• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Perkembangan Anak Menurut Teori Kognitif Dominan Piaget

Konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya—dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia,

  1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
  2. Periode pra-operasional (usia 2–7 tahun)
  3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
  4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

 

Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur,
  2. Universal (tidak terkait budaya)
  3. Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan,
  4. Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis,
  5. Urutan tahapan bersifat hierarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi),
  6. Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif.

Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini. Ada dua proses dalam proses perkembangan yaitu, Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label “burung” adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak. serta akomodasi, adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada.

Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label “burung” adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak. Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

Sehingga dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan kognitif yang sebagaian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini guru berperan sebagai seorang fasilitator dan berbagai sumber daya dapat digunakan sebagai pemberi informasi. Piaget, menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan yaitu;

  1. Memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan, dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan jika guru penuh perhatian terhadap pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud.
  2. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi (ready made knowledge) anak didorong menetukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
  3. Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan berbeda. Oleh karena itu guru harus melakukan upaya untuk mengatur aktifitas di dalam kelas yang terdiri atas individu-individu ke dalam kelompok-kelompok kecil siswa daripada aktifitas dalam bentuk klasikal.
  4. Mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan-gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung, namun perkembangannya dapat disimulasi.

 

MODEL PEMBELAJARAN YANG SESUAI DENGAN TEORI KOGNITIF DOMINAN PIAGET.

 

Manusia terlahir dengan kondisi pikiran yang sempurna. Saat lahir manusia hanya punya satu jenis pikiran yaitu pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar sudah aktif sempurna sejak bayi berusia tiga bulan di dalam kandungan ibunya dan merekam dengan sempurna semua peristiwa yang dialami ibunya, baik positif maupun negatif, dan juga apa yang ibu si bayi, alami atau rasakan. Pikiran bawah sadar terdiri atas dua bagian. Pertama, bagian yang disebut dengan pikiran nir-sadar atau unconscious mind, atau ada juga yang menyebutnya sebagai primitive area. Kedua, bagian yang disebut dengan modern memory area atau yang lebih dikenal dengan nama subconscious mind. Jika orang berkata atau bicara mengenai pikiran bawah sadar maka yang mereka maksud adalah modern memory area ini. Pikiran nir-sadar berisi berbagai program, yang “ditulis” oleh Sang Pencipta, untuk kelangsungan hidup kita. Program-program ini antara lain untuk menjalankan fungsi tubuh otonom, seperti pernapasan, detak jantung, pencernaan, sistem kekebalan tubuh, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kelangsungan hidup (survival). Bila di komputer, program-program di pikiran nir-sadar ini adalah BIOS atau Basic Input Ouput System. Tanpa BIOS komputer tidak akan bisa jalan. BIOS dibutuhkan untuk meng-instal Operating System (OS). Setelah OS selesai kita instal barulah kita meng-instal berbagai program aplikasi.

Teori kognitif menerangkan bahwa pembelajaran adalah perubahan dalam pengetahuan yang disimpan di dalam memori. Teori kognitif ini bermaksud penambahan pengetahuan ke dalam ingatan jangka panjang atau perubahan pada skema atau struktur pengetahuan. Pengkajian terhadap teori belajar kognitif memerlukan penggambaran tentang perhatian, memori dan elaborasi reheashal, pelacakan kembali, dan pembuatan informasi yang bermakna. Manusia memilih, mengamal, memberi perhatian, menghindar, merenung kembali dan membuat keputusan tentang peristiwa-peristiwa yang berlaku dalam persekitaran untuk mencapai matlamat secara aktif.

Pandangan kognitif yang lama mengutamakan perolehan pengetahuan. Pandangan yang baru mengutamakan pembinaan atau pembangunan ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran kognitif ini melibatkan dua proses mental yang penting yaitu persepsi dan pembentukan konsep (penanggapan).

Model mengajar menurut Joyce dan Weil dalam Sagala (2003:176) adalah suatu deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, desain unit-unit pelajaran dan pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku kerja, program multimedia, dan bantuan belajar melalui program komputer. Sebab model-model ini menyediakan alat-alat belajar yang diperlukan siswa. Hakekat mengajar (teaching) menurut Joyce dan Weil adalah membantu para pelajar memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan belajar bagaimana cara belajar. Hasil akhir atau hasil jangka panjang dari mengajar adalah kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar lebih mudah dan lebih efektif di masa yang akan datang. Model mengajar tidak hanya memiliki makna deskriptif dan kekinian, akan tetapi juga bermakna prospektif dan berorientasi ke masa depan.

Masalah utama yang ada dalam sistem pendidikan kita adalah sekolah yang masih menganut sistem skolastik. Yaitu belajar hanya terjadi di sekolah. Makna belajar telah mengalami peyorasi dalam anggapan masyarakat kita. Sekolah hanya berorientasi nilai dan informasi tidak kepada penanaman konsep. Pendekatan skolastik dalam pembelajaran mengakibatkan timbulnya pengkultusan pada aspek-aspek akademis yang cenderung memberikan tekanan pada perkembangan inteligensi hanya terbatas pada aspek nilai yang menyebabkan terjadi pereduksian. Kondisi inilah yang memicu terjadinya masalah-masalah sosial yang disebabkan karena lemahnya social capital, sehingga generasi muda kurang memperoleh bekal keterampilan untuk hidup.

Selain itu, guru pada umumnya hanya menyadari peranannya sebagai penerus dan penyebar pengetahuan (kennisoverdrager), dan kurang menyadari bahwa di samping itu guru juga harus membina kearifan murid melalui pendidikan nilai-nilai dan pemahaman apa yang mereka ketahui. Di-lain pihak, sistem pengujian kita yang menggunakan referensi norma, yang sangat mengagungkan penggunaan kurva distribusi normal atau kurva lonceng (bell curve).

Kurva distribusi normal ini mengharuskan ada 10% anak yang prestasinya rendah, 80% rata-rata, dan 10% yang berprestasi cemerlang. Tujuan kita mengajar siswa adalah agar siswa bisa menguasai apa yang diajarkan, tidak peduli apa cara yang digunakan asalkan sesuai dan tidak melanggar hukum dan norma agama dan sosial. Jika tujuan dari proses pembelajaran adalah untuk mencapai keberhasilan, mengapa kurvanya harus berbentuk lonceng mengapa tidak berupa garis lurus? Selain itu sistem ujian yang kebanyakan menggunakan sistem closed-book atau buku tertutup. Praktek ini didasari oleh asumsi bahwa kemampuan mengingat suatu pengetahuan jauh lebih berharga dari pada kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Ujian closed-book ditambah lagi murid tidak boleh kerja sama alias nyontek akhirnya sangat membebani anak didik. Tolong jangan salah mengerti. Saya juga tidak setuju bila anak menyontek. Tapi kalau memang bisa mengapa kita tidak mengajarkan cara belajar kolaborasi? Sistem closed-book mempunyai beberapa keburukan lainnya. Cara menguji seperti ini memberikan beban ekstra bagi anak didik. Anak didik yang sangat pintar dalam hal aplikasi akan mendapat nilai jelek bila ia lupa rumus atau definisi. Bila kita mengacu pada hirearki kognisi seseorang, sesuai dengan taksonomi Bloom, maka cara ujian seperti ini hanya mengajarkan anak untuk berpikir pada level yang rendah, level menghapal saja. Kita tidak mengajar anak berpikir pada level yang lebih tinggi yaitu analisa, sintesa dan evaluasi. Akibatnya peserta didik menjadi tidak kreatif dan inovatif dalam belajar. Padahal otak kita, yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, dirancang untuk berpikir namun sistem pendidikan telah mereduksi fungsi otak hanya sebagai mesin foto kopi.

Untuk memperbaiki keadaan ini diperlukan model-model baru dalam pembelajaran yang cocok dengan akar masalah yang dihadapi. Model-model yang cocok diterapkan berdasarkan teori kognotif dominan menurut Piaget, yaitu model yang bersifat bottom up atau kemitraan. Salah satu yang populer adalah model pembelajaran kuantum, model kooperatif, model problem-based learning, model learning environment, dll. Untuk mewujudkan keseluruhan proses hal yang paling baik yaitu dengan mengkolaborasi antar model pembelajaran yang mampu mengembangkan manusia seutuhnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: