• RSS Tulisan Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

PERKEMBANGAN DISIPLIN ANAK TK

A. Pengertian Disiplin

Konsep populer dari disiplin adalah sama dengan hukuman  (Kanto,  1998: 7). Menurut konsep ini, disiplin digunakan hanya bila anak melanggar peraturan dan perintah yang diberikan orang tua, guru atau orang dewasa yang berwenang mengatur kehidupan bermasyarakat, tempat anal itu tinggal. Jika kita beranggapan demikian, maka akibatya, bahwa seorang berdisiplin yang baik adalah adalah orang yang menggunakan hukuman untuk  menghalangi perilaku yang salah atau untuk mengajar anak tentang apa yang diterima dan yang tidak diterima oleh kelompok sosialnya. Pendisiplin yakin bahwa semakin sosial perilaku mereka, semakin berat hukuman yang diberikan. Cara terbaik untuk mengajar anak bersikap sesuai dengan harapan sosial, yaitu dengan membuat perilaku yang tidak disetujui, tidak menarik sehingga anak menghindarinya dan mengalihkan energinya ke perilaku yang disetujui. Mereka yang berpendirian demikian, yakin hukuman badnlah akan mencapai tujuan pendidikan.

Pendapat lain tentang disipilin menyatakan bahwa disiplin ialah orang yang belajar dari atau secara suka rela mengikuti seorang pemimpin. Anak yang berdisipilin diri dimaksudkan sebagai keteraturan perilaku berdasarkan nilai moral yang telah mempribadi dalam dirinya tanpa tekanan atau dorongan dari faktor eksternal. Menurut Gnagey (Shochib, 1998: 21) menyatakan bahwa “disipilin diri anak merupakan produk disiplin”. Sementara itu Madson (Shochib, 1998: 21) mengemukakan bahwa “kepemilikan disiplin memerlukan proses belajar. Dan pada awal proses belajar inilah memerlukan kehadiran orangtua. Hal ini dapat dilakukan dengan cara 1) melatih, 2) membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai berdasrkan acuan moral, 3) diperlukan juga kontrol untuk mengembangkannya.

Ketiga upaya ini digunakan kontrol eksternal. Kontrol yang bersonansi demokrasi dan keterbukaan ini memudahkan anak unutk menginternalisasi nilai-nilai moral. Kontrol eksternal ini dapat menci[takan dunuia kebersamaan yang menjadi syarat esensial terjadinya penghayatan bersama antara orang tua dan anak.

Kontrol internal merupakan kontrol diri yang digunakan anak dalam mengarahkan perilakunya. Disiplin ini merupakan perilaku yang dapat ditertanggung jawabkan karena kontrol oleh nilai-nilai moral yang terinternalisasi.

Kemudian menurut Kamus Besar Indonesia (1998) mengandung arti “1 tata tertib (di sekolah, kemiliteran, dsb) 2. Ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan, tata tertib, dsb”. Dari segi etimologinya disiplin menurut Liang Gie (Martoenoes, 1998: 2) yaitu berasal dari bahasa Yunani yaoitu disciple yang mengandung makna pengikut atau penganut. Berdasarkan makna dari segi etimologi ini, disiplin diartikan sebagai suatu keadaan tertib di mana orang-orang yang bergabung dalam suatu oragnisasi tunduk pada peraturan-peraturan.

B.     Unsur-unsur Disiplim

  1. Konsep-konsep Tentang Disiplin

Berkaitan dengan bentuk disiplin serta bagaimana proses terbentuknya, terdapat berbagai pendapat atau pandangan. S Nasution (Martonoes, 1998: 4) menyebutkan “adanya dua pandangan, yaitu pandangan (pendirian) lama dan panfangan (pendirian baru (modern)”.

Pandangan lama mengartikan disiplin sebabai bentuk kepatuhan yang disebabkan karena adanya pengawasan atau otoritas dari pihak luar (dalam hal ini guru). Menurut pendirian lama adalah “usaha untuk mengatur dan mengontrol kelakukan anak untuk mencapai tujuan pendidikan”.(Maroenoes , 1998: 4). Pandangan lama atau modern diartikan bahwa disiplin bukanlah keatuhan lahiriah, bukanlah paksaan, dan bukanlah ketaatan pada otoritas untuk melaksanakan suatu perintah. Disipilin menurut pandangan modern pada dasarnya membutuhkan rasa tanggung jawab dari siswa untuk melaksanakan sesuatu yang baik berdasarkan kematangan rasa sosial.

Dalam konteks ini terdapat tiga konsepsi disiplin, yaitu, otoritar, liberal, dan kebebasan terbimbing.

1)      Otoriter

Dalam hal ini memandang bahwa disiplin yang baik adalah suatu suasana di mana anak duduk dengan tenang sambil terus memperhatikan guru. Pihak yang mendisiplikan terus mengawasi secara keras, dan jika perlu menggunakan tangan besi demi tegaknya aturan-aturan kelas.

2)      Liberal

Menekankan perlunya anak diberikan kebebasan sepenuuhnya dalam bertingkah laku, persoalan disiplin, dengan demiakain dipandang sebagai urusan anak, yang tidak perlu dicampuri oleh pihak laian. Menurut konsep ini setiap anak diharapkan akan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

3)      Kebebasan Terbimbing

Kebebasan terbimbing berpandangan bahwa anak seyogyanya diberikan kebebasan yang tembimbing dan terkontrol. Dalam arti bahwa anak bertingkah laku bukan karena dipaksa dari luar melainkan karena keinsyafan.

  1. Jenis-jenis Disiplin

Terdapat tiga cara umum yang digunakan untuk mendisiplikan anak-anak.

1)      Dispilin Otoriter

Dalam disiplin yang bersifa otoriter, orang tua dan pengasuh yang lain menetapkan peraturan-peraturan dan memberitahukan anak bahwa, ia harus mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Tidak ada usaha untuk menjelaskan kepada anak, mengapa ia harus patuh dan kepadanya tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat tentang adil tidaknya peraturan-peraturan itu masuk akal atau tidak

 

2) Displin Bebas

Filsafat yang mendasari teknik disiplin ini adalah bahwa melalui akibat dari perbuatannya sendiri anak akan belajar bagaimana berperilaku secara sosial. Dengan demikian anak tidak diajarkan peraturan peraturan, ia tidak dihukum karena sengaja melanggar peraturan, juga tidak ada hadiah bagi anak yang berperilaku sosial baik.

3) Displin Demokrasi

Perinsip disiplin ini menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa peraturan-peraturan dibuat dan memperoleh kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa peraturan itu tidak adil. Diusakan agar anak mengerti apa arti peraturan-peraturan dan mengapa kelompok sosial mengharapkan anak mematuhi peraturan-peraturan itu.

 

C. Perlunya disiplin anak TK

Setidaknya terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan upaya orang tua dalam membantu anak untuk mengembangkan disiplin diri. Antara lain adalah 1) penataaan lingkungan fisik, 2) penataan lingkungan sosial, 3) penataan lingkungan pendidikan, 4) dialog-dialog keluarga

1.      Penataan Lingkungan Fisik

Konteks ini dipahami bahwa penataan lingkungan fisik keluaga bertujuan untuk menyingkap nilai-nilai moral yang diapresiasikan anak terhadap bantuan yang diberikan orang tua kepada anaknya agar memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.

Keakraban dengan nilai moral dasar juga tampak dengan adanya ruangan musola yang ditempatkan berhadapan dengan ruang keluarga, kamar makan, dapur dan dekat dekat dengan kamar mereka. Penataan ini bertujuan agar kontrol terhadap perilaku-perilaku anaknya dapat dilakukan secara fungsional. Ketersedian perangkat salat untuk masing-masing anggota keluarga, seperti Al-qur’an, buku-buku agama yang diperuntukkan unutk dibaca anak-anak dan buku-buku agama yang dipergunakan unutk orang tua, hiasan-hiasan dinding di musola dan di ruang keluarga yang mencerminkan nafas keagamaan, juga mempermudah terciptanya keutuhan keluarga.

Kondisi dan situasi di dalam rumah  yang mencerminkan realisasi nilai moral dasar juga terlihat dengan adanya sandal untuk didalam rumah yang khusus di pergunakan untuk salat. Munculnya motifasi untuk belajar dan memiliki nilai-nilai dasar dapat diaplikasikan setia hari.

Anak-anak juga menghayati keakraban dengan nilai moral kebersihan dan keteraturan. Mereka mengatur rapi ruang tidur, menempatkan pakaian di lemari berdasarkan fungsinya, menempatkan peralatan-peralatan salat pada tempat masing-masing jika telah selesai melakukan salat, serta mengatur dan membersihkan ruangan. Perbuatan-perbuatan tersebut tetap mereka lakukan walaupun kedua orang tua tidak ada dirumah

Penataan fisik lingkungan seyogyanya yang mencerminkan nilai moral demokrasi, tampak dalam penataan dan pengaturan barang-barang scara ajek pula mereka melakukan dialog  dengan anak-anak sehingga apa yang merekak lakukan diputuskan bersama. Berdasarkan keputusan tersebut, semua anggota kelurga berkewajiban unutk mematuhinya.

Fakta ini menunjukkan baha pengaturan ruang fisik dalam keluarga dapat digunakan unutk mengupayakan nilai moral demokrasi. Penghayatan anak-anak terhadap hasil tersebut dapat dibaca dari perilaku-perilaku mereka dalam menjaga kebersihan ruangan, melakukan tindak belajar, mengembangkan nilai moral dasar, serta penciptaan suasana yang tenteram dalam kelurga.

 

2.      Penataan lingkungan sosial

Interpretasi terhadap penataan lingkungan sosial internal bertujuan menyingkap nilai-nilai yang diapresiasi anak dalam menerima bantuan orang tuanya untuk memilki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.

Komunikasi yang efektif dengan anak disebut komunikasi dialogis. Komunikasi dialogis dilakukan dengan dialog-dialog yang penuh kehangatan dan keakraban dengan anak-anaknya. Dengan kominikasi dialogis, dunia anak dapat dibaca oleh orang tua sehingga mereka dapat menjelaskan kepada anak tujuan yang diinginkan untuk kepentingannya. Orang tua dapat menjelaskan tujuannya unutk diterima secara rasional oleh anak. Anak yang menerima secara rasional tersebut dapat mengapresiasi upaya orang tuanya.

Realitas ini menunjukkan suasana keluarga yang sangat demokratis. Suasana demokrasi dalam keluarga sebagai unsur esensi dalam kedekatan dan keakraban untuk melakukan hubungan antar anggota keluarga, merupakan persyaratan adanya dunia bersama.

Penghayatan anak-anak terhadap hal tersebut merupakan bimbingan, arahan, dan bantuan unutk semakin mendekatkan dan mengakrabkan mereka dengan nilai-nilai yang tampak dari realitas dalam perilaku kesehariannya. Mereka belajar kurang lebih 2,5 jam sehari meskipun orang tua tidak ada dirumah. Mereka serius dalam belajar dan dalam mengikuti pelajaran privat. Di samping itu, nilai rapor mereka berkisar pada urutan kesatu sampai ketiga ini merupakan prestasi yang  gemilang karena mereka sekolah di sekolah pavorit.

Anak-anak semakin dekat dan akrab dengan nilai-nilai ekonomi yang disuburkan oleh kemampuan orang tua untuk melibatkan anak secara langsung  dalam usaha yang di tekuni ( ibunya) pada saat anak-anak libur dan waktu luang. Pemberian uang saku dilakukan dalam satu bulan sekali. Anak diharapkan mampu mengaturnya sendiri. Masing-masing anak di beri buku tabanas dan dilatih unutk menabung di bawah pengawasan orang tua.

Anak-anak menghayati kedekatan dan keakraban dengan nilai moral ekonomi. Hal ini tampak dalam realitas perilaku kesehariannya, seperti  mampu mengatur uang saku yang diberikan  setiap bulan, konsistensi dalam menabung di bank, keseriusan dalam membantu ibunya untuk menggeluti usaha, dan kesadaran terhadap perilaku orang tua unutk mencari keuangan keluarga demi kepentingannya. Anak-anak merealisasikannya dengan belajar secara serius.

Interpretasi terhadap penataan lingkungan sosial eksternal bertujuan menyingkap nilai-nilai yang diapresiasikan anak dalam menerima bantuan orang tuanya untuk memiliki dan mengembangkan disiplin diri. Penataan lingkungan sosial internal dalam keluarga adalah merupakan motivasi badi anak. Mereka merasakan sebagai bantuan karena adanya suasan keakraban di antara orang tua dengan anak.

D. Dampak Displin pada anak TK

Secara umum pendididkan anak dapat dibagi ke dalam dua bagian yakni pola asuh yang bersifat otoriter dan pola asuh yang bersifa demokratis. Akan tetapi yang berkaitan dengan pengembangan disiplin anak, setidaknya terdapat tiga varian yang akan dibahas pada bagian anak, yaitu, mendisiplin anak secara otoriter, mendisiplin anak secara permisif, dan mendisiplinkan anak secara demokratis.

1.      Mendisipilinkan anak secara otoriter

Di masa lalu, hanya cara ini yang digunakan untuk mendisiplikan anak. Cara ini didasari keyakinan bahwa orang tua adalah orang yang mengetahui apa yang terbaik bagi anaknya dan sikap bahwa yang menghemat tongkat akan merusak anak. Menurut Matoenoes (1998: 25) bahwa :

Melalu cara ini peraturan dan pengaturan yang keras digunakan untuk tujuan membentuk perilaku yang diinginkan orang tua dan guru pada anak. Anak akan mendapat hukuman yang berat bila gagal memenuhi standar perilaku yang ditentukan oleh orang tua atau guru. Sebaliknya sedikit atau sama sekali tidak mendapat pujian jika berhasil memenuhi standar perilaku yang diharapkan.

 

Pengendalian perilaku anak dilakukan melalui kekuatan dari luar dalam bentuk hukuman, terutama hukuman fisik atau badan. Disiplin otoriter ini berkisar antara yang masih dikatakan wajar dengan sangat kaku.

Orang tua atau guru yang menerapkan teknik ini secara kaku, cenderung tidak mempertimbangkan usia anak. Akibat dari itu anak yang dididik dengan disipilin otoriter juga cenderung mengembangkan kepribadain yang kurang positif. Ia akan sulit menjalin hubungan dengan orang lain terutama orang-orang yang mempunyai kekuatan besar seperti orang tua atau guru. Mereka juga sering belajar menjadi licik, tidak jujur dan cenderung tertutup. Sifat ini berkembang karena anak berusaha menghindari hukuman bila mereka menentang orang tua atau guru atau melanggar disiplin yang ditentukan oleh orang tua atau guru. Dampak lain yang ditimbulkan adalah munculnya sikap submisif (tunduk pada orang lain) dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya.

2.      Mendisiplinkan anak secara permisif

Anak menjadi sulit  menyesuaikan diri dan hal ini akan semakin terasa dengan usianya, yang berarti anak mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadianya. Perilakunya menjadi tidak sesuai dengan usianya, yang berarti anak mengalami hambatan da;am perkembangan kepribadiannya. Perilaku yang semakin hari semakin sulit diterima, karena tidak sesuai dengan harapan dan standar sosial yang berlaku dimasyarakatnya, menyebabkan ia sering mendapat mendapat kritikan, hukuman, kecaman, dari orang dewasa lain atau teman-temannya yang tidak bersedia memperlakukannya dengan cara permisif seperti yangdi perolehnya dari orang tua. Bahkan orang tuanya yang pada awalnya menerima perilaku anak apa adanya, semakin hari semakin merasa kewalahan dan pada akhirnya tidak mau lagi  menerima perilaku anak tersebut. Dalam banyak kejadian orangtua bersikap kurang bijaksana, mereka juga tidak  menyadari bahwa mereka turut andil besar dalam terbentuknya perilaku negatif anak tersebut. Tetapi setelah mereka sendiri merasa kewalahan menghadapinya, mereka tidak dapat menerima dan menuntuk anak berperilaku seperti yang diharapkan oleh lingkungan sosialnya, dalam hal ini orang tua menjadi sangat tidak realistis, karena sebenarnya merasa tidak pernah mengajar anak untuk berperilaku sesuai standar sosialnya.

Anak yang dibesarkan dengan cara permisif ini cenderung berkembang menjadi anak yang ragu-ragu, cemas, kepercayaan dirinya tidak terbentuk  dengan kuat dan sulit mengendalikan diri. Ambangfrustasinya rendah, tidak tahan menghadapi kekerasan dan situasi yang agak keras, selalu butuh bantuan dan dukungan mental dari orang lain, mudah menyerah dan putus asa. Namun dibalik kelemahan segi pribadinya tersebut dalm menghadapi situasi yangmenekan reaksinya menjadi sangat agresif, yang dilakukan untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut.

3.      Mendisiplinkan anak secara demokratis

Disiplin demokratis adalah penggabungan yang baik dari cara mendisiplinkan yang otoriter dan permisif. Cara ini terbukti sebagai cara pendisiplinan yang paling baik, dan menghasilkan sikap, perilaku yang matang. Walaupun diakui sebagai cara terbaik, tetapi tidak secara otomatis menjamin bahwa semua orangtua akan menggunakannya, karena penerapannya tidaklah mudah.

Cara ini dilakukan dengan menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran unutk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan untukmembantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu daharapkan dan yang lain tidak. Pada anak yang masih kecil, penjelasan tentang suatu peraturan atau bentuk perilaku yang dianggap salah atau benar disampaikan dalam bentuk kata-kata yangdapat dimengerti oleh anak. Tidak jaranghal tersebut diikuti pula dengan peragaan, contoh konkret atau pengalaman langsung yang dirasakan oleh anak.

Menurut Erikson (Sujanto, 1996: 65) perkembangan manusia melewati suatu proses dialektik yang harus dilalui dan hasil dari proses dialektik ini adalah salah satu dari kekuatan dasar manusia yaitu harapan, kemauan, hasrat, kompetensi, cinta, perhatian, kesetiaan dan kebijaksanaan. Perjuangan di antara dua kutub ini meliputi proses di dalam diri individu (psikologis) dan proses di luar diri individu (sosial). Dengan demikian, perkembangan yang terjadi adalah suatu proses adaptasi aktif.

Sesuai dengan konsep anak sebagai individu, perkembangan juga merupakan suatu proses yang sifatnya menyeluruh (holistik). Maksudnya bahwa perkembangan itu terjadi tidak hanya dalam aspek yang saling terjalin (interwoven) satu sama lain. (Rohman Wahab 1999:15). Secara garis besar, proses perkembangan sosial dapat dikelompokan ke dalam tiga domain; proses biologis, kognitif, dan psikososial (Santrock dan Yussen, 1992; Seifert dan Hoffnung, 1991). Ketiga domain proses perkembangan tersebut merupakan sesuatu yang terpadu dan saling berpengaruh satu sama lain.

Proses-proses biologis atau perkembangan fisik mencakup perubahan-perubahan dalam tubuh individu seperti pertumbuhan otak, otot, sistem saraf, struktur tulang, hormon, organ-organ indrawi, dan sejenisnya. Selain dari pada yang termasuk perkembangan biologis adalah perubahan-perubahan dalam cara menggunakan tubuh atau keterampilan motorik, perkembangan seksual, dan perubahan dalam kemampuan fisik.

Proses kognitif melibatkan perubahan-perubahan dalam kemampuan dan pola berfikir, kemahiran berbahasa, dan cara individu memperoleh pengetahuan dari lingkungannya. Aktivitas-aktivitas seperti mengamati dan mengklasifikasikan benda-benda, menyatukan beberapa kata menjadi satu kalimat, menghafal sajak atau doa, memecahkan soal-soal matematika, dan menceritakan pengalaman, merefleksikan peran merupakan proses kognitif dalam perkembangan anak.

Perkembangan kognitif perlu dibedakan dengan perubahan dalam arti belajar. Perkembangan kognitif mengacu kepada perubahan-perubahan penting dalam pola dan kemampuan berfikir serta kemahiran berbahasa, tetapi belajar cenderung lebih terbatas pada perubahan-perubahan sebagai hasil dari pengalaman atau peristiwa yang relatif spesifik. Selain itu, perubahan-perubahan yang dipelajari seringkali dipelajari dalam waktu yang singkat, tetapi perkembangan kognitif terjadi dalam kurun waktu yang relatif lama. Perkembangan kognitif anak dan pengalaman belajar ini sangat erat kaitannya dan saling berpengaruh satu sama lain. Yaitu perkembangan kognitif anak akan menfasilitasi atau membatasi kemampuan belajar anak, sebaliknya pengalaman belajar anak akansangat menfasilitasi perkembangan kognitifnya.

Proses-proses psikososial melibatkan perubahan-perubahan dalam aspek perasaan, emosi, dan kepribadian individu serta cara yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain. Dengan demikian perkembangan identitas diri (self identity) dan krisis-krisis yang menyertainya serta perkembangan cara dan pola hubungan dengan anggota keluarga, teman sebaya, guru-guru, dan yang lainnya dapat dikelompokkan ke dalam domain perkembangan ini. Contoh dari proses-proses, psikososial antara lain: perilaku agresif anak terhadap teman bermain, rasa percaya diri dan keberanian anak, juga perkembangan hubungan pertemanan di antara anak.

Pengelompokan aspek perkembangan anak sebagai individu menJ’adi 3 domain di atas memberikan suatu gambaran bahwa ketiga domain tersebut, proses biologis, proses kognitif, serta proses psikososial saling berpengaruh satu sama lainnya serta secara terpadu dan menyeluruh membentuk suatu karakteristik individu yang unik yang membedakan dengan individu yang lainnya.

Berkaitan dengan hal ini anak sebagai individu yang unik dapat dibedakan dengan orang dewasa dalam segala aspek bukan hanya aspek fisik saja melainkan keseluruhan aspek dalam dirinya sehingga anak bukan miniaturnya orang dewasa.

Secara fisik anak sedang mengalami pertumbuhan yang pesat sedangkan pada orang dewasa proses pertumbuhan fisik relatif tak berkembang lagi, demikian juga secara kognitif pola fikir seorang anak masih terbatas pada hal-hal yang kongkret tak seperti orang dewasa yang sudah mampu berfikir abstrak, dari segi emosional seorang anak tentunya masih bersifat egosentris sedangkan orang dewasa lebih mampu berfikir empatik dan sosial.

Pembahasan mengenai perbedaan anak sebagai pribadi yang unik akan lebih jelas bila dikaji lebih dalam mengenai bidang-bidang perbedaannya. Di dalam diri individu terdapat perbedaan dalam bermacam-macam aspek dari keseluruhan kepribadiannya. Tetapi karena tidak ada satu sifatpun yang berdiri sendiri, berfungsinya satu sifat akan mempengaruhi keseluruhan pola tingkah laku individu. Sebagai contoh, seorang anak yang telah mengetahui makna tentang kerajinan bagi dirinya dan orang lain, anak tersebut akan mempraktekan berbuat rajin di sekolah maupun di rumah

Carry (Kohlberg, 1995:317) mengkategori-kan perbedaan individual ke dalam bidang-bidang berikut:

1)        Perbedaan fisik; usia, tinggi dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, kemampuan bertindak.

2)        Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga, suku.

3)        Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.

4)        Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar.

5)        Perbedaan kecakapan dan kepandaian di sekolah.

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Gak ada gunanya blog ini pak klo gak ada dicantumkan referensi bukunya. Makasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: