• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Teori-Teori Belajar

Ada beberapa teori dalam belajar antara lain :

a. Teori Belajar Discovery Learning (Jerome Bruner)

Jerome Bruner menyebut teori ini discovery learning. Ide pokok dari teori Bruner diangkat dari teori Piaget yang mengatakan bahwa seseorang harus berperan aktif dalam belajar. Oleh karena itu Bruner menggambarkan discovery learning dengan pemberian kesempatan kepada seseorang untuk menjadi problem solver. Biarkan seseorang menemukan arti bagi dirinya sendiri dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep dalam bahasa mereka sendiri. Beberapa prinsip belajar menurut paham ini.

1) Adanya suatu kenaikan potensi intelektual

2) Ganjaran (hadiah) intrinsik lebih ditekankan dibandingkan dengan ekstrinsik

3) Seseorang yang mempelajari bagaimana menemukan berarti seseorang menguasai metode belajar penemuan

4)     Seseorang lebih senang mengingat-ingat informasi.

b. Teori Belajar Reception Learning (David Ausuble)

David Ausubel adalah orang yang satu-satunya mengkritik discavery learning. Dia mempersoalkan bahwa siswa tidak selalu tahu apa yang penting atau relevan,dan banyak siswa membutuhkan motivasi exsternal untuk melakukan tugas-tugas kognitif (Sri Esti W.D.,1989:85). Ia menyampaikan satu alternatif model pengajaran yang disebut reception learning. Ahli-ahli teori reception menyarankan bahwa tugas guru adalah bagiamana menyusun situasi belajar, memilih materi-materi yang tepat untuk siswa dan kemudian menyampaikan dalam bentuk pelajaran yang terorganisasi dengan baik, mulai dari yang umum ke hal yang khusus. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama adalah berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu di sajikan kepada siswa, melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan dimaksudkan adalah siswa menerima informasi atau materi pelajaran dalam bentuk sudah ”fixed” atau final. Sedangkan belajar penemuan dimaksudkan adalah siswa di harapakan dapat menemukan sendiri informasi atau konsep dari materi pelajaran yang disampaikan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada.struktur kognitif tersebut dapat berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi yang telah di peroleh atau bahkan dipahami sebelumnya oleh siswa. Jika siswa dapat mengaitkan materi pelajaran baru dengan struktur kognitif yang sudah ada, maka akan terjadi proses belajar makna. Akan tetapi jika di dalam diri siswa belum ada struktur kognitif yang mendasari pembelajaran baru atau siswa tidak dapat mengkaitkan pembelajaran baru dengan konsep-konsep yang telah ada maka yang terjadi hanyalah belajar hafalan.

Kedua dimensi, baik ditinjau dari bagaimana cara materi pelajaran disampaikan maupun bagaimana cara siswa belajar tidak merupakan sesuatu hal yang dikotomi. Jadi kita tidak dapat mengatakan suatu proses belajar mengajar itu 100% penemuan atau penerimaan. Kita hanya dapat mengatakan sejauh mana kadar ”penemuan” atau kadar ”Penerimaan” dari suatu proses belajar mengajar.

Teori dari Ausubel ini berkaitan dengan bagaimana individu belajar banyak dari lisan berarti materi / tekstual presentasi di sekolah pengaturan (kontras untuk mengembangkan teori dalam konteks laboratorium percobaan). Menurut Ausubel, belajar adalah berdasarkan jenis superordinate, representational, dan atas kombinasi yang terjadi selama proses penerimaan informasi. Proses utama dalam proses belajar adalah subsumption bahan baru yang berkaitan dengan ide-ide yang relevan dalam struktur kognitif yang ada pada substantif, verbatim non-dasar. Struktur kognitif menampilkan sisa dari semua pengalaman belajar; lupa terjadi karena beberapa rincian mendapatkan terpadu dan kehilangan identitas masing-masing.

Mekanisme instruksional utama yang diusulkan oleh Ausubel adalah penggunaan advance organizers  : “Penyelenggara ini  diperkenalkan pada belajar itu sendiri, dan juga disajikan di tingkat yang lebih tinggi dari abstrak, umum, dan inklusif; sejak substantif dan konten yang diberikan panitia penyelenggara atau serangkaian dipilih berdasarkan dengan kesesuaian untuk menjelaskan , integrasi, dan interrelating bahan mendahului mereka, sekaligus strategi ini memenuhi substantif serta pemrograman kriteria organisasi untuk meningkatkan kekuatan struktur kognitif. ” ( 1963 , p. 81).

Ausubel menekankan bahwa advance organizers yang berbeda dari overviews dan ringkasan yang cukup penting menekankan ide dan disajikan pada tingkat abstrak dan umum sebagai sisa bahan. Penyelenggara bertindak sebagai jembatan antara subsuming baru belajar dan materi yang berhubungan dengan ide-ide yang ada.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: