara mandiri dalam grup

Fase 5. siswa analisis progres dan proses

Fase 6. siklus aktivitas

Tapi semua nya perlu memdapat support dari dukungan semua pihak baik guru, orang tua murid, kepala sekolah, juga bahan-bahan bacaan yang berkualitas yang disediakan melalui perpustakaan atau fasilitas internat yang ada.

Tidak mudah memang menghasilkan yang sempurna tapi kita mesti berihtiar dengan optimal. Dukungan pemerintah juga paling menentukan dalam menjembatani dan mensuport segala yang dibutuhkan bagi berkembangnya pendidikan , baik fasilitas maupun kesejahteraan bagi para guru.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bruce Joyce, Masha Weil , with Beverly Shower,  Models of teaching, 4 th  edition, Allyn and Bacon. USA.

Taufik Pasiak, Manajemen kecerdasan, mizan 2006

Drs. Syafaruddin, M.Pd, Drs Irwan Nasution, M.Sc. Manajemen Pembelajaran, Quantum Teaching,Jakarta  2005

Muhibbin Syah, M.Ed. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Rosda, Bandung 2005

 

 


[1] Muhibbin, Syah, M.Ed. Psikologi Pendidikan  dengan Pendekatan Baru, Rosda,  2005.  195

[2] Bruce Jones, dkk  op cit hal 29 – 31

[3] Bruce joyce dkk op cit 51

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: